BANYUWANGI – EKSPLORE (27/9/2018) – Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) ingin memberi kesempatan kalangan badan usaha milik desa (BUMDes) mengakses dana bergulir. Namun LPDB mensyaratkan agar BUMDes yang ada dikelola oleh koperasi.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama LPDB-KUMKM Braman Setyo saat mengunjungi BUMDes Ijen Lestari yang ada di DesaTamansari, Kecamatan Licin, Kabipaten Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (27/9/2018). “Agar mendapat pinjaman, BUMDes harus dikelola oleh koperasi,” kata Braman.

Dirut LPDB-KUMKM Braman Setyo (dua dari kiri) bersama Kepala Dinas KUMKM Banyuwangi Alief Rachman Kardiono. (kiri), saat berkunjung ke kantor Desa ‘Smart’ Tamansari, Banyuwangi. Keduanya ditemui Camat Licin H Hartono (tengah) dan Sekdes Tamansari Wiji Utami (kanan)

BUMDesa Ijen Lestari sendiri saat ini memiliki usaha mengelola 53 homestay dan transportasi serta menjadi agen BRILink. “Kini modal kami sudah mencapai Rp700 juta,” kata Sekretaris BUMDesa Ijen Lestari Yatman, saat menerima kunjungan Dirut LPDB dan Kepala Dinas KUMKM Banyuwangi.

Dengan menyalurkan dana bergulir lewat koperasi, kata Braman, LPDB dapat lebih mudah memonitor sehingga pengembalian pinjaman itu bisa terkontrol dan lancar. “Kami melihat usaha yang bisa dijalankan BUMDes cukup potensial jadi layak mendapat pinjaman,” kata Braman yang didampingi Kepala Dinas KUMKM Kabupaten Banyuwangi Alief Rachman Kartiono.

Khusus BUMDes yang ada di Banyuwangi, Braman minta bantuan Dinas KUMKM Banyuwangi untuk mendata berapa banyak BUMDes yang memiliki usaha yang potensial dan layak mendapat dana bergulir. Namun, dia mensyaratkan BUMDes yang diajukan adalah yang dikelola oleh koperasi. Dana bergulir LPDB dikenai bunga ringan yaitu 4,5% per rahun untuk sektor-sektor yang disebut Nawacita dan koperasi dan 5% menurun untuk sektor riil.

Apa kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat bertemu Braman Setyo di pendopo kabupaten sehari sebelumnya? Dia menyambut positif rencana LPDB.

Dirut LPDB-KUMKM Braman Setyo (kanan) bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (kiri)

Bahkan Bupati menugaskan Alief untuk membuat mapping potensi koperasi dan usaha mikro kecil (KUMKM) yang ada di wilayah paling timur pulau Jawa ini. “Kami bahkan ditugasi Pak Bupati untuk mengantar Pak Dirut LPDB untuk mengunjungi BUMDes dan UKM yang punya potensi dibantu permodalannya,” kata Alief.

Banyuwangi kini sudah terkenal di dunia, terutama kawah Ijen yang mengeluarkan api biru (blue fire). Di dunia hanya ada dua gunung yang memiliki blue fire. Satu lagi di Islandia. Tiap tahun ada 33 even besar. Bahkan, International Tour De Banyuwangi-Ijen (ITDBI) sudah masuk agenda olah raga bersepeda dunia.

Alief pun menyebutkan beberapa obyek wisata di Banyuwangi selain kawah Ijen. Dii antaranya; pantai Wedi Ireng, Desa Adat Kemiren, desa wisata Osing, padang savana Ngagelan, taman nasional Baluran, taman nasional Alas Purwo, pulau Merah, Teluk Ijo, rumah apung dan Bangsring Under Water. Juga agrowisata Jalibendo, pantai penyu Sukamade, pantai Watudodol, pantai Plengkung, serta pantai G-Land yang terkenal dengan ombaknya yang eksoktik dan surga bagi peselancar dunia.

“Itu sebabnya, kami mengusulkan agar Ijen dimasukkan sebagai destinasi wisata wajib di Indonesia selain 10 destinasi lainnya,” kata Braman. Delegasi sidang IMF di Bali Okyober 3018 nanti  juga akan menyeberang ke Banyuwangi untuk melihat blue fire di kawah Ijen.

Sepuluhdestinasi wisata nasional Indonesia meliputi; danau Toba (Sumut), Tajung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (Jakarta), Borobudur (Jateng), Bromo-Tengger (Jatim), Mandalika (NTB), Pulau Komodo-Labuan Bajo (NTT), dan Wakatobi (Sultra). (ban)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini