Oleh Dr. H.M. Amir Uskara*

BPS merilis data kontroversial? Itulah yang kini sedang ramai diperbincangkan.

Betapa tidak! Badan Pusat Statitistik itu merilis data bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kini, di kwartal II tahun 2021, mencapai 7,07 persen. Ini adalah pertumbuhan yang wow. Luar biasa hebat. Mungkin terhebat di dunia di era pandemi. India saja pertumbuhan ekonominya di kwartal II hanya 1,6 persen. Korea Selatan 5,69 persen. Padahal dua negeri ini terkenal gesit ekonominya.

“Angka pertumbuhan ekonominya benar, tapi bisa membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai kebenaran angka tersebut. Karena masyarakat membandingkannya dengan situasi di lapangan saat ini,” ujar Darmadi Durianto, anggota DPR RI, Sabtu (7/8/21) lalu.

Tentu, kita tak ragu rilis tadi. Karena yang bicara BPS. Lembaga ini terkenal dengan analisis datanya. Ia telah lama menjadi rujukan pemerintah dan swasta. Tapi hasilnya dalam menganalisis pertumbuhan ekonomi Indonesia kali ini, agak kontroversial. Sehingga timbul perdebatan. Ada yang percaya BPS. Ada yang tidak!

Ada yang menganggap pengumuman pertumbuhan ekonomi itu hanya klaim sepihak pemerintah. Karena faktanya tidak kompatibel di lapangan.

Lihat kondisi ril masyarakat yang kesulitan ekonomi, bisnis yang mandeg, pariwisata yang sepi, dan mal-mal yang lengang. Terlalu banyak sektor usaha yang nyaris bangkrut. Kok tiba-tiba BPS merilis pertumbuhan ekonomi 7,07 persen?

Ya. BPS benar sepanjang melihat data pertumbuhan ekonomi di era pandemi. Ibarat orang terjatuh di jurang, ketika ia berhasil naik dari jurang yang dalam sekian meter ke atas — ia memang naik. Tak bisa disangkal. Tapi naiknya dihitung dari bawah jurang ke tebing yang lebih tinggi. Namun catat, pendakiannya belum sampai di bibir jurang saat sebelum tergelincir jatuh (baca: saat sebelum pandemi). Itulah perumpamaannya.

Pinjam istilah ekonom Bank Permata Dr. Josua Pardede, pertumbuhan yang diklaim 7,07 persen itu perhitungannya berbasis perhitungan ekonomi yang rendah, atau low base effect (LBE). Dan LBE-nya adalah Kwartal II-2020 yang terkontraksi amat dalam, minus 5,32 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 yang tercatat 7,07 persen dipengaruhi oleh faktor low base pada periode yang sama tahun 2020 di mana pertumbuhan ekonomi tercatat minus 5,32 persen,” ujar Pardede di Jakarta, Kamis (5/8/2021).

Dengan melihat kondisi perekonomian pada kwartal II tahun 2020, yang minus tersebut, kemudian melihat pertumbuhan ekonomi setahun berikutnya ( year on year, kwartal II tahun 2021), klaim kenaikan pertumbuhan ekonomi 7,07 persen itu — pinjam istilah Jawa — adalah “bener ning ora pener.” Benar secara statistik, tapi “tidak benar” secara realistik. Untuk membuktikan “ora pener” itu, mari kita lihat pertumbuhan ekonomi berdasarkan penyerapan tenaga kerja. Agar fakta sebenarnya terungkap.

Dengan asumsi tiap pertumbuhan ekonomi 1 persen menyerap tenaga kerja 500.000 orang, maka pada tahun 2020 — dengan pertumbuhan minus 5,32 persen, ada 2,5 juta orang yang tidak masuk dunia kerja. Dan 2,5 juta orang lagi harus “keluar” dari dunia kerja. Jadi total pengangguran mencapai 5 juta orang.

Sementara itu, angkatan kerja di tahun 2021 tumbuh 2,5 juta orang. Dengan demikian, total angkatan kerja yang tidak terserap di tahun 2021 mencapi 7,5 juta orang.

Lalu, jika pertumbuhan ekonomi tahun 2021 mencapai 7,07 persen — itu artinya, penyerapan tenaga kerja hanya 3,5 juta orang. Dengan demikian, pada tahun 2021 masih ada pengangguran yang jumlahnya cukup besar: 4 juta orang.

Jadi dari aspek penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan rilnya, sedikit sekali. Bila tahun 2020 — akibat pertumbuhan minus 5,3 persen pengangguran mencapai 5 juta orang; sedangkan tahun 2021 pengguran masih 4 juta orang, berarti kenaikan ekonomi year on year sesungguhnya hanya 2 persen saja. Masih jauh dari kenaikan ideal yang bisa menyerap pertumbuhan tenaga kerja.

Itulah yang kita lihat di lapangan. Jumlah rakyat miskin masih besar. Karena pengangguran juga besar. Meski demikian, kita tetap apresiatif terhadap upaya pemerintah untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi yang meluluh lantakkan perekonomian dunia itu.

Untuk saat ini, di tengah pandemi, pertumbuhan ekonomi 7,07 adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Mungkin terbesar di dunia. Kita patut menghargai upaya pemerintah dalam mengatasi ekonomi dan pandemi. Apa pun upayanya. Termasuk memberikan subsidi pajak terhadap pembelian barang mewah (mobil) dan bantuan langsung tunai kepada penduduk miskin. Bravo!

*ketua Fraksi PPP DPR-RI

 

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini