Ttujuh Staf Khusus Presiden baru yang berasal dari kalangan millenial

JAKARTA (Eksplore.co.id)-Peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana mendesak permintaan maaf harus dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada rakyat atas konflik kepentingan yang diduga terjadi pada mantan dua staf khusus (stafsus)-nya yakni Andi Taufan Garuda Putra dan Adamas Belva Devara.

Hal lainnya akibat Jokowi diduga tidak tepat memilih stafsus, walaupun itu dilakukan guna mendampinginya.

“Atasan staf khusus ini kan Presiden Jokowi, maka harusnya meminta maaf kepada seluruh masyarakat,” katanya pada Jumat (24/4/2020).

Apa yang dilakukan Andi Taufan dan Belva mesti dipertanggungjawabkan Presiden Jokowi sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, dan atasannya. Keputusan mundur yang dilakukan kedua stafsus ini juga harus menjadi evaluasi bagi Presiden Jokowi supaya tidak sembarangan mempercayakan orang untuk posisi tersebut.

Sikap responsif tidak ditunjukkan Jokowi ketika melihat dugaan konflik kepentingan yang dilakukan oleh dua mantan stafsusnya. Bahkan, dia seharusnya memecat keduanya sebelum mereka mengundurkan diri.

Peneliti ICW Egi Primayogha, menambahkan sikap tidak responsif itu menjadikan Jokowi terkesan membiarkan konflik kepentingan dilakukan Andi Taufan dan Belva. Hal ini diduga akibat Presiden Jokowi tidak paham etika publik. “Jokowi bisa memeriksa konflik kepentingan di antara staf khusus,” tegasnya. (mam)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini