Oleh: Ahmad Daryoko*

KALAU ada statement “PLN bisa collaps gara-gara Pemerintah berhutang dana subsidi ke PLN dan tidak dibayar-bayar”, statement spt itu hanya “modus” saja guna menutupi masalah yg sebenarnya !

Yg bikin PLN collaps saat ini adalah krn pembangkit PLN yg digunakan untuk operasional Jawa-Bali hanya yang PLTA ( untuk beban puncak saja ) dan yang PLTGU ( untuk menjaga stabilitas frekuensi saja ), yg besarnya kurang dari 4.000 MW dari total sekitar 28.000 MW yang dibutuhkan . Sedang 24.000 MW selebihnya itu adalah memakai pembangkit2 swasta IPP ( Independent Power Producer ) milik Asing dan Aseng itu ( yg didalamnya didominasi saham para pejabat atasan PLN spt LBP,JK,D.I, kakak Erick dll ). Akibatnya, karena mayoritas pembangkit swasta yg beroperasi, sedang jaringan ritail PLN sdh dijual oknum mantan DIRUT PLN ke TW dan 9 Naga , maka secara otomatis Jawa-Bali saat ini sudah berlaku mekanisme pasar bebas kelistrikan (MBMS = Multi Buyer and Multi Seller System ). Dan produk listrik MBMS itu lebih mahal 4x lipat dari listrik PLN.

Nah disinilah masalahnya ! Makanya tahun ini (2020) subsidi listrik nantinya sekitar Rp 140 triliun (sampai September Rp 106 triliun). Padahal subsidi ke PLN rata-rata per tahun hanya Rp50 triliun.

Sehingga kalau tahun depan Pemerintah tidak kuat bayar subsidi MBMS sebesar Rp 140 triliun, padahal instalasi PLN Jawa-Bali saat ini sudah dikuasai swasta , maka tahun depan PLN bubar. Yang Jawa-Bali di serahkan Aseng dan Asing, yang Luar Jawa-Bali diserahkan PEMDA.

Dan tarif listrik otomatis akan naik 4x lipat dari saat ini! Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuunn!

Jakarta, 12 Agustus 2020
*koordinator Inverst, pernah menjadi pengurus karyawan PLN

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini