Oleh Jojo S Nugroho*

ISTANA negeri piramida gempar.  Firaun naik pitam. Wajah sang raja tertekuk geram, memerah. Tak lama kemudian ia meledak, mengamuk bukan kepalang.

Para menteri dan orang-orang disampingnya habis menjadi luapan kemarahannya. Suaranya meninggi. Semuanya dicaci maki. Dianggap tak becus mengurusi krisis yang dihadapi istana, karena ulah seorang pemuda bernama Musa.

Anak muda itu berhasil melawan semua ahli sihir terhebat dari penjuru negeri. Alih-alih mengalahkan Musa, para penyihir malah tertunduk sujud menyembah Tuhan Musa dan enggan lagi menuhankan Fir’aun.

Sang Nabiyullah atas ijin Allah berhasil membuktikan ketuhanan Fir’aun palsu belaka. Di hadapan massa ia terbukti sekedar manusia lemah yang berdusta mengaku Tuhan.

Masih kalut dan tak percaya atas krisis reputasinya sebagai Tuhan kaleng kaleng. Fir’aun bertanya pada perdana menterinya, “Hai Haman, Apakah aku ini seorang pendusta?” teriak Fir’aun.

“Kurang ajar, siapa yang berani menuduh baginda Fir’aun sebagai pembohong?!” ujar Haman membelanya.

“Bukankah Musa mengatakan bahwa ada Tuhan di langit?” ujarnya geram.”Musa telah berdusta!” timpal Haman segera. Dia tak mau kena reshuffle karena dianggap tak punya sense of crisis.  “Saya tahu Musa hanyalah tukang sihir yang berdusta,” timpal Fir’aun mulai senang didukung Haman.

Dikompori Haman, kepercayaan diri Fir’aun kembali bangkit. “Wahai pembesarku, akulah Tuhan kalian. Bersama Haman, bangunlah untukku sebuah menara yang menjulang tinggi supaya aku sampai hingga pintu-pintu langit. Aku ingin melihat Tuhan Musa, dan aku tahu bahwa Musa itu hanyalah seorang pendusta,” ujar Fir’aun.

“Namun paduka, kendati Anda telah membangun menara menjulang, Anda tak akan pernah menemukan siapapun di langit. Karena memang tidak ada tuhan selain Anda,” ujar Haman. Manis betul mulutnya.

Mendengarnya, Fir’aun langsung berbangga diri dan memuja diri sendiri. Fir’aun pun kemudian mendeklarasikan diri kembali sebagai Tuhan. “Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku,” ujar Fir’aun.

Di kerajaan Firaun, Haman menempati beberapa posisi penting kerajaan sebagai menteri, penasihat raja (terutama bidang keagamaan), dan sebagai pelaksana proyek pembangunan menara. Haman diperintah oleh Firaun untuk membuat menara yang akan digunakan Firaun untuk melihat “Tuhannya Musa”. Pembuatan menara itu membutuhkan 50.000 pekerja.

Haman adalah menteri segala urusan. Orang kepercayaan Firaun. Pembisik nomor wahid. Haman dengan kedudukannya memberikan pengaruh bagi keputusan raja. Haman mengusulkan agar Firaun membunuh setiap pria bani israil dan menodai setiap wanita diantara para pengikut Musa.

Begitu pentingya peran Haman disisi Firaun hingga dalam Alqur’an, nama Haman disebutkan sebanyak enam kali. Masing-masing terdapat pada Alqashash (28) ayat 6, 8, dan 38; surah Al-Ankabut (29) ayat 39; dan surah Almu’min (40) ayat 24 dan 36. Haman adalah nama yang juga terdapat didalam bible di kitab Ester.

“Dan, berkata Firaun, ‘Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta’.” (Almu’min: 36-37).

“Dan, berkata Firaun, ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka, bakarlah, hai Haman, untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa. Dan, sesungguhnya, aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta’.” (QS Alqashash: 38).

Haman jugalah yang menasihati Firaun untuk menolak misi keagamaan Musa dan menghabisi Musa dan semua pengikutnya. Pada peristiwa pengejaran Musa dan Bani Israel dari Mesir, Haman tenggelam bersama Firaun dan tentaranya di Laut Merah. Allah menyelamatkan Bani Israil dan membinasakan Firaun, Haman dan semua bala tentara mereka.

Allah berfirman dalam Alquran Surah Yunus ayat 90-92 berbunyi:  “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut. Mereka pun diikuti oleh Fir’aun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil). Ketika Fir’aun telah hampir tenggelam, ia berkata: saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan saya termasuk orang yang berserah diri (kepada-Nya). (Allah menyambut ucapan Fir’aun ini dengan berfirman) Apakah kamu (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Semoga cerita Firaun dan Haman menjadi pelajaran bagi kita semua. Wallahualam bi shawab.

#tausiah #islam #cerita #kisahinspiratif #kisahislami

*managing director Imogen PR, Ketua umum Asosiasi Perusahaan PR Indonesia

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini