RAKYAT harus mencintai TNI dan Polri-nya, TNI & Polri harus mencintai Rakyat-nya.  Kemudian bersama-sama mengoreksi dan mengevaluasi kinerja Pemerintah.

Di sinilah saatnya TNI & Polri berdiri tegak sebagai alat negara dan bukan alat penguasa. Oleh karenanya, setop dan sudahi TNI & Polri dan rakyat saling hujat dan saling salahkan!

Situasi dan kondisi seperti sekarang, bukan TNI, Polri atau Rakyat yang salah, tetapi dengan tegas dan jelas Pemerintah yang salah.

Ini adalah masalah negara yang tidak bisa dipisahkan antara pemerintah dan perangkatnya, rakyat serta wilayahnya. TNI, Polisi dan rakyat, adalah manusia manusia biasa, yang tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangannya.

Presiden juga manusia biasa. Namun di pundaknya dibebani amanat rakyat yang besar dan mulia melalui seleksi yang rumit, panjang dan berliku liku yang melibatkan seluruh unsur unsur negara.

Terlepas dari pelaksanaan jujur tidak jujur, curang tidak curang, saya hanya menggaris bawahi perjalanan perjuangan dengan berbagai cara yang merenggut pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta benda bahkan nyawa.

Ibarat setinggi-tingginya elang terbang melayang di angkasa raya, pada akhirnya turun kembali dan hinggap di sarangnya. Inilah gambaran atau fenomena yang terjadi jelang, selama dan paska pilpres, pemilu 2018 / 2019 di negeri ini.

Carut marut, porak poranda dan gemuruh revolusi perjuangan telah menorehkan pelajaran yang sangat berharga. Yaitu, kegamangan dan kegemingan dalam menuju cita cita bangsa.

Semestinya kita harus sadar, untuk peka dan peduli terhadap carut marut, hiruk pikuk dan pontang pantingnya negeri ini. Kita  juga perlu sadar terhadap segala hal yang merintangi, menghambat bahkan melawan cita cita bangsa ini.

Cita cita NKRI yang ingin merdeka, berdaulat, bersatu, menyelamatkan, melindungi, mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsanya, yang berlandaskan Pancasila yang dikumandangkan 18 Agustus 1945 dan UUD ‘ 45, merupakan tujuan sekaligus sasaran yang harus dikawal, dijaga dan dilindungi.

Negara kita kaya diatas, dipermukaan dan didalam bumi ini, dan itulah yang jadi incaran dan harapan negeri negeri asing. Dengan berbagai cara dan wujudnya mereka berupaya untuk meraih, menguasai dan mendudukinya. Ada yang langsung dan  tidak langsung, ada yang secara halus dan kasar, ada yang berskala besar dan bertahap.

Inilah yang paling berbahaya, mereka memporakporandakan aspek-aspek Idilogi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, hukum, pertahanan dan keamanan. Di sinilah, sesungguhnya akar masalah atau biang kerok kecenderungan  hancurnya negara kita. Presiden Jokowi dan pemerintahanya tidak mampu menyikapi, mengatasi dan mengelola negeri ini.

Sehingga terjadilah kekacauan ekonomi, politik bahkan Idologi, korupsi, hutang negara tidak terukur dan tidak sehat pemanfaatannya, perencanaan undang undang yang tidak senafas dengan aspirasi rakyat, yang menciptakan rakyat selalu berhadapan dengan pemerintah, bukannya rakyat dan pemerintah bersama sama menghadapi masa depan.

Pada kelanjutannya, menjalar kepada penegakan hukum yang tebang pilih, tidak adil dan masalah masalah lain yang bermuara ketidak percayaan rakyat kepada presiden sebagai pemimpin dan pengelola negara.

Sekali lagi cintailah TNI & Polri kita, dan cintailah Rakyat  kita. Benahi negara kita dengan melengserkan Presiden Jokowi secara konstitusional. Seorang Presiden adalah juga seorang warga negara, yang nomer satu, yang layak diteladani dan taat hukum.

Warga negara yang taat hukum, tanpa diperingatkan, tanpa ditambah dan tanpa dikurangi, harga mati,  sudah pasti dengan sadar dan ikhlas serta  berjiwa besar mematuhi putusan MA tentang KETIDAKSAHAN KEMENANGAN HASIL PEMILU PADA PILPRES 2019.
The end !

Bandung, Sabtu, 18 Juli 2020

*Purnawirawan TNI AD, pemerhati masalah pertahanan dan keamanan NKRI, juga  tercatat sebagai Ketua APIB Jabar, dan panglima ANAK-NKRI Jabar.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini