DANTE Saksono Harbuwono, Wamenkes, memberi kabar buruk. Mutasi  virus corona B117, yang pertama kali terdeteksi di Inggris Desember 2020, kini telah ditemukan di Indonesia, sejak 3 Maret 2021.

Dante mengabarkan temuan mutan B117 ini dalam acara Inovasi Indonesia untuk Indonesia Pulih Pasca-pandemi, di kanal YouTube Kemenristek/Brin, Selasa pekan lalu (2/3/01). Dua kasus mutan asal Inggris itu ditemukan dari 462 sampel yang berasal dari Jabar,  Jatim, Banten, dan DIY — menggunakan metode WGS (whole genom squennce) atau pengurutan genom, selama Januari dan  Februari 2001.  Hasilnya: betul mutan B117 sudah ada di sekitar kita.

Sebelumnya, kita berpikir, mutan virus itu masih di luar Indonesia. Di  Inggris, Afrika Selatan, dan India. Kini, ternyata sudah di Indonesia. Di sekitar  kita. Mutan corona ini, juga telah ditemukan   di Korsel, Singapura,  Malaysia, dan Australia. Ini artinya, Indonesia sudah terkepung sang mutan,  baik di dalam maupun di luar.

Dua kasus mutan corona ini terdeteksi di Kerawang, Jabar, awal Maret 2001.  Dua orang tenaga kerja wanita (TKW) dari Saudi Arabia yang  “membawanya” ke Indonesia. Lima hari  kemudian, dari sampling lain, ditemukan lagi 4 kasus virus mutan B117 di berbagai wilayah. Ini artinya  mutan tersebut  sudah cukup lama “beroperasi” di Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, 4 kasus mutan B117 itu ditemukan di empat wilayah berbeda.   Satu kasus di Palembang, Sumsel,  11 Januari; 1 kasus di Balikpapan, Kaltim  12 Februari;   dan 1 kasus di Medan, Sumut, 28 Januar; dan 1 kasus di Kalsel, 6 Januari 2021. Jadi benar dugaan pakar epidemiologi UI, Pandu Riono, sebetulnya mutan B117 sudah lama berada di Indonesia. Hanya saja belum terdeteksi karena kita kurang tracing dan tracking.

Pandu Riono menjelaskan mutan virus corona dengan kode B117 ini memang sudah menyebar ke seluruh dunia. Virus ini memiliki karakter dapat menular lebih cepat daripada mutan virus lainnya. Itu sebabnya, varian virus ini perlu mendapat perhatian serius.

Ada kemungkinan, jelas Pandu, penyebaran mutan virus B117 sudah di mana-mana di Indonesia. Ini karena, virus-virus tersebut bisa bermutasi secara lokal  bila sudah menemukan inang. Dengan demikian, ada semacam epidemi dalam pandemi. Dalam penyebaran global corona (Covid-19 asli),  ada  penyebaran lokal corona (mutan B117), secara distinktif.

Barangkali itulah yang menyebabkan Australia melakukan lockdown sejumlah kota besar setelah diketahui ada mutan B117. Saat ini, Indonesia tidak pernah menerapkan lockdown terhadap kota mana pun, meski diketahui, kota bersangkutan kondisinya sudah zona merah. Bahkan zona hitam, di mana di dalamnya ada kasus B117.
Jelas, temuan mutan B117 itu membuat kita makin miris.  Sebab  para ilmuwan mengatakan, mutasi B117 ini, 70 persen lebih menular dari pada virus  sebelumnya.

Mutan yang pertama muncul   Inggris ini, daya penularannya lebih besar karena mampu mereplikasi lebih cepat di dalam tenggorokan. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Birmingham, Inggris menemukan, pasien dengan varian baru Covid-19 B117  mempunyai viral load tinggi. Viral load yang lebih tinggi dapat menentukan tingkat penularan subjek dan kemampuan virus untuk ditularkan.

Menurut  Prof. Zubairi Djoerban, Guru Besar Fakultas Kedokteran UI,  mutan B117 ini lebih “produktif” dalam memperbanyak dirinya. Karenanya, mudah menular.
“Mutan baru ini menyebabkan shedding virus lebih intens. Artinya, produksi jumlah virusnya jauh lebih banyak di saluran nafas. Mutan ini super shedder, karena ia bisa lebih menularkan ke banyak orang,” kata Zubairi, ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia itu.

Jika virus ini dominan, tambah Zubairi, jumlah kasus harian akan bertambah dan rumah sakit terkena imbasnya. Dia menjelaskan, strain baru ini berkembang biak lebih banyak ketika menumpang hidup di saluran pernapasan manusia. Sehingga, virus ini muncul dengan jumlah lebih banyak. Hal itulah yang menyebabkan penularannya menjadi lebih cepat, tambah Zubairi.

Meski demikian, bila seseorang telah divaksinasi, daya tahannya cukup kuat terhadap gigitan mutan B117 ini.  Yang benting, untuk mencegah paparan mutan ini, kita harus ketat melakukan  5 M. Yaitu Mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilita.

Betul, semua kasus positif mutan B117 di 5 wilayah itu,  sudah ditangani Satgas Covid-19 secara khusus. Dan mereka sembuh. Sudah negatif. Tapi tetap saja, bila kasus mutan tersebut tidak terdeteksi — apalagi ia orang tanpa gejala (OTG)  dan super spreader karena aktivitasnya yang banyak berhubungan dengan orang lain — kondisinya akan sangat berbahaya. Pandemi akan makin parah dan mencemaskan.

Tersebarnya mutan B117 di Indonesia, menurut Pandu, membuktikan bahwa negara “kecolongan”. Tidak saja karena lemahnya protokol kesehatan di “kedatangan luar negeri”  bandara internasional, tapi juga minimnya surveillance (pengawasan).

Dulu, kata Pandu, warga negara asing maupun warga negara Indonesia yang datang dari luar negeri akan mendapat pengawasan ketat.
“Sekarang saya heran, seolah-olah ada perubahan: kalau sudah membawa hasil PCR negatif dari luar, itu bisa langsung keluar dari bandara. Ini kan menunjukkan kita tidak hati-hati,” kata dia. Akibatnya, Indonesia kecolongan. TKW asal Saudi yang terpapar mutan B117 tidak terdeteksi.

Pada 28 Desember 2020, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sempat menyampaikan adanya larangan sementara untuk WNA dan WNI dari luar negeri ke Indonesia. Pernyataan Retno itu untuk mencegah masuknya varian baru virus Corona ke dalam negeri. Larangan itu berlaku pada 1-14 Januari 2021.
Pemerintah kemudian memperpanjang larangan tersebut 14 hari, menjadi sampai 28 Januari. Lalu, pemerintah memperpanjang lagi sampai 8 Februari. Bagi WNI di luar negeri yang ingin pulang ke Indonesia, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR di negara asal yang sampelnya diambil kurun waktu maksimal 3 x 24 jam sebelum keberangkatan.

LOLSementara itu, dari lapiran detik.com, satu dari dua TKI yang dalam tubuhnya ditemukan B117 tidak membawa hasil PCR yang dilakukan tiga hari sebelum keberangkatan dari Saudi ke Indonesia. Tapi dia tetap bisa masuk ke Indonesia. Aneh! Padahal harusnya dia menjalani karantina dan serangkaian tes sampai terbukti negatif virus. Kemenkes sempat mengklaim pemerintah akan memperketat pintu masuk ke Indonesia, baik dari laut maupun udara, setelah ditemukannya mutan B117 tersebut. Juru bicara Kemenkes Nadia Wiweko mengatakan pemerintah akan menggencarkan upaya testing dan tracing di pintu masuk kedatangan luar negeri, terutama di bandara internasional. Tapi faktanya?

“Harusnya kan semuanya dikarantina terlebih dulu selama lima hari dan diperiksa PCR ulang. Kalau itu dilakukan, saya kira bisa menampik virus-virus yang berasal dari luar negeri,” lanjut Pandu. Di pihak lain,  whole genome sequencing menjadi sangat penting sebagai pengawasan terhadap perkembangan mutan virus corona itu sendiri. Menurut Pandu, pemerintah seharusnya membuat sistem genomic surveillance dengan whole genome sequencing secara periodik. Pengawasan terhadap genom itu dilakukan oleh 13 laboratorium yang sudah ada. “Harusnya ada target satu minggu berapa kali sequencing supaya cepat menemukan adanya mutasi-mutasi virus,” katanya.

Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengatakan tidak tersistemnya genomic surveillance itu membuat negara kehilangan kontrol terhadap mutasi virus. Memang, problemnya, genomic surveillance membutuhkan biaya besar. Tapi, jika menjadi target penting untuk mengatasi pandemi, harus dilakukan berapa pun biayanya.  Indonesia niscaya mampu menyediakan dana tersebut. Bukankah kesehatan adalah the first for all untuk menggerakkan ekonomi yang mandeg akibat pandemi?

*Ketua Fraksi PPP DPR RI

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini