JAKARTA (Eksplore.co.id) – Di saat Indonesia ramai dilanda penyakit flu burung dan SARS, ingatan kita tertuju pada sosok  dr Siti Fadilah Supari. Menteri Kesehatan Era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Dia termasuk yang ikut menyelamatkan kita dari serangan flu burung. Siti Fadilah dinilai berani melawan hegemoni WHO dan membongkar laboratorium AL Amerika Serikat (Naval Medical Researchl Unit -2/NaMRU-2) yang ada di komplek Balitbangkes di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Siti Fadilah berhasil membongkar konspirasi pengadaan vaksin virus flu burung (H5N1) oleh WHO.

Namun, belakangan Siti tersandung tudingan menyalahgunakan proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) saat menghadapi kondisi luar biasa (KLB) flu burung pada 2005. Kini di usianya yang memasuki 70 tahun, habis dinikmati di balik jeruji Ruran Pondok Bambu. Rezim pengadilan Tipikor pada 16 Juni 2017 memvonisnya bersalah dan kurungan penjara selama 4 tahun dan membsyar uang pengganti sebesar Rp1,9 miliar.

Vonis itu dianggap sebagai buah atas dosa Siti yang berani membongkar konspirasi WHO dan NaMRU-2. Hal itu  didokumentasikan dalam buku berjudul “Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” yang dicetak pertama kali 14 Desember 2007 dengan kata sambutan dari Presiden SBY.

Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah membuat surat terbuka di twitter yang ditujukan kepada Presiden Jokowi dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Isi suratnya, agar membebaskan Siti Fadilah di tengah merebaknya wabah virus corona.

“Ini waktunya bapak membebaskan ibu siti Fadhilah Supari, seorang jenius Indonesia yang menjadi korban konspirasi jahat,” cuit Fahri yang dibuat 18 Maret 2020. Benar, berkali-kali menerima penghargaan tertinggi atas karya investigasi di bidang kesehatan. Pada 1994 menerima penghargaan The Best Investigator Award pada konferensi ilmiah tentang Omega-3 di Texas, USA. Alumnus FK UGM ini  pula yang merintis berdirinya Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), yaitu ormas kumpulan para volunter kesehatan.

Berikut cuitan lengkap Fahri Hamzah yang ditayangkan pertama kali pada 17 Maret 2020. Surat terbuka itu juga di-cc-kan ke wapres.

Yang terhormat pak @jokowi dan pak @prabowo, Ini waktunya bapak membebaskan ibu siti Fadhilah Supari, seorang jenius Indonesia yang menjadi korban konspirasi jahat. Ia menjadi dosen, menjadi ahli dan memimpin penelitian di berbagai lembaga akademik puluhan tahun.

Beliau dipilih sebagai kader muhammadiyah. Umurnya sekarang hampir 71 tahun. Ia masih mendekam di penjara. Saya menyaksikan kesederhanaannya. Oleh pak @SBYudhoyono dan pak @Pak_JK beliau dipercaya menjadi menteri kesehatan dan dilantik tanggal 21 oktober 2004.

Sejak dilantik beliau yang sederhana ini sangat peduli dengan kesehatan rakyat. Ia juga peduli dengan isu kesehatan sebagai ketahanan nasional. Pandangan ini membuatnya sangat berhati-hati dengan kegiatan pihak luar, termasuk WHO dalam mengambil sumberdaya nasional kita.

Ditulis di laman wikipedia: data-data berikut: Siti Fadilah mengakhiri pengiriman virus flu burung ke laboratorium WHO pada November 2006 karena ketakutan akan pengembangan vaksin yang lalu dijual ke negara-negara berkembang. Ini menimbulkan ketegangan. #BebaskanSitiFadilah.

Setelah itu, ia berusaha mengembalikan hak Indonesia. Pada 28 Maret 2007, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan WHO untuk memulai pengiriman virus dengan cara baru untuk memberikan akses vaksin terhadap negara berkembang.#BebaskanSitiFadilah

Pada tanggal 6 Januari 2008, Siti Fadilah merilis buku “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” yang berisi mengenai konspirasi Amerika Serikat dan WHO dalam mengembangkan “senjata biologis” dengan menggunakan virus flu burung. #BebaskanSitiFadilah

Bukunya dianggap membongkar konspirasi WHO dan AS. Siti Fadilah “membuka kedok” World Health Organization (WHO) yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang ternyata banyak merugikan negara miskin dan berkembang asal virus tersebut.

Buku ini menuai protes dari petinggi-petinggi WHO dan AS. Buku edisi Bahasa Inggris ditarik dari peredaran untuk dilakukan revisi,sedangkan buku edisi Bahasa Indonesia masih beredar dan memasuki cetakan ke-4. Lihat kronologinya.

Tiga tahun Setelah pensiun ibu Siti Fadilah menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pada bulan April 2012 atas proyek pengadaan alat kesehatan untuk kejadian luar biasa tahun 2005 senilai 15 Milyar Rupiah dengan perkiraan kerugian negara sebesar 6 Milyar Rupiah.

Lihat kronologinya, akhir 2004-2009 menjadi menteri yang sederhana, 2005 terjadi krisis kesehatan di Aceh yang membuat beliau mengambil kebijakan khusus. Selama menjadi menteri terus kritis tentang konspirasi vaksin dan senjata biologi. Th 2012 tersangka dan baru divonis 2017.

Lima tahun 2012-2017 hidupnya dihabisi secara kejam dalam pengadilan media yg sadis. Dan sejak divonis 4 tahun sampai sekarang ia masih mendekam dalam penjara. Kenapa penegak hukum tega dengan ibu yang sederhana ini? Ini bukan soal hukum bapak presiden ini soal politik.

Maka, memasuki usia beliau yang sudah tua dan sakit-sakitan. Saat pemerintah memerlukan pandangan lain tentang virus dan vaksin, bebaskanlah ibu siti fadilah. Dialah teman bicara yang sebenarnya. Dia yang bisa melihat peristiwa ini dalam kepentingan nasional.

Semoga surat terbuka ini membuka mata akan kejahatan konspirasi penegak hukum di masa lalu yang mengincar musuh2 negara lain yang ada di dalam negeri. Sungguh kejam. #BebaskanSitiFadilah pahlawan dalam masa kita saat ini. Terima Kasih. Cc: @Prabowo, @wapres_ri, @KemenkesRI

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini