Oleh Himawan Sutanto*

 

FILM yang berkisah tentang Dian, seorang kembang desa yang memiliki paras cantik, tidak sedikit lelaki yang mendekatinya hingga datang melamarnya. Oleh sebab itu, warga desa bergunjing tentang status lajang Dian. Dalam satu kesempatan perjalanan naik truk, dalam rangka menjenguk –tilik– Bu Lurah di rumah sakit di Kab. Bantul, sosok Dian terus menjadi bahan gosip oleh Bu Tejo. Selain itu ada sosok Yu Ning (Briliana Desy) yang selalu mengingatkan Bu Tejo untuk tidak memfitnah tentang Dian. Perjalanan tilik naik truk oleh sekumpulan ibu-ibu itu malah menjadi penuh gosip. Adapun dasar yang dikemukakan oleh Bu Tejo ialah berita-berita di media sosial yang memuat tentang Dian. Tidak semua yang disampaikan Bu Tejo itu diterima begitu saja, sebab ada yang mengingatkan yakni Yu Ning bahwa tidak elok menelan informasi mentah-mentah tanpa mengetahui keakuratan sumbernya. Bu Tejo tetap tidak peduli, ia terus melancarkan gosip keburukan Dian. Apalagi ada salah seorang yang menyokong. Klimaksnya, terjadi perang mulut antara Bu Tejo dengan Yu Ning yang ternyata memang famili Dian.

Gosip ibu-ibu ini juga bersumber dari internet yang menjadi pijakan dari ibu Tejo. Tidak ada yang bisa memvalidasi informasi benar atau salah dari internet, jadi adu argumen Bu Tejo dan Yu Ning semakin seru. Bahkan ada salah satu dari ibu-ibu yang berkata “Namanya internet itu bikinan orang pintar, mana mungkin keliru?”. Nah sekarang tahu kan betapa pentingnya melawan hoax yang bertebaran di internet. Dengan cerita yang segar dan skrip yang menggigit, kusus kepada sang penulis Bagus Sumartono. Sindiran, celetukan, hingga guyonan khas ibu-ibu ditampilkan dengan jenaka. Salah satunya guyonan saat Bu Tejo kebelet pipis namun tidak mau buang air kecil di sawah karena takut ular. Salah satu dari mereka pun berkata “Tapi gak takut ulernya Pak Tejo dong bu?”.

Karakter yang paling mencuri perhatian tentu jatuh ke Bu Tejo, yang diperankan oleh Siti Fauziah. Siti berhasil memerankan karakter paling dibenci semua orang dan sungguh toxic. Tampil ekspresif ditambah gunjingan pedasnya, Bu Tejo berhasil masuk ke daftar best villain character di perfilman Indonesia. Oleh sebab itu, warga desa bergunjing tentang status lajang Dian. Dalam satu kesempatan perjalanan naik truk, dalam rangka menjenguk ( tilik) Bu Lurah di rumah sakit di kota, sosok Dian terus menjadi bahan gosip oleh Bu Tejo. Selain itu ada sosok Yu Ning yang selalu mengingatkan Bu Tejo untuk tidak memfitnah tentang Dian. Perjalanan tilik naik truk oleh sekumpulan ibu-ibu itu malah menjadi penuh gosip.

Karakternya yang sukses menggambarkan sosok ibu-ibu di kehidupan nyata rupanya sukses memikat hati penonton. Lantas apa saja fakta menarik dari film pendek berjudul “Tilik” ini adalah mampu menghadirkan talenta lokal namun memiliki kualitas mumpuni. Karena pada hakikatnya film pendek bukan merupakan reduksi dari film dengan cerita panjang, atau sebagai wahana pelatihan bagi pemula yang baru masuk kedunia perfilman. Film pendek memiliki ciri/karakteristik sendiri yang membuatnya berbeda dengan film cerita panjang, bukan karena sempit dalam pemaknaan atau pembuatannya lebih mudah serta anggaran yang minim. Tapi karena film pendek memberikan ruang gerak ekspresi yang lebih leluasa untuk para pemainnya.
Dari sisi lain bahwa penulis mampu memberikan kritik tentang demokrasi yang sedang terjadi di Indonesia. Hal itu nampak dari kendaraan truck yang menjadi bentuk dan cermin Indonesia, dengan jalan yang naik turun dan berbelok. Bisa saja itu menjadi perhatian dari cerita tersebut. Dimana sosok bu Tejo yang menginginkan suaminya mau maju menjadi lurah dengan melawan petahana yaitu bu Lurah. Hal itu tampak ketika bu Tejo memberikan uang pada Gotrek si pengemudi dan pemilik truck tersebut dan Yu Ning mengingatkan dengan gayanya yang khas. Disinilah letak awal bu Tejo memainkan peranan untuk menyindir yu Ning yang menjadi pendukung bu Lurah. Itulah cara penulis mampu memberi pelajaran yang kritis terhadap demokrasi kita sekarang ini dengan dialog khas Yogya. Disitulah peran Dian menjadi mediator pemilik modal masuk ke dalam tim pemenangan pemilihan kepala Desa, seperti yang ada dalam realitasnya.

Disamping itu, di dalam film Tilik ini mampu menampilkan talenta lokal dari Yogyakarta. Dari sisi gambar film “Tilik” mampu memberikan gambar yang cukup memberikan suasana dan kondisi yang pas. Disamping cerita yang sederhana dan kejadian sehari-hari, sutradara mampu memberikan rangsangan para pemirsanya dengan suguhan yang menghibur, dan seolah terlibat didalamnya. Hal itu tak lepas dari cerita yang berhasil membuat semua pendukung, mulai dari sutradara, hingga artis yang berperan di film tersebut. Mereka adalah Siti Fauziah sebagai Bu Tejo, Brilliana Desy sebagai Yu Ning dan Stephanus Wahyu Gumilar sebagai polisi merupakan seniman asli dari Yogyakarta. Sebagai sebuah film, Tilik sudah terlebih dahulu mendapat penghargaan film lokal dan siapa menyangka bahwa film Tilik ini sudah menerima penghargaan film tidak cuma dari ajang lokal.

Tetapi Tilik berhasil masuk dalam nominasi ajang film Internasional dan tidak tanggung-tanggung, film yang disutradarai Wahyu Agung Prasetyo ini masuk dalam dua nominasi ajang film Internasional, yakni Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival pada 2018 dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. Film yang dibiayai oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjadi menarik. Seyogyanya Dinas Kebudayaan DIY kedepannya juga bisa membuat cerita-cerita film pendek tentang BPJS, PHK atau yang dekat dengan isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat.

Film Tilik menyenangkan dari awal hingga akhir pergunjingan ibu-ibu di atas truk ini sukses bikin penonton tertawa. Dengan deretan casting yang apik, film ini sajikan realita kehidupan yang jujur. Pujian kepada sang sutradara Wahyu Agung Prasetyo dan seluruh kru film ini. Wajib nonton!Film pendek TIlik ditayangkan di YouTube Ravacana Films pada 17 Agustus 2020.
Selamat dan sukses !

Jakarta, 21 Agustus 2020
*penulis adalah alumni ISI Yogyakarta dan pernah kursus cinematografi di KFT di Jakarta.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini