Himawan Sutanto*

MANUVER politik Sekjen PDIP Hasto Kristanto berbuntut panjang. Setelah mengeluarkan pernyataan tidak bisa koalisi dengan PKS dan Partai Demokrat, justru mendapat balasan yang beragam dari politisi Partai Demokrat. Baik dari Andi Arief, Rachlan Nasidik dan pengurus DPP Partai Demokrat.

Hal itu sangat wajar jika Hasto melempar pernyataan karena mau mengalihkan isu Puan VS Ganjar dan TWK KPK yang berbuntut panjang karena perlawanan dari para pegawai yang tidak lolos TWK (Tes Wawasan Kebangsaan). Hal itu sangat wajar jika Jokowi mendapat gempuran politik yang sangat sulit terhindar dari sorotan rakyat Indonesia via media sosial.

Hasto pasti paham akan konsekuensi pernyataannya. Sebagai politisi yang siap menjadi juru bicara kekuasaan (lewat partai), Hasto tampil sebagai seorang politisi dungu (istilah RG). Dimana bukan dukungan, tapi hujatan para nitizen.

Alih-alih pernyataan Hasto berbalik menyerang dirinya sendiri. Bahkan Hasto menunjukkan kepanikan dengan mencari sentimen politik lewat SBY, dimana tidak ada hujan atau angin. Hal itu membuat para pendukung SBY melakukan perlawanan dengan pertanyaan : Hasto panik dan kenapa tidak membantu mencari Harun Masiku yang sampai sekarang belum tertangkap ? Atau Hasto mau mengalihkan isu Bansos yang menimpa kader PDIP Juliari Batubara?

Tangkap Harun Masiku

Pernyataan di atas sangatlah wajar, sebab selama ini KPK telah banyak menangkap kader PDIP yang menjadi kepala daerah. Sampai puncaknya penangkapan Mensos Juliari Batubara kader utama PDIP. Barangkali kepanikan PDIP tampak jelas dari manuver Hasto yang mensasar SBY dan itu sangatlah wajar Hasto ingin mencari simpati rakyat yang semakin turun kepercayaannya pada Jokowi.

Hasto sebaiknya lebih fokus pada penangkapan Harun Masiku dengan memperkuat KPK, bukan malah mendukung pelemahan KPK. Kepanikan Hasto tampak jelas dengan manuver ke sana kemari dengan tidak jelas.

Karena gejala gangguan kepanikan Hasto umumnya mulai dialami di akhir kefrustasian menghadapi gempuran politik kekuasaan. Dalam teori kepanikan akan terjadi pada setiap manusia yang mengalami depresi politik dan tidak setiap orang yang mengalami serangan panik akan mengembangkan gangguan panik. Atau kata para ahli “seseorang mungkin memiliki gangguan panik jika sering mengalami serangan panik di waktu yang tidak terduga dan tanpa pemicu yang jelas.”

Depok, 30 Mei 2021

*pemerhati masalah politik dan budaya

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini