Oleh Himawan Sutanto*

PERTENGAHAN tahun 1984, ada cerita yang sampai sekarang lucu ketika saya sekolah SMA, cerita tersebut bermuala dari seseorang yang mengikuti kursus jurnalistik di Yogyakarta tempat dosen senior UGM Ashadi Siregar. Namanya kerja belum jelas, hidup sebagai penulis lepas dengan honor pas-pasan, maka semuanya kudu cari yang murah, tapi megah. Makan di warung minta kuahnya banyak.

Saat harus pangkas rambut, cari murah juga.Yang namanya murah, tentu, risiko tidak dijamin. Baru separo rambut kepala dipangkas, malapetaka menimpa. Tukang cukur terserempet becak, roboh. Itu pak tua tukang cukur jatuh terjengkang. Jangankan melanjutkan pekerjaannya, berdiri pun harus dibantu. Masih menggunakan kain pelindung rambut, mirip jubah Superman yang posisi terbalik (bukan di belakang) dan kepala separo botak, saya harus menolong pak tukang cukur.

Peristiwa tersebut terjadi di alun-alun utara Yogyakarta, dimana tukang pangkas rambut DPR alias Di bawah Pohon Rindang. Jadi, sebetulnya, DPR itu tidak mutlak harus berarti Dewan Perwakilan Rakyat. Bisa juga Dalam Pengaruh Ranjang, seperti kata Permadi, tembok gedung parlemen itu saksi bisu terhadap anggota Dewan yang suka pacaran.

Kalau dikaitkan dengan Organisasi Dagelan Srimulat, maka DPR bisa berarti Dagelan Penghibur Rakyat. Faktanya, sampai sekarang pengibaratan bahwa pabrik ketawa Srimulat bubar karena kalah lucu sama gedung sebelahnya belum pernah diprotes dan disangkal secara nasional.

Trio Kudeta
Cerita diatas barangkali menginspirasi Trio Kudeta; Moeldoko, Nazarudin dan Jhoni Alen Marbun. Dimana saat wabah pandemi covid 19 relatif pertunjukan panggung hiburan relatif berhenti total. Sehingga WFH (Work From Home) menjadi alternatif untuk kegiatan dipindah dirumah saja dan tentu yang membuat gelisah adalah seniman panggung seperti komedian ataupun para musisi dan pelawak yang selama ini manggung secara live di berbagai daerah di Indonesia yang terasa dampaknya.

Dikarenakan wabah virus covid 19 telah menyerang dibelahan dunia relatif kegiatan kesenian dan panggung hiburan relatif berhenti. Sementara untuk mencegah itu semua dilakukan PSBB secara ketat karena dengan angka paien yang terus meningkat bahkan sampai memasuki angkan 1 juta. Sementara vaksin belum diketemukan dengan munculnya virus covid 19. Baru bulan Oktober sampai Desember 2020 vaksin sudah ditemukan dari bebagai negara. Toh juga belum mampu menormalkan kegiatan hiburan yang terhenti lama.

Ketika presiden beserta jajarannya lagi serius mengatasi jumlah kenaikan pasien covid 19 turun, bak disamber petir, tiba-tiba menyeruak isu politik yang dimainkan oleh orang dekatnya yakni ketua KSP, Moeldoko. Dimana Moeldoko membuat kegaduhan dengan menjual nama Jokowi telah menyetujui langkahnya mengambil posisi ketua umum Partai Demokrat. Hal itu mendapat sokongan dari kader yang telah dipecat oleh partai yaitu Nazarudin karena korupsi dan kader aktif Jhoni Alen Marbun yang sekarang masih menjadi anggota DPR RI. Trio kudeta demikian nama yang pantas dijuluki kepada ketiganya. Karena trio ini adalah otak dibalik kudeta gagalnya mengambil alih posisi Ketua Umum AHY dengan mengadakan KLB (Kudeta Langsung Bayaran) istilah Sule dan Andrey barangkali lho.

Gagal Kudeta
Barangkali yang paling tepat untuk Moeldoko adalah membuat grup lawak dimasa pandemi, karena ketika Jokowi serius menangani wabah virus covid 19, Moeldoko justru melakukan manuver politik yang kontra produktif dengan semangat Jokowi. Bahkan nama Jokowi dicatut sebagai orang yang merestui kegiatan pengambil alihan Ketua Umum AHY secara inskontitusiona. Hal itu mengundang para ketua DPD dan DPC Indonesia untuk terlibat dalam menyelenggarakan KLB yang di fasilitasi Nazarudin (kader yang dipecat tidak hormat karena korupsi) dan Jhoni Alen Marbun (kader aktif sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat).

Karena Moeldoko adalah pemain baru dalam politik, dia salah dalam menjalin konspirasi dengan para mantan kader Demokrat yang bermasalah. Ambisi menjadi capres 2024 telah digagalkan sendiri oleh tim yang dia hadir di salah satu hotel di bilangan Kuningan.. Setelah terbongkar karena para pengrus DPC dan DPD yang hadir lapor ke DPP kemudian setelah dilakukan investigasi oleh DPP Partai Demokrat, lalu AHY melakukan jumpa pers. Yang menarik adalah Moeldoko mengklarifikasi secara online lalu satu haru berikutnya melakukan jumpa pers denga mengklarifikasi yang dilakukan sendiri Yang menarik lagi Moeldoko menambah dengan menyebar pertemuan foto LBP pada para kader Partai yang dipecat oleh AHY setahun yang lalu. Seolah-olah dia minta pembenaran dengan melibatkan LBP dalam kasusnya. Sementara jejak digital tidak bisa dibohongi oleh seorang Moeldoko.

Cerita itu lebih menarik ketika menggunakan para buzzer untu melakukan pembelaan yang konyol di sosial media, ada yang bilang AHY baper dan lain-lain, bahkan ada yang melaporkan AHY oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pusaka Muda Nusantara (DPP PMN), Muhammad Zimah terhadap Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ditolak oleh Bareskrim Polri pada Kamis, 4 Februari 2021. Rencananya, Zimah akan balik lagi pada Jumat, 5 Februari 2021. Bahkan para mantan kader senior partai Demokrat pada keluar dan menjadi seorang pengamat dadakan dengan versinya sendiri agar bisa meraih keuntungan politik sendiri dan tak lepas mencatut beberapa nama pendiri partai salah satunya Dr. Subur Budhisantoso ketua pertama Partai Demokrat.

Kudeta yang gagal seharusnya menjadi grup lawak saja dengan nama “Trio Kudeta” agar rakyat bisa terhibur dengan manuver politisi yang konyol di dalam rumah orang lain dan terbongkar. Akan lebih gagah dari seorang aktor senior Pong Harjatmo yang heroik saat memanjatt kubah gedung DPR dan menuliskan kalimat dengan pilok dan terjadi terjadi pro-kontra kelakuan tersebut, banyak orang geli mendengar kabar tersebut. Pong secara ndagel dan cerdas melakukan protes terhadap kinerja para wakil rakyat yang suka bolos itu. Lewat talkshow di Studio Radio Trijaya, Pong mengaku sudah kesal sama sejumlah anggota Dewan. Saking kesalnya, pria berusia 67 tahun ini nekat naik lewat steager yang sedang ditinggalkan tukang cat dinding Gedung DPR.

Pong adalah juga juga simpatisan Partai Demokrat dan sempat menjadi bagian humas saat partai ini berkongres di Bali. Barangkali nama “Trio Kudeta” akan lebih lucu dari Sule dan Andrey yang sekarang justru menjadi youtuber dan ini kesempatan Tri Kudeta eksis di tengah pandemi virus covid 19. Semoga tidak ada yang memanjat istana negara seperti Pong Harjatmo.

*Koordinator Jaringan Nusantara

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini