Oleh: Dr. Adian Husaini*

MENYUSUL kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS, situs pikiran-rakyat.com menulis berita berjudul “Joe Biden Menang, Kaum LGBT Sedunia Bersukaria”. (Lihat: https://deskjabar.pikiran-rakyat.com/ragam/pr-113927667/joe-biden-memang-kaum-lgbt-sedunia-bersukaria).

Disebutkan, bahwa kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) dunia bersukaria dengan kemenangan Joe Biden. Sabtu, 7 November 2020, atau Ahad 8 November 2020 waktu Indonesia, Joe Biden menyapa para gay dan transgender Amerika dalam pidato kemenangannya.

“Saya bangga dengan koalisi yang kami kumpulkan, yang paling luas dan paling beragam dalam sejarah, “kata Biden,” Demokrat, Republik, dan Independen. Progresif, moderat dan konservatif. Tua dan muda. Perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan. Gay, straight, transgender. Putih. Latino. Asia. Penduduk asli Amerika. ”

Joe Biden berjanji akan mengesahkan Undang-Undang Kesetaraan dalam 100 hari pertamanya sebagai presiden. Ia akan meluncurkan undang-undang penting yang akan melarang diskriminasi dalam pekerjaan, perumahan, pendidikan, pendanaan federal, kredit, dan sistem juri.

*****

Kesukacitaan kaum LGBT atas kemenangan Joe Biden memang beralasan. Kubu Partai Demokrat selama ini dikenal lebih akomodatif terhadap aspirasi kaum LGBT. Bahkan, saat menjadi Wakil Presiden (Presiden Barack Obama), pada 22 Mei 2013, Joe Biden memberikan pujian kepada tokoh-tokoh Yahudi yang telah berjasa dalam mengubah persepsi bangsa AS tentang perkawinan sejenis.

Harian Israel, Haaretz menulis sebuah berita berjudul: “Biden: Jewish leaders drove gay marriage changes”. Dikatakan, bahwa, “Vice President Joe Biden is praising Jewish leaders for helping change American attitudes about gay marriage and other issues. Biden says culture and arts change people’s attitudes. He cites social media and the old NBC TV series “Will and Grace” as examples of what helped changed attitudes on gay marriage. Biden says, quote, “Think … behind of all that, I bet you 85 percent of those changes, whether it’s in Hollywood or social media, are a consequence of Jewish leaders in the industry.” Biden says the influence is immense and that those changes have been for the good.”

Pernyataan Joe Biden itu tidak dapat dipandang enteng. Bahwa, para tokoh Yahudi-lah yang telah mendorong terjadinya perubahan sikap bangsa Amerika terhadap perkawinan sejenis. Bahwa, budaya dan kesenian adalah media yang berhasil mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Ia pun menyebut peran penting media sosial dan satu film serial TV “Will and Grace” di NBC-TV. Biden berani bertaruh bahwa 85 persen perubahan itu dimainkan oleh para tokoh Yahudi yang berperan besar di Hollywood atau media sosial.

Kajian-kajian tentang dominasi peran Yahudi di AS sangat melimpah. Prof. Norman Cantor, dalam bukunya, The Sacred Chain, menyebutkan bahwa pada 1994, jumlah Yahudi di AS hanya tiga persen dari populasi bangsa AS. Tetapi, pengaruh mereka setara dengan kekuatan 20 persen penduduk AS. Bahkan, Prof. Cantor menulis, “Jews were over represented in the learned professions by a factor of five or six.”

Kemampuan dan dominasi Yahudi dalam pembentukan opini di AS tidak diragukan lagi. Kekuatan kaum Yahudi AS adalah dalam pembentukan opini. Eugene Fisher, Direktur Catholic-Jewish Relations, menyatakan, “If there is Jewish power, it’s the power of the word, the power of Jewish columnist and Jewish opinion makers.” Ia pun menambahkan, “And if you can shape opinion, you can shape events.”

Jadi, kata Fisher, jika Anda bisa membentuk opini, maka Anda akan mampu mencipta aneka peristiwa. (Dikutip dari buku The New Jerusalem: Zionist Power in America karya Michael Collins Piper, Washington, DC: American Free Press, 2004).

Pengaruh tokoh-tokoh Yahudi dalam mempromosikan legalisasi perkawinan sejenis – seperti disebutkan Joe Biden – tentu tak lepas dari proses liberalisasi pemikiran tentang homoseksual dalam ajaran Yahudi. Dan Cohn-Sherbok, dalam bukunya, Modern Judaism, (New York: St Martin Press, 1996, hlm. 98), mengungkapkan perkembangan pemikiran kalangan Yahudi reformis terhadap status hukum homoseksual.

Menurut mereka, perumusan hukum-hukum Yahudi modern harus memperhitungkan aspek psikologis. Homoseksual misalnya, meskipun dilarang dalam Bibel, saat ini perlu dibolehkan, sebab saat ini manusia telah memiliki pemahaman terhadap seksualitas yang lebih tercerahkan (a more enlightened understanding of human sexuality).

*****

Kaum muslimin di AS lebih banyak memilih Joe Biden ketimbang Donald Trump. Itu karena sikap Biden yang dianggap lebih bersahabat terhadap umat Islam. Dukungan terhadap zionis Israel pun dinilai lebih rendah – meskipun Biden dan Trump sama-sama merupakan sekutu khusus Israel.

Khusus tentang masalah LGBT, kaum muslimin di Indonesia akan semakin berat dalam memperjuangkan aspirasinya melawan legalisasi LGBT. Sebab, sikap resmi AS sebagai negara besar terhadap LGBT, akan digunakan juga sebagai salah satu instrument dalam menjalankan politik luar negerinya.

Apalagi, sudah banyak kelompok-kelompok Kristen di AS yang telah menerima kehadiran pendeta-pendeta homo dan lesbi dalam gereja mereka. Ditambah lagi, Paus Fransiskus pun telah mendukung pengesahan perkawinan sipil kaum penyuka seks sejenis itu.

Karena itulah, kaum muslimin Indonesia perlu semakin meningkatkan kualitas dakwah dalam menyadarkan masyarakat akan bahaya LGBT. Pendekatan hukum semata, tidak mencukupi. Di berbagai negara – seperti AS dan Irlandia – peran media sosial sangat besar dalam membentuk opini publik yang mempengaruhi cara berpikir masyarakat terhadap LGBT.

Terakhir, tentu kita terus berdoa kepada Allah SWT dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, semoga negeri kita diselamatkan dari azab Allah SWT, karena merajalelanya kemaksiatan, sedangkan kita diam, tanpa berbuat apa-apa. Allaahumma sallimnaa wal-muslimiin.

(Depok, 9 November 2020).

*pengamat politik dan dunia islam, pengasuh Pesantren At-Taqwa, Depok. (www.adianhusaini.id)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini