Jakarta, (Eksplore.co.id) – Rektor Universitas Krisnadwipayana (Unkris), Dr. Ayub Muktiono dan Direktur Eksekutif Wellbeing Institute (WI) Dr. Jadi Suriadi, melakukan silaturahmi ke kantor Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) Kementerian Dalam Negeri, Jl. Kramat Raya No. 132, Senen – JakartaPusat,dengan menaati protocol kesehatan, kemarin Senin (17/5/2021). Dalam silaturahmi tersebut, juga dilakukan diskusi tentang “Wellbeing Methodology untuk Riset Publik” yang kini telah diterbitkan dalam bentuk buku.

Dr. Jadi Suriadi, yang mewakili 6 penulis buku menjelaskan tentang riset public dalam perspektif Wellbeing Methodology (WD), yang dimaknai sederhana sebagai suatu riset yang objek kajiannya diidentifikasi berorintasi pada kemaslahatan umat, dimana subjek penilainya adalah masyarakat. Secara umum WI mengacu pada rancangan riset publik dalam bentuk model inklusivitas sebuah riset yang melibatkan sebesar-besarnya peran dan partisipasi masyarakat.

Menurut Jadi, model WD membangun persepsi, membuka ruang partisipasi public dan tingkat penerimaan publik (akseptabilitas) dalam berinteraksi dan salingmengedukasi (people to people education). Riset Publik dengan WD, menawarkan konsep sistem online, data diolah oleh sistem komputasiawan (cloudcomputing), cukup diunduh dari web, sehingga diusunglah slogan: mudah, murah, praktis, cepat namun valid dan reliabel.

Model riset model WD relevan dengan kondisi saat ini ketika sistem demokrasi di Indonesia, dengan penguatan Civil Society sedangkan masyarakat memiliki hak dan sekaligus kewajiban untuk aktif berperan dan berpartisipasi dalam isu publik.

“Mengisi instrumen survei riset publik yang berfokus kepada perbaikan ukuran “Indeks Kemaslahatan Publik” (IKP) merupakan bagian hak dan kewajiban masyarakat. Korelasi logisnya, riset publik harus dilakukan masyarakat dengan baik dan benar. Sebab, hal ini turut membangun budaya civil-society, yang mengedepankan keseimbangan antara hak dan kewajiban,”tuturnya.

Kemudian ditengah berlangsungnya diskusi, Kuriositas Kepala BPP memberikan pertanyaan kritis, apakah riset public model WD itu memenuhi kualifikasi kajian ilmiah? Siapa pula yang telah memanfaatkannya?

Mendengar pertanyaan tersebut, Jadi menjawab, sulit memang menjelaskannya, tetapi konsep WM telah dipelajari WI sejak 2011 dan secara konsisten terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa studi doktoral (S-3) dan magister (S-2) telah mengaplikasikannya secara terbatas. “Terkait dengan hal tersebut, maka perlunya membangun sinergi dengan BPP Kemendagri,”kata Jadi.

Secara konseptual, materi riset publik telah menjadi agenda kerjasama antara Unkris dengan WI sejak 2017 melalui Kegiatan Riset Publik – Indeks Pengendalian Sampah Rumah Tangga (IPRST) di Kota Bekasi. Harapannya, kelak WM dapat diterapkan kepada seluruh Pemerintahan Daerah, terutama untuk menggali isu-isu krusial seperti Indeks Literasi Investasi Daerah, IndeksLiterasi Pangan dimasa Pandemi COVID-19, Indeks Demokrasi Daerah, Indeks Literasi Gizi Anak dan Isu Stunting, dan berbagai isu publik lainnya.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini