SEANDAINYA aku jadi stakeholder negeri ini, sudah kukerahkan, setidaknya 1 Brigif (+)1 Ki Kav Tank , (+) 1Ki Zi Pur, ditambah perkuatan dari TNI AL, TNI AU dan Polri. Mereka akan menerobos komplek PT Indonesia Morowali Industrial Park di Sulawesi Tengah itu, dalam rangka mengamankan senjata ilegal dari Cina.

Sebanyak 1KI Yonif (+) 1 Ton Kav mengamankan dan menguasai bandara, 1 KI yonif (+) 1 Ton Kav mengamankan dan menguasai pelabuhan. Lalu, 1 KI Yonif (+) 1Ton Kav menguasai pintu masuk dan keluar dari dan ke komplek PT Morowali.

Sebanyak 1Yonif (+) 1Ton kav (+) 2 Ton Zipur menerobos masuk PT Morowali, serta 1 Yonif (+) 1 Ton Kav (+) 1 Ton Zi sebagai cadangan, sewaktu waktu siap digerakkan

Perkuatan dari TNI AL, bergabung bersama TNI AD, mengamankan dan menguasai pelabuhan dan bandara. Sedangkan satuan Polri membantu keamanan wilayah dan objek vital.

Bagi pasukan penerobos, siap menghadapi beberapa kemungkinan. Pertama, kemungkinan senjata ilegal disimpan pada satu tempat, bisa gudang, secara tersamar, tersembunyi, dilengkapi pengaman , pelindung, dan perintang, diperkuat barikade rintangan kawat berduri beraliran listrik dikombinasi ranjau anti personil dan anti tank.

Kedua, kemungkinan senjata ilegal disembunyikan di beberapa tempat atau gudang dengan sistem pengaman, pelindung, dan perintang yang sama.

Dengan Pra-anggapan; satu, sejak setahun terakhir, terutama 3 bulan terakhir, lebih khusus 1bulan terakhir, telah dilakukan penyelendupan senjata ilegal secara besar-besaran dari Cina, terutama senjata tempur laras panjang. Jumlahnya bisa mencapai sedikitnya 5.000 pucuk atau 20 kali lipat dibanding kekuatan senjata Gerakan Pengacau Liar di Papua.

Dua, tidak ada informasi akurat dan aktual terkait kedatangan dan penyimpanan senjata, akibat tertutup dan tidak transparannya yang berwenang. Tiga, jika tidak segera ditangani, komplek PT Indonesia Morowali Industrial Park dan hutan sekitarnya, akan bisa digunakan sebagai basis Pos Komando Utama dan Pos Komando Taktis pasukan Cina dan perkuatannya, yang dapat menjadi ancaman dan bahaya besar keamanan negara. Ini merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan negara di satu sisi dan di sisi lain tidak pernah dilakukan operasi pencegahan di pelabuhan-pelabuhan kecil di Morowali dan sekitarnya.

Empat, tindakan awal atau pencegahan tentu jauh lebih efektif dan efisien, baik ditinjau dari beaya atau resiko nyawa dan harta benda. Lima, gambaran dan perhitungan di atas, dilakukan tanpa berdasarkan fakta dan data valid atau aktual, tapi sekadar prediksi atau praanggapan yang belum dibuktikan dan dijamin kebenaranya.

Namun setidaknya saya mengajak berpikir sesama dan semua komponen bangsa untuk bersama-sama menjaga kedaulatan negara ini.

Meskipun sudah ada badan atau instansi yang menangani masalah ini, namun tidak ada salahnya, kita ikut peka dan peduli demi terwujudnya NKRI yang berkedaulatan.

Bandung, Kamis, 16 April 2020

*Sugengwaras, purnawirawan TNI-AD ketua APIB Jabar.

Advertisement

1 KOMENTAR

  1. Kalo tdk berdasar fakta bgmn mnrut masyarakat klo ini hanya dibilang/ dianggap hoax, Pak?…
    Bukankah hal ini sungguh nyata terjadi?!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini