TEPATKAH Adagium Pegadaian ini Diterapkan di Istansi lain?

Baru baru telah terjadi peristiwa serem di Jakarta timur, tepatnya telah terjadi perusakan terhadap Polsek Ciracas, Jakarta Timur, oleh beberapa oknum kelompok tak dikenal, yang belakangan disinyalir ternyata seratusan lebih anggota TNI, akibat informasi salah, yang mengakibatkan kerugian rumah pos Polisi dan terbakarnya beberapa harta benda lainnya.

Atas kejadian itu beredar keputusan Kepala Staf TNI AD Jendral Andhika, tentang ancaman pemecatan terhadap oknum oknum TNI yang terlibat.

Memang kejadian seperti ini tidak kali pertama diantara kedua instansi ini meskipun tidak persis motif, waktu maupun tempat kejadiannya.

Sebagai tanggung jawab pembinaan dan martabat corps, selayaknynya para unsur pimpinan mengambil langkah langkah tegas dan positif guna pencegahan dan pendidikan untuk masa masa selanjutnya.

Sudah barang tentu keputusan dan hukuman yang dijatuhkan telah melalui proses dan prosedur hukum secara cermat dan tepat sehingga keputusan dan hukuman itu dapat memberikan efek jera kepada pelaku serta guru dan pengalaman bagi orang lain untuk tidak melakukan hal serupa.

Sebelum kita bahas hal diatas saya ingin menceritakan kembali kisah nyata ditahun 1976 saat saya masuk satuan baru sebagai Komandan Peleton yang kebetulan bersamaan dengan Komandan Batalyon yang baru seperti saya juga, seusai penugasan saya sebagai Pa Uterpra / DAN RAMIL 1974 – 1976 di Wamena Papua.

Ini kisah seorang Sopir Komandan Batalyon yang terkenal profesional dibidangnya, cerdas, tangkas, tanggap, gagah, berani, kreatif dan agresif.

Namun sebagai manusia biasa ada saja kekuranganya, yaitu sifat kesombongan, kecongakan, gegabah dan sering kebablasan dalam cara bertindak.

Atas kekuranganya itu, dengan sabar sang komandan menasehati, mengarahkan dan kadang terpaksa menjewernya.

Sering terjadi tindakan sopir tadi membentak bentak, mencemooh, mengejek, marah marah bahkan memukul terhadap siapa saja yang dianggap mengganggu atau menyalahinya, sampai sampai Komandan Batalyon pernah mau menghajar dengan kopelrimnya / ikat pinggang luar yang keras dan besar, ketika sopir ini menghajar seorang penduduk akibat menyerempet mobil dinas yang sedang dikemudikan, yang bersama Komandan Batalyon, apalagi sedang hangat hangatnya kemanuggalan ABRI dan Rakyat.

Geng, sebaiknya diganti yang lain sopir saya ini, dari pada dari pada, lebih baik lebih baik, cletuk Komandan Batalyon ngomong ke saya suatu hari.

Sambil tersenyum saya menjawab…sabar komandan…dia banyak kelebihanya, sisa kekuranganya saja tugas komandan menyeimbangkan…biar dia jadi anak hebat !

Kurang ajar juga kau…potong komandan Batalyon yang juga ikut tersenyum..

Nah…ini kisah yang menarik..

Suatu hari, ketika waktu mepet, dalam acara penting yang juga dihadiri Panglima Kodam, dalam perjalanan yang jauh itu, ditengah jalan yang sepi disekitar tikungan tajam, mendadak ada seorang penduduk / rakyat yang dengan beraninya menghadang dan menghentikan mobil yang sedang laju tinggi yang hanya ditumpangi Komandan Batalyon, saya dan sopir.

Tentu saja, sopir kelabakan ngerem dan mengendalikan mobil untuk menghindari kecelakaan, bahkan komandan Batalyon termasuk sayapun sempat tergeser dan terlempar dari tempat duduk, untung masih baik baik dan selamat.

Begitu kendaraan berhenti, komandan Batalyon langsung lompat dan dengan wajah serem, mengangah, merah padam, membuka kopelrimnya untuk *memberi pelajaran* kepada penduduk / rakyat yang menghadang tadi, saya menyusul dibelakangnya untuk memback up.

Wuaah..sisopir tak kalah gesit..begitu mobil berhenti langsung loncat juga dan langsung lari kearah orang yang menghadang…

Anehnya…pada saat kritis dan mencekam itu…kondisi dan posisi sopir dengan Komandan menjadi terbalik dan berlawanan…

Ketika Komandan mendekat akan menghajar rakyat yang menghadang, justru sisopir yang biasanya bertindak ganas lebih dulu, ini kali sopir bersikap dan bertindak tenang, gagah dan berwibawa.

Dengan sigap, sopir melindungi rakyat yang telah membuat kami hampir celaka, ganti menghadang dan melindungi rakyat yang akan diserang Komandan Batalyon dengan sabetan kopelrimnya.

Saya saja komandan yang dipukul…jangan rakyat, kita perlu manunggal dengan rakyat…teriak sopir sambil tetap melindungi rakyat tadi.

Entah karena dibisiki setan atau jin, seketika komandan Batalyon menghentikan niatnya…

Dan alhamdullillah..situasi kembali aman dan terkendali.

Saya melihat sopir lagi berbicara dengan rakyat yang menghadang tadi ditambah beberapa rakyat yang datang menyaksikan dan membantu menyelesaikan masalah…

Sebagai pendatang baru, saya dan komandan Batalyon tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan antara sopir dengan mereka karena menggunakan bahasa daerah.

Tapi yang jelas, terkesan mesra dan merakyat….bahkan mereka memberikan pisang 5 tandan besar besar…

Komandan…biar kapan kapan saya yang urus rakyat itu, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan agar tidak terlambat dalam acara nanti….kata sopir sambil bersama sama kami kembali kemobil dan melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita kami tepat waktu, tidak terlambat…

Dalam perjalanan pulang…komandan memulai lagi membicarakan kejadian tadi….Wah…kali ini baru aku salut kesopir saya dik Sugeng….dalam situasi kritis dia bisa menyelamatkan komandanya dari perbuatan tercela….bayangkan seandainya tidak dihalang halangi dan saya menghajar rakyat itu…..apa kata dunia…orang tidak bicara salah benar tapi akan menyuarakan tentara menghajar rakyat…

Saya tambah heran, malah kita sempat dikasih oleh oleh pisang dari mereka..

Kembali saya tersenyum dan menambahkan….oh iya..malaikat siapa yang membisikkan ditelingamu…sehingga kau yang biasanya tukang pukul menjadi pelindung…gagah berani ? sambil memuji kearah sopir….

Lantas apa jawab sopir itu…diluar dugaan kami sopir menjawab dengan tenang dan polos..

Maaf komandan…saya yang salah…sebenarnya orang / rakyat tadi adalah orang tua saya…yang sudah janjian dengan saya, akan membawakan oleh oleh dari kampung ditempat tadi ( kampung saya ) untuk saya…

Haah…kata komandan sambil mengetokkan stik komandonya pelan kepada sisopir….

———

Jadi…cerita saya diatas, disamping mengenang masa 50 tahun silam….juga menyambungkan dan menyandingkan dengan keputusan hukuman Kepala Staf TNI AD, tentang imbalan hadian / pujian dan hukuman dalam rangka pembinaan organisasi, khususnya tentang penegakan disiplin dan pembinaan personil.

Apapun menjadi tanggung jawab dan wewenang Ankum (atasan yang berhak menghukum).

Namun menjadi lebih bajaksana ketika kita sempurnakan dengan pertimbangan dan perimbangan, antara kejadian, akibat kejadian dan hubungan kluarga, orang tua, isteri anak yang menjadi tanggung jawabnya serta masa depannya.

Sehingga marwah kebijaksanaan itu menjadi logis dan realistis bagi pemikiran orang banyak.

Jangan sampai ada pasien di RS Grogol nyeletuk….tindakan / hukuman keras berbeda dengan tegas!

Keras bisa dikonotasikan banyak negatif, karena watak yang keras bisa diindentikkan orang yang lahir dari dalam batu yang keras.

Bandung, Senin 31 Agustus 2020, *Sugengwaras, purn TNIAD

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini