“Banyak yang diputar arah di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah,” kata Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Irjen (Pol) Ismoyo pada Senin (27/4/2020).

JAKARTA (Eksplore.co.id)-Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan sebagian kecil masyarakat mencoba untuk mudik melalui jalur alternatif. Namun, mereka diminta memutar balik kendaraannya

“Banyak yang diputar arah di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah,” kata Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Irjen (Pol) Ismoyo pada Senin (27/4/2020).

Jumlah kendaraan yang digunakan mudik terus turun sejak diberlakukan larangan mudik pada Jumat (24/4/2020). Apalagi, bus antarkota antarprovinsi (AKAP) juga sudah tidak beroperasi membawa pemudik. “Hari pertama dan kedua saja yang masih coba-coba,” ucapnya.

Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkan ketentuan pelarangan mudik dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 tahun 2020. Aturan itu berlaku mulai 24 April 2020 pukul 00.00 WIB hingga 31 Mei 2020.

Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Hukum dan Reformasi Birokrasi Umar Arif mengemukakan masyarakat yang masih nekat mudik mulai 24 April 2020 hingga 7 Mei 2020 hanya akan dikenakan sanksi pemulangan.

Apabila itu masih dilakukan setelah 7 Mei 2020 akan diberlakukan Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Kerentuan ini mengenakan sanksi berupa denda sebesar Rp100 juta dan hukuman kurungan selama satu tahun.

“Dalam perwujudannya sudah diformulasikan. Bisa ada plus ditilang,” ujarnya pada Kamis (23/4/2020). (mam)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini