Bersepeda bukan lagi menjadi sebuah trend bagi masyarakat kota di tengah upaya untuk mengurangi jumlah polusi udara yang disebabkan oleh karbondioksida. Akan tetapi bersepeda juga bisa dijadikan sebuah hoby dan petualangan untuk mengarungi Indonesia.

Melalui aktivitas bersepeda berbagai pengalaman dengan berjumpa banyak orang akan menambah dan memperkuat tali silaturahmi sesama manusia. Hal itu yang dilakukan oleh sosok Sjamsu Hadi yang merupakan pria asli Jawa Timur yang selama ini lebih dikenal dengan sapaan Cak Poo.

Saking dikenalnya Cak Poo dalam dunia bersepeda Indonesia, wajar saja apabila ia kini bergabung dalam Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) di Jawa Timur. Kita semua tahu ISSI adalah organisasi olah raga sepeda nasional yang ketua umumnya adalah Raja Sapta Oktohari.

Dalam pengakuannya tentang bersepeda kepada eksplore.co.id, Cak Poo mengatakan, hobi bersepedanya ini memang sudah dijalani sejak remaja. Dengan bersepeda, katanya, selain menjaga kesehatan juga memiliki sensasi sendiri apalagi jika perjalanan naik turun dengan problematika yang dialami itu–menambah kenikmatan hidup yang susah di ceritakan.

Ditengah usianya yang menginjak 56 tahun, Cak Poo terus bersemangat bersepeda, apalagi di tengah kondisi Covid – 19 ini. “ Saya terus berkeliling Indonesia saat ini sekaligus juga dalam rangka memaknai kemerdekaan Indonesia yang ke – 76,”paparnya.

Dalam biografi Cak Poo, diketahui ternyata ia merupakan pensiunan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Surabaya. Bahkan, sewaktu Wali Kota Surabaya di pimpin oleh Tri Risamaharini di tahun 2013, Cak Poo pernah di amanahi untuk membina anak – anak jalanan (LIPONSOS) sebagai pembina Club TOP 1.

“Saat itu saya memberikan perhatian kepada para gelandangan, termasuk anak – anak gelandangan yang jualaan dipersimpangan jalan, pengemis, pengamen, juga orang dengan gangguan jiwa supaya tidak berkeliaran di jalan,”terangnya.

Gerakan sosial LIPONSOS tersebut, ketika Tri Risamaharini menjad menteri Sosial berubah nama Kampung Anak Negeri. Di program tersebut, semua anak – anak jalanan, gelandangan pengemis, pengamen di bina dengan baik.

Sementara Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kampung Anak Negeri Dinsos Surabaya Erni Lutfia menyampaikan anak-anak yang tinggal di Kampung Anak Negeri memiliki berbagai latar belakang. Mereka berasal dari anak putus sekolah, anak hasil penjangkauan, hingga anak-anak hasil penertiban razia Satpol PP di jalanan. ”Bagi anak jalanan yang terkena razia Satpol PP selanjutnya didata, jika masih mempunyai keluarga akan dipulangkan. Sementara yang tidak mempunyai keluarga, kami bina di Kampung Anak Negeri,” kata Erni.

Erni mengatakan, saat ini Kampung Anak Negeri ditinggali sebanyak 35 anak. Mereka berusia rata-rata mulai dari 7 hingga 18 tahun. Sistem pembinaan yang diterapkan pun ada dua jenis. Yakni pendidikan formal dan non formal. “Untuk pendidikan formal, mereka bersekolah. Kalau SD di SDN Kedung Baruk, SMPN 23 dan SMKN 10 Surabaya,” tuturnya.

Sementara itu, bagi anak yang mengalami putus sekolah atau di drop out, akan diikutkan kejar paket. Setiap hari, Kampung Anak Negeri tidak pernah sepi dari aktivitas. Sejak pagi, mereka sudah diajak untuk sholat subuh berjamaah. Selanjutnya, bagi yang menempuh pendidikan formal, akan diantar ke sekolah. Sementara itu, bagi anak yang menempuh pendidikan kejar paket, siangnya diberi kegiatan wirausaha. Bahkan, Erni mengaku, ada juga pembinaan untuk keagamaan yang berkaitan dengan baca tulis Al-Qur’an setiap malam sehabis shalat maghrib. “Untuk malam harinya, usai shalat isya mereka kemudian belajar keterampilan minat dan bakat. Ada yang berlatih seni melukis, musik, olahraga tinju, balap sepeda, dan silat,” katanya.

Inspirasi Kaum Muda

Melihat sepak terjang Cak Poo, Rektor Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Dr. Ir. Ayub Muktiono, M.SIP.CIQaR saat menerima silaturahmi Cak Poo sangat mengapresiasi. Rektor menilai apa yang dilakukan oleh Cak Poo memberikan inspirasi bagi kaum muda khususnya pada mahasiswa Unkris. Terlebih Cak Poo sudah tak muda lagi, tapi dia terus bersemangat dalam bersepeda dari Jakarta ke Surabaya dengan melalui jalur Yogyakarta.

“Saya yakin banyak yang bisa di ceritakan oleh Cak Poo tentang berbagai hal kebaikan, baik dalam keaktifan di organisasai sepeda dan aktifitas sosialnya,”ujar rektor kepada Cak Poo dengan ditemani Warek 2 Dr. Suwanda dan Ketua Lembaga Pengembangan Kreativitas dan Kebangsaan (LPKK) Dr. Susetya Herawati di kampus Unkris.

Di kesempatan, Ayub juga meminta Ketua LPKK untuk mendorang mahasiswa jangan lembek, jangan patah semangat dan jangan beralasan untuk malas di situasi pandemi covid 19, karena kreativitas dan inovasi harus terus dibangun. Bersepeda dengan jarak yang cukup jauh dengan usia yang tidak muda menjadi satu semangat yang dapat digelorakan pada para mahasiswa , mencintai negara bangsa juga dapat dilakukan melalui hobi-nya.

Inpirasi Cak Poo, menurut rektor, bisa di kembangkan di Unkris kepada para mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan ini sangat penting untuk program LPKK untuk menumbuhkan nilai – nilai tersebut dalam implementasinya. Diantaranya adalah kewirausahaan, karakter dan kebangsaan.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini