JAKARTA (eksplore.co.id) – Jenderal TNI Purnawirawan Try Sutrisno memberikan wasiat kepada Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, untuk mengkaji ulang Konstitusi hasil Amandemen tahun 1999-2002 silam, demi penyelamatan bangsa dan negara.

Wasiat itu berupa bagaimana caranya agar konstitusi UUD 1945 dikembalikan ke yang aslinya agar negeri ini selamat dari kehancuran. Mantan wapres dan juga mantan panglima ABRI itu menyampaikan wasiatnya kepada LaNyalla saat datang menemui dirinya di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/5/2022).

“Saya ini sudah 87 tahun, tidak lama lagi akan meninggal, saya titip wasiat kepada Anda, karena saya tahu Kakek Anda, Pak Mattalitti itu pejuang. Waktu peristiwa perobekan  Bendera Belanda di Surabaya, saya masih anak-anak, melihat dari toko Kakek Anda di Tunjungan. Tolong selamatkan bangsa dan negara ini dari kehancuran di masa depan,” ungkap Try.

Pria kelahiran Surabaya 15 November 1935 itu mengungkapkan,  amandemen konstitusi yang dilakukan empat tahap di tahun 1999 hingga 2002 silam sama sekali tidak dilakukan dengan tahapan yang ideal. Perubahan dilakukan cepat-cepatan dan ada pengaruh kepentingan asing.

“Isi pasal-pasalnya sudah tidak nyambung lagi dengan Pancasila yang ada di naskah Pembukaan UUD 1945. Sehingga jangan heran kalau kemudian lahir banyak sekali undang-undang turunan dari Konstitusi yang merugikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan bangsa ini, sehingga hasilnya bangsa ini kehilangan ke-Indonesia-annya,” katanya.

Puncaknya, kata Try Sutrisno, adalah diubahnya sistem paling hakiki dari Pancasila, yaitu lembaga keterwakilan rakyat, yang dulu berada di Lembaga Tertinggi Negara, yaitu MPR, yang terdiri dari DPR, Utusan Daerah, Utusan Golongan dan Fraksi ABRI (TNI-Polri).

“Sekarang sistem negara ini menjadi liberalis, individualistis dan kapitalis. Semua ditentukan partai politik. Padahal Pancasila yang dirumuskan pendiri bangsa ini adalah sistem asli yang sudah sangat cocok untuk membuat Indonesia menjadi negara yang kuat dan berdaulat,” katanya.

Menurut Pak Try, situasi sekarang dimana legislatif menjadi heavy (kuat), bukan kemudian berdampak kepada check and balances yang kuat dan berpihak kepada kepentingan rakyat, tetapi menjelma menjadi parpol heavy. Karena DPR adalah kepanjangan parpol.

“Saya mengikuti pernyataan dan aktivitas Anda. Saya mendukung, karena apa yang Anda katakan benar. Tetapi akan sulit memperjuangkan keadilan sosial untuk rakyat, kalau Konstitusi kita seperti hari ini, memberi ruang kepada oligarki untuk menguasai negara,” ujarnya.

Mantan wapres ini melanjutkan, kaji ulang atas Amandemen Konstitusi dilakukan dengan cara kembali kepada UUD naskah asli, lalu lakukan perbaikan-perbaikan melalui Adendum. Agar bangsa ini, dan anak cucu kita selamat. Bangsa ini bukan milik segelintir orang, tetapi milik 270 juta rakyat.

“Saya minta Anda, karena Kakek Anda itu pejuang lho. Perjuangkan kaji ulang Konstitusi kita. Pastikan kedaulatan kembali ke tangan rakyat. Pastikan Pancasila yang ditetapkan di Naskah Pembukaan UUD menjadi falsafah dan norma dari semua Pasal yang ada di Konstitusi. Ini wasiat saya,” kata Pak Try mengakhiri pernyataannya.

Menanggapi wasiat itu, LaNyalla pun mengaku siap memperjuangkan apa yang diamanatkan oleh Try. Dia memastikan DPD RI akan tetap konsisten mengawal semua upaya untuk kepentingan kedaulatan rakyat.

“Insya’ Allah saya konsisten dengan sumpah jabatan saya, untuk membela kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Terima kasih atas semua nasehat, masukan dan amanat yang diberikan kepada saya,” kata Mattalitti.

Saat datang ke rumah Try, LaNyalla  didampingi Staf Khusus Ketua DPD RI Sefdin Syaifudin dan Staf Ahli Ketua DPD RI Baso Juherman. Sedangkan Try Sutrisno ditemani Koordinator Presidium Nasional Majelis Permusyawaratan Bumiputra dr Zulkifli Eko Mei. (bS)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini