oleh Iko Musmulyadi*

PKS membentuk Dewan Pakar. Diisi puluhan anggota. Ada teknokrat, ahli ekonomi, mantan menteri, pensiunan militer. Dipimpin Profesor Irwan Prayitno, biasa kami menyebutnya IP. Saya sendiri akrab dengan panggilan Bang Irwan.

Meskipun sebenarnya di internal PKS juga bertaburan kader bergelar doktor dari berbagai keahlian. Puluhan, bahkan ratusan jumlahnya. Lulusan dalam dan luar negeri.

PKS ingin bersinergi lebih luas lagi dengan seluruh anak bangsa. Sebab, aneka tantangan dan permasalahan bangsa ke depan yang semakin kompleks, memerlukan alternatif cara penyelesaian dari berbagai sudut pandang dan kepakaran.

IP layak memimpin lembaga ini. Jam terbangnya tak diragukan. Doktor bidang SDM jebolan universitas di Malaysia ini, tiga periode di DPR RI sejak 1999 beberapa kali sebagai pimpinan komisi, mantan gubernur Sumatera Barat dua periode. Lengkap sudah. Matang di legislatif. Matang di eksekutif. Berbagai penghargaan diraihnya. Nyaris jadi menteri di periode kedua pemerintahan SBY.

Kalau Dahlan Iskan dalam tulisannya cerita panjang lebar tentang Dr. Zul. Kisah gubernur NTB yang juga kader PKS membangun pendidikan di Sumbawa dengan UTS-nya. Maka, di Sumatera Barat ada IP, yang juga punya succes story di bidang pendidikan. Mulai dari mendirikan bimbel hingga memiliki perguruan tinggi.

Tahun 1993 kali pertama saya menginjakkan kaki untuk kuliah di Padang, bimbel Adzkia yang IP pimpin termasuk yang terbaik dan favorit di Sumbar. Saat itu beliau masih bolak balik Padang-Kuala Lumpur, menyelesaikan studi doktoralnya. Kini Adzkia membesar, fasilitas pendidikannya lengkap. Mengelola dari jenjang pendidikan TK hingga universitas. IP sebagai rektornya.

Sebagai aktifis mahasiwa waktu itu, saya beberapa kali mengikuti pelatihan kepemimpinan dimana IP sebagai narasumber. Orangnya energik. Kalau bicara di panggung bisa dua jam tanpa henti, tanpa teks atau contekan. Gagasannya bernas, dengan pilihan kata yang mudah diingat dan dicerna. Enak dengar ceramahnya, meskipun panjang tetap tak bosan.

IP multi talent. Politisi, akademisi, penulis, motivator, orator, negosiator. Disuruh nyanyi bisa. Jago karate, gitaris dan bisa mukul drumb. Pemotor juga oke. Saat menjabat gubernur, nampak beliau mahir menggunakan motor balap menyusuri daerah-daerah pedalaman di Sumbar yang tak terjangkau dengan kendaraan roda empat. Berpantun juga keren. Ratusan bait-bait syair pantun goresan IP terkumpul, biasanya beliau bacakan saat tampil di panggung.

Kata kunci yang selalu dinasehatkan sehingga mahir di seluruh bidang yang ditekuni, masih terngiang dalam ingatan saya, yaitu mengerjakan sesuatu dengan serius, sungguh-sungguh, dan istiqomah sampai tuntas. Bahkan termasuk, ia sukses dalam pendidikan keluarga. Anaknya sepuluh. Penghafal Qur’an semua.

Buat saya, IP adalah guru dan mentor. Tahun 1999 di pemilu pertama era reformasi kami sama-sama diamanahkan sebagai Caleg Partai Keadilan (PK) waktu itu. IP caleg DPR RI saya caleg DPRD Kabupaten Pesisir Selatan. Masih kebayang perjuangan dulu, dalam kondisi yang masih sangat-sangat terbatas. Untuk sosialisasi logo partai saja dulu, kita para mahasiswa diminta ngumpulin kertas-kerta bekas perkuliahan untuk disablon logo partai dan ditempel ke dinding atau tiang listrik dengan lem biasa. Kaos partai tidak dipesan yang baru, tapi memanfaatkan kaos yang dimiliki hari-hari dipakai yang memungkinkan untuk di sablon logo partai. Bendera partai hanya belasan yang ada. Kita melakukan kampanye terbuka, masuk desa keluar desa hanya 1 mobil dan tak lebih 10 motor beriringan, berteriak menyerukan warga dengan membawa 1 unit TOA. Romantisme perjuangan.

Qadarullah, pemilu pertama itu IP masuk senayan. Bersama 6 kader PK lainnya: Rokib Abdul Kadir, Zirlyrosa Djamil, Syamsul Balda, Mutammimul ‘Ula (mas tamim alm), TB Soenmandjaja SD (Kang Sunman), dan Mashadi. Tergabung dalam Fraksi Reformasi bersama PAN waktu itu. Seterusnya, karir politik dan pemerintahan IP moncer.

Pertengahan tahun 2000 saya ke Jakarta, habis nikah boyongan istri juga. Diminta Mas Tammim menjadi staf beliau di DPR. Selama 2000-2008 di DPR jumpa lagi dan berinteraksi dengan IP.

Terlebih, kami satu bidang di kepengurusan DPP PK 2000-2003. IP sebagai Ketua Bidang Kebijakan Publik, saya sebagai staf di salah satu departemen bidang itu. Waktu itu anggota bidangnya Mas Tamim (Departemen Lembaga-Lembaga Negara), Syamsul Balda (Dept. Ekonomi), Fahri Hamzah (Dept. Jaringan dan Komunikasi), Untung Wahono/mas Untung alm (Dept. Politik). IP kalau memimpin rapat sangat efektif. Bahasan rapat tidak bertele-tele. Fokus solusi dan tuntas. Visioner. Buat saya jadi pengalaman dan pembelajaran luar biasa.

Pertama maju sebagai Cagub Sumbar, saya di Jakarta bantu-bantu beliau. Bagian suplai logistik, dari Jakarta kirim ke Padang. Karena sering dan kebiasaan, saat itu jadi paham seluk beluk pengiriman barang via cargo bandara. Dalam pilgub itu IP kalah dari Gamawan Fauzi. Ia kembali ke DPR RI menuntaskan amanahnya.

Saat ini, dengan amanah baru dipundaknya, sebagai Ketua Dewan Pakar PKS saya meyakini akan menghasilkan ide-ide mencerahkan, gagasan solutif dan innovatif, tidak hanya buat PKS tapi juga buat bangsa dan negara.

Selamat dan sukses Bang Irwan!

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini