oleh Dr. Indra Iskandar*

DUNIA memperingati Hari Bumi, 22 April 2022. Inisiasi memperingati Hari Bumi yang digagas Senator Negara Bagian Wisconsin, Amerika Serikat, Gaylord Nelson, 52 tahun lalu itu, kini mendapat sambutan luar biasa dari dunia internasional. Di Amerika, Inggris, Perancis, dan Jerman setiap Hari Bumi, 22 April, secara sadar penduduk yang peduli lingkungan, melakukan tirakat. Yaitu “nyepi sejenak dan mematikan listrik” untuk memberikan “istirahat” kepada Bumi yang tidak pernah berhenti melayani manusia.

Celakanya, manusia yang dilayani bumi itu, jumlahnya makin banyak dan tragisnya makin serakah. Bumi mulai kewalahan melayani kebutuhan manusia. Manusia mengeksplotasi bumi secara sangat berlebihan (over-exploitation) sehingga – pinjam istilah environmentalis JE Lovelock — Sang Gaia (Dewi Bumi dalam mitologi Yunani) nyaris sekarat. Akibat eksploitasi manusia serakah terhadap bumi, suhu tubuh Dewi Gaia makin panas. Darahnya berceceran di mana-mana. Dewi Gaia nyaris pingsan.

Melihat nasib Dewi Gaia yang pingsan, seorang gadis remaja asal Swedia Greta Tintin Eleonora Emman Thunberg menyerukan kepada dunia – berhentilah menyakiti Bumi. Dewi Gaia sangat menderita. Greta yang saat itu berusia 15 tahun, di depan PBB saat pembukaan Climate Action Summit PBB, 23 September 2019 di New York, menyerukan agar para pemimpin negara-negara di dunia mengadakan aksi untuk menyelamatkan bumi. Atas ajakan Greta, pada Desember 2018, lebih dari 20.000 siswa sekolah menengah di Eropa dan Amerika mogok belajar. Tuntutannya: Selamatkan Bumi.

Tema Hari Bumi 22 April 2022 adalah “Invest in Our Planet” dengan sub tema “Nature in the Race to Zero” (Alam dalam Perlombaan Menuju Nol). Maksudnya, berinvestasilah agar emisi gas rumah kaca – penyebab utama datangnya global warming — menjadi nol.

Tema ini menjadi krusial karena kenaikan suhu bumi terus merangkak naik. Jika kondisi ini dibiarkan, menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dalam 100 tahun mendatang, banyak pulau tenggelam. Negara-negara kepualauan seperti Jepang dan Indonesia terancam lenyap dari permukaan bumi, tertelan air pasang laut yang berasal dari pencairan hamparan salju tebal di kutub–kutub bumi.

Bagaimana mencegah dampak global warming yang dahsyat itu? Kurangi emisi karbon dioksida, prosentase terbesar gas rumah kaca, sampai nol persen. Kata Greta.

Mungkinkah? Setiap usaha, pasti ada hasilnya. Kita perlu mencapai nol persen emisi gas rumah kaca pada pertengahan abad ini untuk meredam gejolak suhu global yang membahayakan manusia.

Saat ini, tiga kutub bumi yang dilapisi salju tebal abadi sedang sekarat. Pertama, Antartika (kutub selatan bumi) yang luasnya 13.200.000 km2. Kedua Artika (kutub utara) yang luasnya 14.056.000 km2. Ketiga, Puncak Himalaya (Mount Everest), yang dijuluki atap langit. Salju tebal di ketiga kutub bumi tersebut pelan tapi pasti sedang mencair. Padahal, salju di ketiga kutub tersebut adalah pemasok terbesar air tawar di planet umi. Sekitar 70 persen air tawar, kebutuhan dasar spesies di muka bumi, berasal dari ketiga kutub tersebut.

Terbayangkah, jika seperempatnya saja salju di tiga kutub itu mencair akibat global warming? Dunia dan manusia akan kolap. Tak ada yang mampu memperbaiki kondisi seperti itu. Kecuali kita – manusia. Karena hanya manusialah spesies yang mampu merubah alam. Jika energi, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang dumiliki seluruh umat manusia di bumi dikerahkan untuk memperbaiki dan menyelematkan Sang Gaia, niscaya “planet biru” tesebut terhindar dari kiamat.

Bumi kini membutuhkan sahabat. Sahabat yang memahami kondisinya yang sakit-sakitan. Dan sahabat bumi itu, siapa lagi kalau bukan manusia.

Ya, spesies homo sapiens adalah pihak pertama yang merusak bumi. Maka spesies homo sapiens itu pula yang harus menyelamatkan bumi. Homo sapiens itu adalah kita semua. Manusia berakal dan berfikir yang hidup di planet bumi.

*penulis Sekretaris Jenderal DPR RI

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini