SATU penyeru kebaikan, lebih bernilai dari seribu orang baik. Ini juga dialami junjungan nabi besar kita MUHAMAD SAW, ketika beliau belum diutus sebagai Rosul, merupakan sosok manusia yang baik, yang dicintai oleh kaumnya.

Namun setelah Allah Ta’ ala mengutusnya sebagai penyeru kebaikan, banyak kaumnya langsung memusuhinya dan menggelarinya sebagai tukang sihir, pendusta, gila dll. Kini keadaan itu masih berjalan di negeri kita yang sedang dikuasai penguasa saat ini.

Rakusnya ketidakadilan hukum, membuat para penyeru kebaikan menjadi target para penegak hukum dengan alasan pembenaran sepihak oleh penguasa hukum.

Bahkan membuat para penyeru kebaikan tiarap. Di sisi lain para penegak hukum yang telah sukses dalam pemenangannya semakin pongah dan terbahak-bahak.

Dengan vulgar para penegak hukum memanfaatkan peran dan fungsinya untuk menggembosi pihak pihak penyeru kebaikan.
Celakanya, para penyeru kebaikan nyaris bungkam seribu bahasa melihat ketidak benaran dan ketidak adilan dinegeri ini.

Akankah situasi dan kondisi seperti ini berlanjut? Ini sangat bergantung kepada penguasa dan rakyat.

Jika para penguasa menyadari kepentingan rakyat, kepentingan Nasional sedang dalam keadaan tidak baik baik saja, diiringi para penyeru kebaikan bersama rakyat tak kenal menyerah mengoreksi dan meluruskan hal hal yang disalah gunakan dan disimpangkan oleh para penguasa.

Jika jujur, kita telah memperoleh kesimpulan baik buruknya, benar tidaknya apa apa yang telah tertuang dan tergambar dalan RUU / UU Omnibus Law, HIP / BPIP termasuk rencana pemindahan ibu kota ke tempat yang baru, dimana seakan kini dikaburkan oleh peristiwa faktual, yang bisa mengalihkan isu yang lebih signifikan.

Meminjam istilah orang bank, yang secara pribadi berupaya tidak meminjam uang bank, mengisyaratkan, terseretnya tindak kebohongan yang berantai dalam.kasus hutang negara yang dipaksakan dan belum optimal manfaat.

Semoga saja, menekan dan mengorbankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, bukan menjadi pilihan alternatif dalam solusi mengatasi hutang oleh penguasa. Wait and see.

Bandung, 21 Januari 2021

*Sugengwaras, ketua Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB) Jawa Barat

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini