KEMATIAN BUKAN karena corona. Tapi karena Allah semata.  Siapa yang mengatakan kematian di era Covid-19 karena virus corona, ia telah kafir. Sebab yang  berkuasa mematikan dan menghidupkan manusia hanya Allah.

Pernyataan macam itu, acap muncul di majlis taklim dan ceramah agama. Ustad atau kyai yang menyatakannya seakan orang yang tauhidnya hebat. Imannya kuat. Tidak takut apa pun, kecuali Allah, Mati dibom atau  meledakkan bom yang dibawanya (suicide bombimg) saja tidak takut. Apalagi cuma corona.

Pikiran semacam itu, sangat berbahaya. Apalagi di era pandemi corona. Ia menihilkan  segala upaya manusia untuk memghentikan penularan corona. Ia menihilkan standard operation (SOP) dalam mengatasi pandemi corona. Ia melecehkah tim medis yang berusaha membantu pasen corona agar sembuh dari penyakitnya. Ia melanggar aturan social distancing dari pemerintah dan  organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk mencegah  penularan covid. Jika pendapat orang semacam itu dibiarkan, niscaya korban infeksi corona makin banyak. Sulit dihentikan.

Pertanyaannya, apakah kaidah-kaidah tauhid mengajarkan hal seperti itu?  Apakah ajaran tauhid menjerumuskan manusia pada kematian? Tidak.

Tauhid adalah sebuah konsep ketuhanan yang revolusioner. Yang diajarkan para nabi dan rasul kepada manusia.  Konsep tauhid bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, maknanya sangat luas. Sir Mohamad Iqbal, penyair dan pejuang Islam asal Pakistan menyatakan, seorang yang bertauhid harus mampu berakhlak seperti Allah.

Takhallaqu biakhlaaqillah. Berakhlaklah seperti akhlak Allah. Tulis Iqbal. Apa artinya? Manusia bertauhid   harus  punya pengetahuan luas. Juga harus bersikap rahman dan rahim kepada siapa pun dan apa pun. Mengikuti luasnya ilmu Tuhan. Dan sifat rahman dan rahimnya Tuhan.

Basmalah, ayat pertama  ummul quran (Al-Fatihah)  menyatakan “Atas nsma Allah yang Rahman dan Rahim.” Ini menunjukkan: kandungan kasih dan sayang merupakan inti ajaran tauhid. Dalam tarekat Daudiyah, tauhid adalah Satu Tuhan Satu Kemanusiaan.

Tauhid adalah ajaran yang mengajak mamusia untuk menjalankan hidup dengan menggunakan akal dan ilmu pengetahuan. Tauhid adalah sebuah ajaran yang sangat menghargai kehidupan. Karena itu manusia bertauhid harus alim dalam segala hal. Untuk menyelamatkan dan menyejahterakan manusia di muka bumi.

Itulah sebabnya tauhid adalah ajaran prolife. Untuk mewujudkan ajaran prolife,  semua syariat agama diarahkan  mencapai keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Karena itu, harga nyawa manusia di hadapan Allah sangat tinggi. Allah berfirmam, siapa yang membunuh manusia tak berdosa, dosanya sama dengan membunuh seluruh umat manusia (Al Maidah 32).

Islam mengajarkan orang yang meninggal karena serangan wabah adalah syahid. Dalam statement tersebut terkandung makna: orang yang tewas itu telah melakukan perang fi sabilillah melawan infeksi virus  pandemik. Jika ternyata orang tersebut meninggal dalam peperangan melawan wabah penyakit, maka dia mati syahid. Kita tahu, syahid  adalah sebuah kematian yang dijamin Allah masuk sorga.

Dari gambaran di atas, oknum ustad atau mubaligh yang menyatakan bahwa kematian karena corona itu salah  (yang benar karena  takdir Allah semata, bukan karena virus corona), telah memutarbalikkan konsep tauhid.  Oknum tersebut tak lebih dari seorang tauhidiot. Ia idiot dalam bertauhid.

Betul, membuka pikiran jamaah tauhidiot  tak mudah. Mereka menganggap Allah berpihak kepadanya dalam kondisi apa pun. Sehingga kaum tauhidiot  berani melanggar hukum negara untuk  membuktikan bahwa Allah selalu bersama mereka dan memihaknya. Faktanya, sejumlah kaum  tauhidiot berakhir di kamar isolasi. Bahkan ada yang mati terinfeksi corona. Dan Tuhan tidak peduli terhadapnya. Karena ia melanggar Sunnatullah.

Celakanya, pemahaman kaum tauhudiot ini berimpit dengan cara pandang kaum covidiot. Yaitu orang yang  idiot pemahamannya terhadap infeksi Covid-19 dan penularannya.

Salah seorang covidiot yang jadi perbincangan dunia adalah Presiden  AS Donald  Trump. Sejak awal Ia menganggap remeh penularan virus corona. Padahal AS adalah negeri dengan jumlah terbesar positif corona di dunia. AS juga tercatat sebagai negeri dengan jumlah terbanyak  korban tewas karena corona. Dalam kondisi seperti itu, anehnya Trump ikut mendukung demo antikarantina  di beberapa kota di AS yang berkategori merah pandemi. Bagi Trump,  virus corona itu masalah kecil.  Ekonomi AS lebih penting dari masalah corona.

Trump menyatakan, kenapa desinfektan itu tidak diminum saja agar orang tak terinfeksi corona? Kenapa manusia sangat takut pada corona? Lalu Trump mencari kambing hitam  untuk menutupi kebodohannya terhadap pelbagai dampak pandemi. Kambing hitamnya Cina. Negeri yang mengalahkannya dalam perang dagang dunia.

Covidiot Trump ternyata tidak sendirian. Ia diikuti sebagian kalangan agamawan tauhidiot di berbagai daerah. Yang Kristen, contohnya,  masih ada yang bandel, mengikuti misa . Yang Islam, misalnya,  masih tetap melaksanakan salat tarawih dan salat Jumat.  Padahal, kedua ritual  berjamaah itu telah dilarang MUI di musim corona. Menurut MUI, pelarangan tersebut mengacu pada prinsip syariah: Menyelamatkan nyawa lebih penting dari pada mempertahankan salat jamaah. Manusia bisa menunda ibadah
karena halangan. Tapi bisakah manusia yang terinfeksi corona menunda kematian?

Dari perspektif inilah umat beragama butuh pendalaman tauhid yang mendalam dan komprehensif. Tauhid jika diterapkan dengan benar mampu menangkal penularan corona. Karena manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi telah belajar dan bekerja keras untuk mangatasi pandemi tersebut. Cara mengatasinya tentu dengan pendekatan ilmiah yang  berbasis Sunnatullah.

*penulis Amidhan Shaberah adalah
Ketua MUI (1995-2015)/Komnas HAM (2002-2007)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini