Puspayoga: Jika Koperasi dan UKM Kuat, Tak Perlu Khawatirkan Rupiah

SEMARANG – EKSPLORE (19/9/2018) – Sektor riil yang digarap kalangan koperasi dan UKM (KUKM) diyakini mampu menangkal situasi ekonomi yang melemah akibat merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Dan, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga yakin, upaya yang dilakukannya mampu memperkuat kondisi KUKM.

Upaya yang sudah dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM, kata Puspayoga, meliputi penurunan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari 9% menjadi 7% per tahun. Upaya lainnya, dalam bentuk reformasi terhadap kelembagaan koperasi. Yaitu, tiga langkah strategis yang meliputi reorientasi, rehabilitasi, dan pengembangan koperasi. Dampak yang signifikan, kata Puspayoga, adalah meningkatkan kontribusi koperasi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,48% yang setara Rp452 triliun.

Hal itu diungkapkan Menkop dan UKM saat membuka pelatihan perkoperasian bagi 4.000 mahasiswa anggota Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang (18/9/2018). “Ekonomi kita itu dikuasai oleh UKM yang ada di wadah koperasi, makanya situasi global goyang Indonesia tidak terdampak besar karena UKM dan koperasi kuat. Kalau dolar naik itu sementara dan yang terdampak itu pengusaha besar bukan UKM. Kalau gak ada koperasi dan UMKM sudah bangkrut kita,” tandasnya.

Pelatihan perkoperasian yang mengambil tema “Be a Millenial Entrepreneur With Cooperative” ini diadakan selama dua hari
Saat pembukaan, Menkop Puspayoga menyodorkan program pelatihan kewirausahaan kepada UIN Walisongo, tahun depan. Kemenkop dan UKM akan menyiapkan tenaga pengajar yang berpengalaman untuk memberi pelatihan kewirausahaan kepada mahasiswa. “Jadi semua kita latih untuk kewirausahaan sesuai dengan bidang yang diinginkan. Kita punya instruktur yang kapabel,” tutur mantan Walikota Denpasar ini.

Puspayoga menjelaskan, usai pelatihan nanti, pihak Kementerian Koperasi dan UKM akan memberikan bantuan modal usaha maksimal Rp13 juta setiap orang. Nsmun, katanya, penerima bantuan itu tidak semua, tapi akan diseleksi. Yang terang, mahasiswa yang menjadi wirausaha pemula itu akan diberikan akses pinjaman modal di bank. Kementerian juga berjanji membantu pemasaran produk yang dibuat mahasiswa.

“Nanti kalau sudah jalan silakan pakai kredit murah dengan bunga murah, yaitu KUR. Dengan catatan jangan lupa kuliahnya. Biasanya kalau asyik dagang malah lupa kuliah,” katanya sambil berseloroh dan menyempatkan berdialog dengan mahasiswa peserta pelatihan.

Nafidah Isma, salah satu di antaranya. Mahasiswa semestet satu itu mengungkapkan kepada Menkop bahwa ditinya sudah mulai usaha doodle mart sejak klas III SMP. “Masalahnya di situ pak. Waktu masih sekolah itu saya harus kejar-kejaran dengan tugas sekolah. Mudah-mudahan saya bisa membagi waktu dengan baik,” ungkapnya.

Enam Jenis Usaha

Di tempat yang sama, Duta Koperasi Nasional Rano Karno turut memberi materi “Strategi Bisnis di Era Milenial” pada hari kedua. Menurut artis ini, ada lima strategi yang harus dilakukan para wirausaha pemula. Pertama, pelaku usaha harus memprioritaskan membuat pengalaman brand yang positif.

Kedua, membidik kelompok sosial bukan rentang usia. Ketiga, gaet influencer yang sejalan dengan produknya. Keempat, menggunakan konten soft selling pada saat beriklan. “Dan kelima, yakni harus memanfaatkan sistem cashless,” kata Rano.

Menurut Rano, ada enam jenis bisnis yang cocok untuk dikembangkan oleh generasi milenial. Yakni bisnis start up, bisnis afiliasi, kafe, bisnis fotografi, bisnis online dan bisnis resto. Jenis bisnis tersebut lanjut Rano sesuai dengan karakteristik generasi milenial yang suka tantangan, sifat pekerja keras dan berpikir positif.

Rano menjelaskan bisnis startup merupakan ide generasi milenial. Hadirnya bisnis ini mengubah aktivitas sehari-hari manusia, misalnya saat berbelanja. Jika dulu jual beli barang dilakukan di pasar, kini kita sudah bisa melakukannya lewat media sosial. “Barangnya pun dapat sampai ke alamat yang dituju tepat pada waktunya,” paparnya.

Sedangkan bisnis afiliasi yang terdiri dari blogger, vlogger, ataupun YouTuber, biasanya memanfaatkan afiliasi untuk mendapatkan uang. Afiliasi ini sendiri merupakan bentuk kerja sama antara pemilik bisnis online dan blogger untuk membantu memasarkan barang yang dijual online shop tersebut.

Untuk bisnis kafe, dulunya digunakan sebagai tempat makan, kini beralih fungsi menjadi tempat tongkrongan hit anak muda. Nongkrong di kafe pun sudah jadi rutinitas kaum milenial saat pulang kerja, pulang kuliah, ataupun saat weekend. (b2)

(b1)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini