Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin dinyatakan bebas murni setelah menjalani hukuman sejak Mei 2013 di BP Sukamiskin, Bandung, Kamis (13/8/2020). (foto Antara/Eksplore.co.id)

BANDUNG (Eksplore.co.id) – Masih ingat nama Muhammad Nazaruddin? Mantan bendahara umum Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat yang divonis 7 tahun dan 6 tahun untuk dua perkara yang berbeda dan sejak Mei 2013 menjadi penghuni Balai Pemasyarakatan (BP) Sukamiskin, Bandung?

Hari ini, Kamis (13/8/2020) pria itu mendapat surat keterangan telah selesai mengikuti bimbingan Sukamiskin tersebut. Kebetulan Nazaruddin baru saja selesai menjalani cuti menjelang bebas (CMB) sejak 15 Juni hingga 13 Agustus 2020. Hari ini dia datang ke kantor  Bapas Kelas I Bandung di Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung. Mengenakana celana jeans dan batu batik warna biru, serta tak lupa mengenakan masker standar merek Sensi.

“Hari ini M Nazaruddin selesai menjalani bimbingan cuti menjelang bebas (CMB), yang bersangkutan menjalani bimbingan mulai 14 Juni 2020 sampai dengan 13 Agustus 2020. “Yang bersangkutan bebas murni,” ujar Pembimbing Kemasyarakatan Madya Bapas Bandung Budiana di Kantor Bapas, saat menyambut Nazaruddin.

Nazaruddin mendapat pembebasan bersyarat seperti tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Nomor PAS-738.PK.01.04.06 bertanggal 10 Juni 2020. Budiana menjelaskan, selama menjalani bimbingan, M Nazarudin mengikuti aturan yang ditetapkan. Di antaranya wajib melaporkan diri tiap satu pekan sekali. Katanya, yang bersangkutan sudah melapor sebanyak 9 kali.

“Selama menjalani bimbingan selalu komunikasi dengan pembimbing kemasyarakatan, dimana pun keadaan yang bersangkutan, saya selaku pembimbing kemasyarakatannya mengetahui secara pasti. Karena itu, kami hari ini menyerahkan surat selesai menjalani masa cuti menjelang bebas kepada M Nazarudin. Kebetulan kabapas lagi ada rapat, jadi saya mewakili beliau,” tutur Budiana.

Tentu saja Nazarudin mengaku bersyukur.  Apa rencana setelah memulai lagi kebebasan hidupnya? Dia ingin lebih fokus pada kegiatan keagamaan. “Semua bagi saya ini perjalanan yang harus saya lewati. Yang pasti saya bersyukur, alhamdulillah. Semua ini ada hikmahnya. Ke depan saya lebih fokus bagaimana mengejar akhirat,” katanya.

Sedikit detil, dia pun berencana membangun masjid dan pondok pesantren di Bogor. “Kalau soal di dunia, biar Allah yang ngatur, karena yang penting saya fokus saja mengejar akhirat, bagaimana bisa bangun masjid, bisa bangun pesantren, ke depannya akan saya lakukan,” tuturnya tenang.

Justice Collaborator 

Sebelumnya, Nazaruddin dijerat kasus suap pembangunan Wisma Atlet Hambalang dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Pada 20 April 2012, Pengadilan Tipikor Jakarta menyatakan Nazaruddin terbukti menerima suap sebesar Rp4,6 miliar dan menjatuhkan hukuman penjara 4 tahun 10 bulan dan denda Rp 200 juta kepada Nazaruddin.

Namun, di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) justru memperberat hukumannya menjadi 7 tahun penjara dan denda Rp300 juta.

Selanjutnya, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada 15 Juni 2016 menjerat pria keturunan Arab ini vonis kurungan 6 tahun dan membayar denda Rp1 miliar subsider 1 tahun kurungan atas kasus TPPU atauu gratifikasi yang melibatkan PT DGI dan PT Nindya Karya senilai Rp40,37 miliar. Total kurungannya 13 tahun.

Saat proses persidangan, pada awal Agustus 2011 Nazaruddin sempat kabur ke luar negeri, dan tertangkap di Cartagena, Kolumbia, dan ditiba lagi ke Jakarta pada 13 Agustus melalui Bandara Halim Perdanakusumah. Berhubung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengabulkan permintaan Nazaruddin sebagai  justice collaborator, hukumannya pun diperingan 45 bulan dan 120 hari atau hampir 4 tahun. (ban)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini