Purwanto Wijoyo

YANG sering kita dengar adalah customer satisfaction. Ada questioner untuk mengukurnya. Ada lembaga profesional bila ingin hasilnya detail & bagus, sesuai kaidah akademis. Sebenarnya ada tolok ukur yang sederhana. Repeat order. Bila itu terjadi berarti anda sudah memuaskan pelanggan, menggaet pelanggan baru.

Stakeholder, bukan hanya customer. Tapi juga karyawan, pemasok, rekanan angkutan, investor, lingkungan sekitar kantor atau proyek atau pabrik, bahkan aparat. Semua harus dijaga kepuasannya. Harus di-maintain. Kita harus respect terhadap mereka semua. Pengusaha tradisional, maaf, sering sewenang-wenang terhadap sub ordinat, seperti karyawan & supplier. Ini berbahaya. Kalau pengusaha tersebut belum bangkrut, dia beruntung.

Karyawan yang puas, enjoy di tempat kerja, akan berbuat maksimal untuk perusahaan. Energi positif yang timbul. Dengan senyum & semangat yang akan menular ke karyawan lain & ke customer. Bayangkan bila salesnya jutex, manyun, galak. Bubar perusahaan. Seharusnya bukan hanya  sales, tapi semua karyawan bersikap seperti itu. Sikap sebagai pelayan, melayani stake holder tadi.

Supplier yang puas dengan kita, akan memberikan produk terbaik & harga terbaik. Tentu hal ini mendukung competitiveness perusahaan kita. Jangan, bahasa kasarnya, diinjak-injak. Seolah-olah dia yang butuh kita. Apa jadinya bila semua supplier ngasih harga ke kita mahal, atau barang jelek. Hancur brooo !

Rekanan angkutan juga memegang peran penting. Baik harga maupun social cost. Pernah kejadian, terjadi kecelakaan yang ada korban jiwa. Bisa keseret kasus ini. Dipanggil polisi.

Investor juga pegang kunci. Kalau sampai gak puas, susah ke depannya. Saat ini sulit berusaha tanpa melibatkan investor. Biasanya yang diminta investor adalah keterbukaan. Terutama cashflow. Dan tunjukkan kinerja yang bagus. Itu cara memuaskan investor.

Lingkungan sekitar juga harus dipuaskan. Warga berpikir positif terhadap keberadaan kita. Ada contoh menarik. Minggu lalu, ada calon konsumen kami, mau nengok lokasi perumahan yang kami bangun. Dia kesasar. Nanya ke warga. Si warga ini menjelaskan panjang lebar tentang lingkungan di situ. Setelah itu calon konsumen tadi ke lokasi & cuma sebentar. Deal. Minat beli rumah.

Contoh ke-2. Beberapa hari kemudian calon konsumen yang lain mau nengok lokasi. Kesasar lagi. Ketemu warga, dianterin ke lokasi. Saya tidak kenal dengan warga tadi. Kok bisa jadi agen marketing saya. Gratis.

Contoh ke-3. Pembeli rumah yang awal, terutama yang langsung rumahnya ditempati, bisa punya peran strategis. Orang yang mau beli rumah, biasanya nanya-nanya juga ke penghuni itu. Kalau jawabannya positif maka akan sangat berpengaruh terhadap keputusan membeli rumah. Kalau nyacat, jelek2in kita, ya habis. Kukut mas …

Aparat yang friendly juga kita butuhkan. Untuk urusan administrasi misalnya. Kita sudah dapat bocoran & dikasih tahu harus bagaimana.

Jadi yang harus dibangun adalah budaya melayani.  Semua personel berpikir untuk melayani semua orang. Siapapun itu harus dilayani. Bukan sekadar memberi uang banyak. Tapi sikap. Dimulai dari senyum. Insya’Allah barokah. Aamiin.

Jetis Bantul 1 Agustus 2020.
*penulis pengembang, Direktur PT Biru Gapala Inovasi

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here