Oleh: Joko Intarto*

Saya kembali menulis konsep pasar tertutup. Inilah kekuatan pasar yang bisa diandalkan untuk menggerakkan usaha UKM. Inti pasar tertutup adalah pasar yang bisa diproteksi sehingga tidak bisa dimasuki produk lain.

Dalam perdagangan internasional, pasar tertutup ini ditentang oleh organisasi WTO. Indonesia yang dulu protektif terhadap produk asing sekarang tak berdaya.

Dalam skala lebih kecil pasar tertutup masih bisa dijalankan oleh komunitas. Misalnya, pesantren dan boarding school. Semua civitas academica di lembaga tersebut merupakan pasar yang potensial. Bisa juga mereka dilibatkan sebagai pemasok melalui program entrepreneurship. Sebut saja: Santripreneur.

Bidang usaha yang dipilih bisa bidang-bidang dasar seperti peternakan, pertanian, perikanan. Bidang usaha itu bisa memanfaatkan lahan pesantren yang umumnya luas.

Untuk mengetahui kebutuhan pasar tersebut, saya melakukan riset kecil-kecilan di dua pesantren. Masing-masing pesantren berkapasitas 200 orang dan 700 orang. Hasilnya seperti dalam tabel.

Nah, dari kebutuhan tersebut, selama ini pesantren mendapat dari mana? Tentu dari pemasok. Siapa pemasoknya? Seberapa besar kontribusi mereka terhadap kemandirian pesantren?

Bila Muhammadiyah bisa menerapkan konsep pasar tertutup untuk beberapa komoditas, rasanya akan ada jutaan petani yang tidak perlu bergantung hidup dari para tengkulak dan lintah darat.
Selamat milad Muhammadiyah.

*penulis wartawan senior, konsultan komunikasi dan televisi. Tulisannya didedikasikan untuk Milad ke-107 (1912-2019) Muhammadiyah

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini