“Begitu banyak warga yang terdampak di Jabar,” kata Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, pada Senin (27/4/2020).

Bandung (Eksplore.co.id)-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) mengaku kewalahan atas pemberian bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat. Karena, anggaran ini hanya ditargetkan sebesar 40% dari jumlah penduduk, tapi sebanyak 63% dari jumlah penduduk yang mengajukannya.

“Begitu banyak warga yang terdampak di Jabar,” kata Gubernur Jabar, Ridwan Kamil di Bandung, Jabar pada Senin (27/4/2020).

Berapa besar anggaran yang dialokasikan bagi bansos tidak disebutkan Pemprov Jabar. Anggaran ini diambil dari anggaran penanganan pandemi Corona Virus Disease 2019/Covid-19 (Virus Korona) sebesar Rp1,2 triliun.

Anggaran penanganan pandemi Covid-19 dialokasikan bagi bansos, pembelian alat kesehatan (alkesa), penugasan Gugus Tugas Covid-19. Paket bansos itu berisi uang tunai sebesar Rp500.000 dan sembilan bahan pokok (sembako).

Pemprov Jabar mengklaim sebanyak 12.000 kepala keluarga (KK) telah menerima paket bansos. Semula ini hanya disiapkan sebanyak 7.900 paket bansos. “Untuk yang belum sedang dalam proses (penyaluran),” ujarnya.

Paket bansos merupakan salah satu dari sembilan pintu bantuan kepada warga terdampak pandemi Covid-19. Sembilan pintu itu adalah Kartu Program Keluarga Harapan (PKH), kartu sembako, dan bantuan sosial (bansos) dari presiden untuk perantau di Jabodetabek.

Kemudian, Dana Desa (bagi kabupaten), Kartu Pra Kerja, bantuan tunai dari Kemensos, bansos provinsi, dan bansos dari kabupaten/kota.

Pemprov Jabar juga menggagas Gerakan Nasi Bungkus (Gasibu) yang bertujuan memastikan semua masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Tanggung jawab kami ada di dua pintu, yaitu bansos provinsi dan Gasibu. Sisanya bantuan dari pusat dan kota/kabupaten,” ujarnya. (mam)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini