Review atas buku karya Dr. Reni Marlinawati, “Menguak Dunia Pendidikan yang Terkepung.” (Editor: Syaefudin Simon). Penerbit: Global Express Media, Jakarta.Cetakan pertama, Januari 2020, xxiv + 281 halaman.

Oleh: Dr. Satrio Arismunandar*

MENULIS resensi atas buku karya Dr Reni Marlinawati membangkitkan rasa hormat tertentu. Hal ini terutama karena penulisnya adalah pakar dan pemerhati pendidikan, yang memperjuangkan gagasan-gagasannya bukan cuma di kalangan akademis, tetapi juga lewat sarana politik. Hal ini dimungkinkan karena Reni adalah anggota DPR RI Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk dua periode (2009-2014 dan 2014-2019).
Sempat menjabat Wakil Ketua Komisi X dan Ketua Fraksi PPP di DPR RI, sayangnya Reni yang tokoh wanita asal Sukabumi ini tak sempat memperjuangkan gagasan-gagasannya lebih lanjut. Wakil Ketua Umum PPP ini meninggal dunia pada Jumat, 7 Agustus 2020, di RSCM Jakarta. Diduga karena serangan jantung.
Namun, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (2006) dan lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (program studi Tarbiyah) ini sempat meninggalkan warisan pemikiran, yang masih bisa bermanfaat bagi dunia pendidikan. Untungnya, Reni adalah penulis produktif, yang karya-karyanya tersebar di berbagai media.
Buku yang diedit Syaefudin Simon ini adalah kumpulan dari 45 artikel, yang pernah dimuat di berbagai media. Semuanya berkaitan dengan dunia pendidikan, dan merambah berbagai isu. Mulai dari perlunya pendidikan kejujuran, sampai sistem zonasi dan ketimpangan kualitas sekolah. Dalam artikelnya, Reni juga mengulas pendidikan di Finlandia, kurikulum pendidikan di Inggris, dan sistem pendidikan Jepang.
Karena spektrum pembahasan yang begitu luas, dan cara penyampaian buku yang seperti pecahan-pecahan artikel, pembaca tidak perlu membaca urut dari artikel pertama sampai artikel ke-45. Pembaca bisa memilih membaca artikel yang mana saja, sesuai minat dan kepentingannya, karena setiap tulisan itu sudah utuh sebagai satu pokok pemikiran, seperti jika kita membaca tulisan opini di surat kabar.

*Perlu Grand Design*
Meski begitu, perlu ada benang merah yang menyambung semua pecahan itu, agar pembaca lebih mudah memahaminya. Untuk ini, saya akan mengutip pengantar dari Reni sendiri di halaman pembuka bukunya (hlm. v-x).
Reni menyatakan, pendidikan adalah dunia masa depan manusia. Jika kita ingin agar manusia Indonesia terdidik dengan baik sesuai karakter agama dan budaya Nusantara yang ramah; lalu mengikuti perkembangan zaman yang cepat di dunia yang penuh dinamika akibat perkembangan teknologi, maka pemerintah harus punya _grand design_ tentang pendidikan Indonesia.
Menurut Reni, pemerintah belum punya konsep baku tentang pendidikan nasional. Contohnya sederhana: Ada madrasah dan pesantren di kampung-kampung yang sangat bersahaja. Mereka mendidik anak-anak miskin untuk melek huruf, budaya, dan merajut masa depannya. Jumlah madrasah dan pesantren semacam itu banyak sekali.
Tetapi pemerintah seperti tak peduli. Yang diperhatikan hanya sekolah-sekolah negeri di bawah kendalinya. Di pihak lain, meski di bawah kendalinya, pemerintah tak mampu mengawasi kurikulum sekolah-sekolah yang sering disebut SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu). SDIT itu madrasah atau sekolah umum? Tidak jelas. Banyak pihak menduga, kurikulum SDIT mengarah pada pembentukan wajah Islam yang anarkis dan ekstrem.
Tentang desain besar pendidikan, Reni menunjukkan contoh pendidikan di Jepang, Inggris, dan Finlandia. Tiga negara ini adalah negeri-negeri maju yang sistem pendidikannya telah menghasilkan manusia-manusia berkualitas. Manusia yang mampu mengantisipasi perkembangan zamannya.
Untuk mencapai ke sana, Reni menyadari, tentu harus ada investasi besar. Salah satunya, anggaran pendidikan. Anggaran ini meliputi pelayanan dan infrastruktur pendidikan. Juga dorongan untuk memperkuat penelitian dan pengembangan.
“Mana mungkin Indonesia memiliki _world class university_ seperti diimpikan Menristekdikti, jika ruh kemajuan –litbang iptek—masih tertatih-tatih karena minim anggaran. Bandingkan dengan Singapura dan Malaysia, anggaran litbang di kita masih terlalu minim,” tegas Reni.

Dampak Mengerikan
Ada berbagai fenomena yang menunjukkan masih banyaknya problem dalam dunia pendidikan Indonesia. Reni menyebutkan, kita bisa menyaksikan ada dampak mengerikan dari kebijakan pendidikan. Ada anak didik yang menjadi ekstrem dan radikal karena kurikulum khusus di sekolah. Ada sekolah yang anak didiknya tidak mau membaur dengan kebudayaan setempat. Ada anak-anak yang stres karena dibuli di sekolah. Ada guru yang mencabuli muridnya. Dan macam-macam lagi.
Judul buku ini menggunakan kata “terkepung.” Hal itu karena Reni memandang, banyak masalah pendidikan yang berputar-putar di Indonesia, seperti orang terkepung yang sulit mencari jalan keluar. Maka Reni mencoba mencari jalan keluarnya.
Tak ada gading yang tak retak, begitu juga buku ini. Kekurangan teknis dari buku ini adalah: dari 45 artikel karya penulis, tidak dijelaskan artikel itu pernah diterbitkan di media mana saja dan kapan diterbitkannya.
Hal ini penting setidaknya karena dua hal: Pertama, kita bisa melihat kronologi dan perkembangan pemikiran Reni tentang pendidikan. Kedua, pembaca bisa lebih pas memahami isi artikel, jika mereka tahu konteks waktu ketika tulisan Reni itu muncul di media.
Namun, terlepas dari kekurangan teknis itu, isi buku ini jelas sangat bermanfaat buat mereka yang aktif di dunia pendidikan, yakni para pemangku kepentingan. Isinya juga menarik untuk pembaca umum yang memiliki minat pada isu pendidikan. Para mahasiswa studi pendidikan sangat dianjurkan membaca buku, yang bahasanya dikemas secara ringan dan populer ini. (***)

Depok, 20 Agustus 2020

*Dr Satrio Arismunandar adalah penulis buku, pegiat media, mantan jurnalis Harian Kompas dan Trans TV. Lulusan S3 Ilmu Filsafat FIB UI ini pernah mengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI. 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini