Oleh Anton Permana*

PERTANYAANdi atas akan sangat mudah di jawab kalau TNI-Polri kita hari ini para elitnya netral dan berintegritas. Yaitu, sama antara apa yang di ucapkan dan perbuatan. Antara jawaban teoritis dan praktis.

Kenapa hal ini perlu kita pertanyakan? Sebagai rakyat, tentu kita semua mempunyai hak untuk kembali menanyakan tupoksi TNI-Polri kita hari ini. Sebagai rakyat, kita punya hak apakah TNI-Polri kita hari ini masih bersama rakyat sesuai mottonya yang selalu terpajang di santero kantor dan markasnya. “TNI dari rakyat, untuk rakyat. Bersama rakyat, TNI kuat”. Begitu juga dengan jargon Polri kita, “Mengayomi, Melindungi, dan Melayani Masyarakat”.

Urgensi kritikan pertanyaan diatas itu adalah, representasi sebuah kegelisahan rakyat melihat kondisi bangsa kita hari ini. Yang mungkin sulit di ucapkan karena banyak faktor.

Kalau kita berbicara dimensi pertahanan, dimana TNI sebagai leading sektor utamanya. Dengan merebaknya dan terbukanya secara luas insiden RUU HIP ini kepada publik, dimana secara opini publik yang di dukung oleh kajian para pakar dan akademisi menyatakan bahwa ; telah terjadi sebuah upaya sistematis untuk merubah atau mengganti dasar negara Pancasila menjadi Trisila kemudian Eka Sila. Dimana hal ini secara UU nomor 27 tahun 1999 pasal 107 (ayat) a sampai dengan e sudah bisa di katakan dengan upaya makar terhadap dasar negara yaitu Pancasila.

TNI sebagai garda terdepan penjaga Pancasila, kita lihat hari ini seperti ‘melempem’. TNI yang selama ini gagah di mata rakyat, dengan seragam lorengnya yang mentereng, dengan berbagai macam alutsista nya yang sangar, dengan berbagai macam prestasi dan kerjanya yang wahh, hari ini kita lihat begitu jauh berbeda dari yang di harapkan.

Mungkin apa yang saya pertanyakan ini tak ada yang berani menyatakannya secara terbuka kepada publik karena banyak alasan. Namun sebagai keluarga besar TNI, yang saya di bina dan di gembleng secara berjenjang hingga pendidikan reguler Lemhannas RI, merasa sedih dan miris melihat TNI hari ini.

Sudah begitu terang benderang, Pancasila kita hari ini di rusak dan mau di ganti menjadi Eka Sila, tetapi kita sebagai rakyat tidak ada melihat sebuah respon sebagaimana seorang patriot dan prajurit sejati sapta marga.

Kemana sumpah setia prajurit, integritas, dan patriotisme TNI hari ini ? Apa sebenarnya yang sedang terjadi ? Kemana TNI disaat rakyat turun serentak di santero negeri teriak dan marah karena ada yang coba-coba mau mengganti Pancasila ?

Kemana TNI hari ini, ketika para antek-antek komunis, para anak keturunan PKI begitu angkuhnya seolah menjadi pemilik negeri ini ?

Kemana mata dan telinga inteligent TNI, fungsi teritorial TNI melihat kondisi hari ini ?

Kami sebagai rakyat sedih. Kami sebagai bahagian dari keluarga besar TNI jadi miris. Inikah wajah TNI yang kami banggakan hari ini ???

Tidak kah para Bapak TNI yang terhormat tidak lagi merasa PKI itu sebagai ancaman ? Tidak kah para Bapak TNI kita hari ini merasa Pancasila itu masih perlu untuk di pertahankan ?

Tidak kah TNI kita hari ini merasa gelisah ketika kerusakan terjadi dimana-mana, kedaulatan negara sedang tergadai, politik kekuasaan jadi panglima, pemikiran ala PKI meraja lela, sendi-sendi ketahanan negara sedang di preteli, banyak lagi yang mau kita sebutkan yang seharusnya TNI yang harus lebih dulu mengetahuinya.

Begitu juga dengan yang terhormat Bapak Polisi kita hari ini. Masihkah jiwa tribatra ada di dalam jiwa-jiwa Bapak ? Masih kah Polisi kita hari ini sebagai bhayangkari negara ? Masihkah Polisi kita hari ini hadir untuk mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat ?

Insiden RUU HIP yang terjadi hari ini mohon jangan dianggap masalah sepele. Ini adalah permasalahan serius. Ini upaya makar untuk mengganti Pancasila.

Jangan dibiaskan seolah hal ini hanyalah masalah politik biasa, masalah cebong dan kampret, konflik antara kadrun dan PKI, atau framing politik lainnya.

Seandainya rakyat tidak turun ke jalan, seandainya rakyat tidak turun serentak, maka Pancasila sebagai pemersatu bangsa, sebagai falsafah dan identitas negara hasil kesepakatan para pendiri bangsa ? Saya tak tahu apa yang akan terjadi.

Karena kalau sudah Pancasila yang di ganti, maka lepas sudah sendi utama negara Indonesia yang majemuk. Kalau Pancasila yang sudah diganti, itu sama saja Indonesia yang di proklamasikan pada tanggal 17 agustus tahun 1945 sudah tidak ada lagi.

Untuk itu wahai para Bapak TNI-Polri kebanggaan rakyat Indonesia. Saat ini semua mata dan harapan tertuju kepadamu. Rakyat tidak peduli dengan permasalahan hirarki atau persoalan klasik loyalitas di internal institusimu.

Yang rakyat tahu, saat ini, negara sedang di obok-obok oleh sebuah kelompok golongan politik yang ingin mengganti Pancasila. Semua fakta dan bukti sudah jelas terang benderang semuanya. Negara saat ini diambang pintu perang saudara. Antara rakyat bersatu dengan sekelompok golongan politik para pengkhianat negara.

Kami rakyat Indonesia menunggu loyalitasmu. Kami rakyat Indonesia menunggu sikap konkrit dirimu sebagai patriot bangsa. Sebagai bhayangkari negeri. Apakah masih ada merah putih di dadamu ? Apakah masih ada Pancasila di hati mu ? Apakah masih ada Indonesia di dalam darah dan jantungmu ? Apakah masih ada janji sumpah setia terhadap negara di dalam hati mu ??

Saat ini, rakyat Indonesia sudah bersatu dari seluruh komponen baik itu tua dan muda. Semua sudah bersiap siaga. Dari Sabang sampai merauke. Baik itu para seniormu para Purnawirawan TNI-Polri meskipun sudah pensiun, tapi tetap memegang teguh prinsip sapta marga seorang prajurit.

Para musuh negara dan kelompok pengkhianat Pancasila juga bersiap siaga merasa jumawa karena lagi berkuasa.

Pilihan hari ini ada pada dirimu wahai kesatria bangsa. Membiarkan negeri ini hancur lebur menjadi negara komunis ? atau turun bergabung bersama rakyat Indonesia membela Pancasila ?

Pilihan saat ini ada pada dirimu, loyal setia kepada politik kekuasaan yang ingin menjadikan negara berhaluan komunis ? Atau loyal dan setia bersama rakyat bersama Pancasila.

Tapi yang jelas. Kami tidak akan rela, Pancasila diganti dan di kebiri. Siapapun mereka. Apapun pangkat dan jabatannya.

Pancasila sudah final. Jangan coba utak-atik lagi. Mengganti Pancasila, berarti siap perang dengan seluruh rakyat Indonesia.
Salam Indonesia Jaya !
Jakarta, 26 Juni 2020

*penulis alumnus Lemhanas, pendiri Tanhana Dharma Mangrwa Institute

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini