“Mereka ingin THR untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Peneliti TURC Anang Fajar Sidik secara daring pada Minggu (17/5/2020).

JAKARTA  (Eksplore.co.id) – Setelah bekerja selama setahun penuh wajar seorang pekerja memperoleh Tunjangan Hari Raya (THR) dari perusahaan guna membeli kebutuhan tambahan dibandingkan kebutuhan bulanan. Apalagi, mereka hanya mengandalkan uang ini dari bekerja setahun untuk membeli kebutuhan yang tidak pernah dapat dipenuhinya setiap bulan.

Perusahaan diharapkan memberikan THR lantaran kadang bonus tahunan tidak mereka peroleh dari keuntungan perusahaan selama 12 bulan. Kalaupun perusahaan mau memberikan sedikit keuntungan perusahaan hanya melalui kenaikan gaji yang masih kecil ketimbang yang diraih perusahaan.

Namun, pandemi Corona Virus Disease 2019/Covid=19 (Virus Korona) membuat perusahaan tidak memperoleh pendapatan lantaran tidak berhasil memasarkan barang yang diproduksinya. Apalagi keuntungan tidak diperoleh perusahaan, sehingga suatu kesulitan untuk membayar gaji bahkan THR.

Untuk membuktikan itu perusahaan bisa memperlihatkan kondisi keuangan, sehingga pekerja mengerti apa yang dialami perusahaan. Langkah ini harus ditempuh perusahaan guna menanamkan rasa saling percaya dalam melakukan usaha secara bersama.

Trade Union Rights Centre (TURC) mengungkapkan sebanyak 78% pekerja tidak setuju Tunjangan Hari Raya (THR) dibayarkan pengusaha secara mencicil akibat kondisi perusahaan terdampak Corona Virus Disease 2019/Covid-19 (Virus Korona).

Karena, kondisi serupa juga dialaminya pekerja sekarang. “Mereka ingin THR untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Peneliti TURC Anang Fajar Sidik secara daring pada Minggu (17/5/2020).

TURC melakukan survei THR terhadap 665 responden pada rentang waktu 1-11 Mei 2020. Survei ini menggunakan probability sampling dengan pendekatan multi method dan margin of error sebesar 5%.

Dari survei THR juga diketahui sebanyak 21% pekerja dirumahkan, sehingga tidak mendapat upah secara penuh dan hanya 2% yang memperoleh ini secara penuh.

Kemudian, 38% pekerja tetap masuk kerja dengan upah penuh dan 9% pekerja masuk kerja, tetapi dia tidak mendapat upah penuh. Sebanyak 16% pekerja yang bekerja dari rumah memperoleh upah penuh dan sebanyak 6% yang bekerja dengan upah tidak penuh.

Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2020 di Perusahaan Dalam Masa Pandemi Covid-19.

SE ini mengatur penundaan pemberian THR dan besaran THR yang tidak diberikan secara penuh atau sesuai dengan kemampuan perusahaan atau secara bertahap. (mam)

Advertisement