oleh Purwanto Wijoyo*

PIKIRKAN hal-hal ini bila beli rumah di kampung:

1. Pemakaman. Pastikan warga kampung mengijinkan Njenengan dan keluarga boleh dimakamkan di pemakaman kampung. Kalau warga tidak mengijinkan juga tidak salah. Di Bekasi rawan konflik seperti ini.

2. Limbah air hujan dari lahan Njenengan tertata dengan baik. Jangan membanjiri tetangga. Atau dibuang di jalan. Karena jalan bukan tempat membuang air. Di rumah saya di Vila Nusa Indah 3, belakang Kota Wisata (dekat) Cibubur, semua air yang jatuh di lahan saya masuk ke resapan. Kalau ada banjir di Bekasi, saya pastikan bukan tanggung jawab saya. Bukan air dari rumah saya. Jadi, usahakan Njenengan tidak menjadi penyebab banjir. Baik di tetangga maupun di hilir. Dari genteng langsung ke got, itu juga berpotensi bikin banjir di hilir. Seharusnya air hujan masuk ke tanah, dengan sumur resapan. Sehingga terjaga muka air tanah. Tidak makin dalam krn lomba nyedot sumur, tanpa dijok (kayak teh poci saja). Kalaupun kiri kanan rumah Njenengan masih sawah, pemilik sawah berhak protes bila air hujan Njenengan dibuang ke sawah dia. Bagaimana bila suatu hari dia juga bikin rumah di situ?

3. Limbah dari kloset jangan sampai mencemari sumur tetangga. Harus ada jarak minimal 10 m dari septic tank ke sumur. Kalau lahannya sempit tentu repot. Taruh di pinggir lahan ternyata di dekatnya ada sumur tetangga.
Septic tank tidak perlu disedot bila sebelum penuh diberi star bio. Ini merek. Serbuk ini namanya apa saya lupa. Cukup dimasukkan lewat kloset. Itu bakteri pemakan tinja. Septic tank tidak akan penuh atau mampet. Di perumahan biasanya sudah tersedia IPAL komunal. Instalasi pengolah air limbah.

4. Pastikan Njenengan punya carport. Jangan parkir di jalan. Itu mengambil hak masyarakat. Tepo seliro lah sedikit. Kasihan ratusan pengguna jalan yg terganggu tiap hari. Dosa jariyah.

5. Bila rumah Njenengan, maaf, jelek, tetangga yang “sakit” matanya tiap hari nyawang. Maksud saya tentang arsitektur. Libatkan arsitek agar rumah wangun.

6. Jangan serahkan desain rumah ke tukang. Terutama struktur. Harus ada engineer. Kelayakan struktur sangat penting, demi keselamatan. Ingat, Indonesia pusatnya gempa. Juga keselamatan bangunan terhadap longsor, bila rumah di tebing, angin dan banjir. Harus diantisipasi semuanya.

7. PAM. Kualitas air tanah makin buruk. Semakin tidak layak konsumsi. Karena limbah pabrik ataupun limbah domestik, seperti polutan sabun atau bakteri e-coli dari tinja. Pernah terpikir gak, air sabun bekas cucian piring atau baju keminum tetangga? Itu bila Njenengan buangnya sembarangan & kesedot sumur tetangga. Ke depan, PAM semakin dibutuhkan. Di negara-negara maju, air PAM bisa langsung diminum. Potable water.

8. Bila membangun rumah sendiri, Njenengan berpotensi dispute dengan tukang. Akibat miss komunikasi, atau kapabilitas tukang yang kurang, atau tukang tidak jujur. Pastikan Njenengan punya tukang yang bisa dipercaya.

Hal-hal tersebut sudah dirancang & diantisipasi developer. Jadi, lebih praktis beli rumah di perumahan, kan?

Bantul, 24 Agustus 2021

*developer, Direktur PT Insan Barokah Ridho Illahi

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini