Oleh Marzani Anwar*

“WAHAI anak, cucu, isteri dan kerabatku semua !, aku sudah berjuang selama hidupku untuk kebahagiaan kalian. Aku sudah berikan pada kalian banyak hal. Sekarang aku akan pergi menuju Tuhanku. Apa yang bisa kalian berikan wahai keluargaku ?”

Ternyata keluarga besar hanya menjawab, “Bapak, kami hanya bisa nengantarmu ke liang kubur saja.”

Demikian petikan dialog spiritual perjalanan hidup pak Syafi’i, yang tertuang dalam buku autobiografinya Dimulai dari Alif berakhir di Nun (hlm 72). Buku yang terbit menjelang wafat KH Ahmad Syafii Mufid, yang ditulis sendiri itu, telah menjadi warisan paling berharga bagi para anak, cucu, isteri dan kita semua. Karena dari bacaan setebal 360 halaman itu, disajikan pengalaman sejak masa kecil hingga dewasa dan dalam kondisi terkini.

Merefleksikan pengalaman diri bukan pekerjaan mudah, karena tidak terlepas dari kekuatan subyektivitas. Sebagai penulis ia sudah berupaya menjadi “orang lain” dengan menyebut “Syafi’i bilang, begini dan begitu”. Bagaimanapun itulah retorika beliau, yang tidak sekedar permainan bahasa, tapi merupakan relaksasi perjalanan panjang, dari tahapan terawal ( Alif) hingga yang sekarang (Nun). Perjalanan hidupnya seakan bermetamorfosis — layaknya mengaji huruf-huruf hijaiyah agar bisa memahami kitab suci al-Qur’an yang bertuliskan huruf Arab.

Kutipan ungkapan di atas pun menandai sampurnaning ngaurip yang merajut cita keselayakan hidup manusia (Jawa): bahwa dengan usia terakhirnya yang mencapai 70 tahun, ia bersama isteri tercintanya telah berhasil (sampurna) membangun rumah tangganya yang tetap utuh dan bahagia. Pasangan ini berputera 3 , di mana 2 diantaranya berpendidikan S2 dan satunya Adalah dokter spesialis anak (SPa), semua sudah berumah tangga, berikut 9 cucu. Melihat seorang pak Syafi’i yang dengan hidup sedemikian rapi masih aktif, kebanyakan orang akan bertanya “apalagi yang kau cari pak Syafii ?”. Karena dengan kesuksesan membesarkan anak dan lebih lagi sudah memasuki masa pensiun, telah berarti cerminan keluarga berkecukupan secara lahir bathin.

Tapi, bukan Pak Syafii kalau _kecukupkan_ itu diartikan waktunya banyak berdiam diri di rumah. Baginya, perjalanan hidup masih panjang, dan panjang sekali. Demikian panjangnya hingga melampaui batas-kematiannya sendiri. Capaian materi dan kebendaan, pangkat, penghargaan dan kedudukan, bukan untuk menelikung pola berpikirnya.

Bentangan sejarah panjang untuk memperoleh kedudukan tinggi, di pemerintahan dan profesi, adalah proses pembelajaran diri menuju kematangan. Anak-anak dan cucu biarlah mengantarnya sampai ke liang kubur. Tapi cita-cita luhur dan ibadah jariah, plus kesalehan anak-cucunya yang lebih layak mengantarnya pada kehidupan abadi.

Pembangunan pesantren lengkap dengan rumah ibadah dan segala fasilitasnya, yang dibiayai sendiri,  sepanjang maslahat bagi masyarakat, adalah bangunan yang terus menerangi surganya sendiri tanpa batas. Melengkapi kebahagiaannya adalah kesalehan anak-anak dan cucunya yang insyAllah tidak akan luntur. Ditambah lagi kegiatan “mulang”nya, sepanjang ilmunya bermanfaat bagi banyak orang, sepanjang itu pula akan menerangi surganya.

Mulang, bagi pak Syafi’i, adalah kerja aktif dan interaktif untuk menggerakkan orang lain sehingga memperoleh kesadaran dan kemandirian yang optimal. Dalam budaya Jawa, mulang berarti mengajar atau menjadi guru. Kyai Syafii merasa lebih sreg dengan menggunakan kata *mulang*, untuk tidak disamakan dengan menjadi guru atau pengajar. Dengan menjadi guru, seakan orang lain dianggap bodoh, dan berkedudukan rendah. Tapi mulang adalah memperlakukan orang lain sebagai teman berdiskusi, dan bersama-sama mengenali diri sendiri , menemukan masalah dan bersama-sama pula mencari dan menemukan solusi.

‘Mulang’ adalah kegiatan sosial, berbagi pengalaman. Menceritakan kembali pengetahuan untuk memahami bahwa kehidupan ini berputar (sangkan paraning dumadi ). Kehidupan berawal di surga, seperti Adam dan Hawa. Lalu turun ke bumi . Akhirnya kembali kembali ke surga lagi.

Pergerakan yang dimotivasi keikhlasan menggerakkan potensi untuk berkembang. Panggilan mulang bagi Syafi’i selalu menyertai di manapun ia berada dan bergerak. Seperti air mengalir yang mengikuti pergerakan arus.

Sejak ia masih hidup di kampung dahulu dengan membuka Madrasah Wajib Belajar (MWB), maupun ketika dirinya mengajar dan kuliah di Semarang. Bahkan berlanjut hingga kini. Biasa dijalani menjadi semisal motivator perdamaian, dakwah dan atau solusi konflik.

Pengalaman penelitian, baginya, adalah sebuah pergulatan hidup dan berdialog dengan manusia dari berbagai kalangan dan tingkat pendidikan. Di sanalah Syafi’i menemukan jati diri orang lain dengan keragaman latarbelakang budaya dan sekaligus menemukan nilai-nilai kebersamaan, mengenal bentuk-bentuk konflik, kerjasama sosial dan kearifan-kearifan lokal. Menjadi narasumber di berbagai kesempatan, bagi pak Syafi’i adalah menjalankan tugas mulang tersebut.

Sebagaimana diketahui, pak Syafi’i adalah orang yang telah malang melintang di berbagai organisasi dan institusi. Di lingkungan Kemenag sendiri, selain berpofesi sebagai peneliti, pernah menduduki jabatan seperti: Kepala Balai Litbang Agama Jakarra ( BLAJ); Sekretaris Badan Litbang dan Diklat; Sekretaris Dirjen Pendis; juga pernah menjadi seorang inspektur di Itjend. Selama 17 tahun Pak Syafii mengcover tugas sebagai Ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) DKI Jakarta; Pengurus MUI DKI; pengurus KODI DKI; Sekretaris Islamic Center DKI dan Asosiasi Islamic Center se Indonesia.

Khusus di FKUB DKI, reputasi pak Syafi’i diakui oleh banyak pihak. Pada bulan Februari 2017, Syafi’i diundang sebagai peserta dari  Indonesia pada event internasional yang diselenggarakan oleh Global Peace di Philipina. Global Peace adalah sebuah NGO level dunia. Global Peace Indonesia bahkan mengangkat pak syafi’i sebagai *tokoh perdamaian Indonesia*.

Sementara Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Paramadina menerbitkan buku berjudul *Pekerja Bina Damai dari Tanah Pasundan* dan memasukkan nama Ahmad Syafii Mufid sebagai salah satu dari 6 nama dalam buku tersebut. Terakhir sebelum mengakhiri masa tugas di FKUB DKI (1918), pak Syafii diundang dalam seminar interfaith dialogue di Copenhagen, Denmark.

Pengalaman jabatan itu tak dibiarkan lewat begitu saja, karena merupakan palajaran terbaik tentang bagaimana menggerakkan diri dan orang lain, untuk menjadi lebih produktif inovatif.

Diperkaya dengan pengalaman perkuliahan di Perguruan Tinggi, terutama bidang ilmu-ilmu sosial (S-2 Antropologi UI) dan di Leiden Belanda.

Demikian banyaknya makalah yang pernah ia tulis, terutama sebagai narasumber, Pak Syafi’i, demikian cerita ke saya, sebenarnya masih merancang penerbitan dua buku lagi. Pertama mengangkat tema sekitaran Merajut Perdamaian dan Solusi Konflik, dan yang kedua bertajuk Membangun Karakter Manusia.Yang pertama itu merupakn refleksi penglamanya ngayahai tugas menjadi Ketua FKUB selama 17 tahun. Sedang yang kedua merupakan kumpulan makalah  berbagai seminar dan pengalaman menjadi  motivator  berbagai perggerakan sosial. Termasuk catatan eksperimentasi mengelola pesantren yang sedang berjalan.

Kabar berpulangnya pak Syafii, sungguh sangat mengagetkan bagi saya. Sebab belum genap sebulan, saya berkunjung ke pesantren Kyai Demak di Purwakarta.

Berita itu terasa sangat tiba-tiba. Antara ” percaya tidak percaya, tapi takdir menyatakan “nyata adanya”, karena masih terngiang obrolan kami berdua, mengenai hal ihwal kepesantrenan dan perspektif santri menyongsong masa depannya.

Meninggalkan karya besar, berupa lembaga pendidikan tradisinonal lengkap dengan prasarana di mana akan dijadikan pemusatan pengkaderan umat. Dengan balutan nama pesantren Enterpreneur Kyai Demak, berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat.

Pesantren itu berada di pedesaan dengan suasana lingkungan yang nyaman, dingin dan bertanah subur. Jenis tanaman apa pun, buah-buahan, sayuran sampai tanaman keras bebas tumbuh dan tumbuh bebas. Di komplek pesantren itu pula pak Syafi’i  yang alumni Fak. Syariah Unissula Semarang ini bertempat tinggal, didampingin oleh isteri tercintanya, Nur Bayyinah,  dan salah seorang cucu yang masih berusia belasan tahun.

Berjalan-jalan di antara pepohonan yang hijau terasa krasan untuk berlama-lama. Fasilitas pendidikan berupa ruang kelas, asrama santri putri, asrama santri putra, lahan pertanian, bahkan rumah ibadah dan perpustakaan, adalah pelengkap pemenuhan pembelajaran. Demikian pula dengan ternak kambing, kelinci, ayam, kebun buah, disediakan sebagai lahan pembelajaran entrepreneur.

Dekatnya rumah Kyai di samping masjid, adalah mengikuti tradisi pesantren, di mana Kyai memang bertugas mulang santri selama 24 jam. Maka sudah semestinya ia bertempat tinggal bersama atau di lingkungan keseharian di mana santri berada. Posisi pesantren yang berada di tengah pedesaan juga merupakan  penanda bahwa Kyai adalah pemimpin umat, dan dari sana terbangun kharisma kepemimpinannya.

Seorang kyai, dalam pesantren berharap bisa membawa para santrinya menjadi kader perdamaian dan kerukunan umat beragama dengan menggunakan pendekatan akhlak di mana kita sebagai manusia patut menghargai manusia yang lain dan menghormati pikiran orang lain. Bimbingan kepada para santri diarahkan, di samping oleh ahli agama, juga kader perdamaian.

Sebutan pesantren entrepreneur yang melekat di pesantren yang menggambarkan cakrawala baru, yang melekat dengan lembaga pendidikan Islam tradisional ini.

Pengalaman pak Syafi’i yang telah menjadi pergolakan pemikirannya, dunia belajar-mengajar, penelitian alian dan paham keagamaan, gerakan keagamaan serta pengabdian kepada masyarkat, yang berlangsung selama setengah abad, mununtutnya untuk “turun gunung”. Bergerak dalam aktivitas mulang secara total. Yaitu melibatkan seluruh jiwa, raga dan harta, untuk membangun karakter . kompetensi serta literasi. Tantangan masa depan, bagi pak Syafii, mengharuskan menyiapkan manusia dewa (homo deus), yaitu manusia yang memiliki dan memanfaatkan lntelektualitas secara maksimal, mengembangkan intuisi yang mendalam; serta mengembangkan kreatvitas. Ambisi seperti ini yang nampaknya dijadikan panah substansial pendidikan pesantren entrepreneur Kyai Demak.

Pak Kyai ingin para santri nantinya menjadi  kader -kader inovasi. Prototipe manusia masa depan yang mandiri dan berakhlak mulia.

Namun, kini Kyai Syafi’i sudah tiada. Meninggalkan komplek pesantren ini untuk selama-lamanya. Sementara berjalannya pesantren dengan segala metode pemulangan dan kurikulumnya, baru setara uji coba.

Detik-detik kepergian Kyai bersamaan dengan para santrinya sedang off karena pandemi yang melanda berlama-lama.

Kita sebagai sahabat sekerja dan sepemikiran, kalau tak keberatan disebut demikian, sudah sepantasnya meneruskan cita-cita dan perjuangan pak Syafi’i. Ramuan hasil pemikiran dan impian beliau, biarlah Allah terima sebagai niatan mulia yang balasannya sekelas amal nyata. semoga.

*penulis dan profesor riset Balitbang Kemenag

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini