“Persyaratan pelarungan antara lain, kapal berlayar di perairan internasional, ABK meninggal lebih dari 24 jam atau kematiannya disebabkan karena penyakit menular,” kata Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan Eva Trisiana dalam diskusi, Minggu (10/5/2020).

JAKARTA (eksplore,co.id)-Pemerintah Indonesia masih menyelidiki penyebab pelarungan tiga jenazah anak buah kapal (ABK) Kapal Long Xing 629 asal Indonesia. Karena,  International Labour Organization/ILO (Organisasi Buruh Internasional) menyebutkan itu dapat dilakukan dengan syarat-syarat tertentu.

“Persyaratan pelarungan antara lain, kapal berlayar di perairan internasional, ABK meninggal lebih dari 24 jam atau kematiannya disebabkan karena penyakit menular,” kata Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan Eva Trisiana dalam diskusi, Minggu (10/5/2020).

Kapal juga tidak bisa menyimpan jenazah atau sudah tidak terdapat tempat tersebut, sehingga itu harus dilarung. Kemudian, hal itu didasarkan surat keterangan kematian dan izin pihak keluarga.

“Kami akan mencari tahu apakah itu dipenuhi. Kalau dipenuhi, berarti memang sudah sesuai aturan,” jelasnya.

Selain itu harus memenuhi tata cara pelarungan seperti jenazah harus masuk ke dalam air alias tidak mengapung.

Sekedar informasi, Bareskrim Polri sedang menyelidiki kemungkinan tindak pidana perdagangan orang  (TPPO) atas kasus tersebut. Perusahaan-perusahaan yang mengirim ABK harus bertanggungjawab.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi mengungkapkan tiga ABK Indonesia yang meninggal dunia di kapal China dan dilarung ke laut. Tiga ABK Indonesia yang dilarung ke laut merupakan awak kapal dari Kapal Long Xin 629.

Pertama, ABK berinisial AR mengalami sakit pada 26 Maret 2020, kemudian dipindahkan ke Kapal Tian Yu nomor 8 untuk diobati di pelabuhan. Namun, mereka belum sempat menerima pengobatan, AR meninggal pada 31 Maret 2020.

AR dilarung ke laut atas persetujuan keluarga pada 3 Maret 2020 yang diketahui KBRI. Keluarga akan menerima kompensasi kematian dari kapal Tian Yu

Dua ABK Indonesia lainnya meninggal dunia di Kapal Long Xin 629 saat berlayar di Samudera Pasifik pada Desember 2019. Mereka dilarung pada Desember 2019 yang telah dipenuhi hak-haknya.

Pada 26 April 2020, KBRI Seoul mendapatkan informasi satu ABK Indonesia dari Kapal Long Xin 629 berinisial EP yang mengalami sakit. Dua meninggal dunia ketika dibawa ke rumah sakit di Pelabuhan Busan. (mam)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini