catatan Tjik Abu Hanifah*

PAGI itu, 23 Maret 2009, se-usai sholat subuh saya pamit istri mau berangkat. Dari rumah saya naik ojek ke pangkalan bus Damri di Caringin. Di bus langsung ambil posisi untuk tidur. Setiba di terminal dua, Bandara Soekarno-Hatta, langsung cek-in di konter Garuda, dan terus menuju ruang tunggu. Mencari Direktur Jenderal IKM Departemen Perindustrian Fauzi Aziz yang telah tiba duluan.

Pesawat mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam. Mobil penjemput sudah siap untuk mengantar ke hotel. Entah kenapa setiba di hotel, ngomong saya jadi cadel. Lidah saya keriting. Saya telepon istri di Jakarta. Istri bilang, segera ke rumah sakit. Langsung bersama sopir dan staf menuju RS Awal Bros. Turun mobil jalan kaki ke Unit Gawat Darurat (UGD). Saya kembali tilp istri untuk berbicara dengan dokter jaga. Kemudian saya dironsen bagian dada dan kepala. Dokter kembali saya sambungkan dengan istri. Dokter mengatakan tidak ada pendarahan. Berarti hanya terjadi sumbatan yang menyebabkan stroke.

Siang itu juga, istri disuruh ke Kantor Perindustrian. Mendapat perintah untuk berangkat ke Batam. Tiket pesawat sudah disiapkan Sekretaris Menteri Emmy Hutapea, dengan dua lembar cek tunai. Malam hari Istri tiba di RS Awal Bros Batam bersama Dirjen Fauzi Aziz dan sekretaris Dirjen Ibu Andang.

Selasa, hari kedua. Ibu Kartini Fahmi Idris (skrg almh) bersama putrinya Fahira Fahmi Idris datang menjenguk. Saya menangis. Sedih telah merepotkan banyak orang. Begitu besar perhatian istri Menteri. Banyak teman-teman datang ke Batam untuk bezuk. Antara lain, Dirjen IMELTA Ansari Bukhari, Ka BPIP Dedi Mulyadi, Bamsut, dan Anjar Niryawan.

Orang Batam yang datang membezuk adalah Gubernur Kepri Ismet Abdullah. Dia menyuruh Kepala RS untuk memindahkan saya ke kamar VIP. Kepala Otorita Batam Musthopa sempat mampir ke RS. Fitrah KD setiap pagi membawa bubur ayam ke RS. Ibu Gati Wibawaningsih, selepas kantor mampir nengok saya. Begitu juga Bustomi, meminjamkan mobilnya untuk antar ke akupuntur.

Terus terang, dengan ada serangan stroke, saya merasa rendah diri. Tidak berani memandang orang yang masih gagah. Merasa diri barang rongsokan yang sudah tidak berguna. Apabila sedang sendirian, mederailah air mata membasahi pipi. Mental saya benar-benar jatuh pada titik terendah. Cukup lama untuk mengembalikan kepercayaan diri.

Tahun 2011, akhir bulan Juli, kembali dapat serangan stroke yang kedua. Selama tujuh hari terkapar di RSCM. Sempat datang membezuk, Agung Laksono Menkokesra. November 2015 dapat lagi serangan yang ketiga. Kembali dirawat di Gedung A, RSCM. Dan ini lebih memperparah kondisi pisik. Tangan dan kaki kanan kehilangan fungsi dirinya. Bang Fahmi Idris sedih menengok saya lemas di pembaringan.

Keluar RS tidak bisa jalan. Apabila jalan, kaki kanan terseret-seret. Terpaksa dibantu kursi roda. Tangan kanan lemas tidak dapat memegang sesuatu apa pun. Jangankan menulis, memegang pensil saja tidak mampu. Hanya semangat hidup yang masih tersisa. Untuk mengisi waktu, agar tidak cepat pikun, belajar menulis di android dengan satu jari telunjuk tangan kiri.

Apabila dapat informasi ada orang yang bisa menyembuhkan stroke, pasti saya datangi. Walaupun rutin dua kali seminggu terapi di RSCM. Strum listrik di Koramil Bogor dicoba. Pijat syaraf didatangi. Istri menginfokan tabungan telah tipis. Saya bilang gak apa-apa. Toh gak dibawa mati juga. Saya berkeyakinan diriku sakit, Allah yang dapat menyembuhkan. (lihat QS. Asy Syu’ra : 80).

Salam dari Mutiara Baru
Jum’at. 4 September 2020.

*abu hanifah, mantan staf khusus Menteri Perindustrian

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini