oleh Dr. Wardah Nuroniyah, SHI, MSi*

INDONESIA tersentak. Enam hari (27/5/022) sebelum Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif pergi untuk selamanya. Banyak orang menjuluki Buya Syafii – panggilan akrab Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1998-2005) – sebagai tokoh “Pancasilais Sejati” Indonesia.

Sebagai seorang tokoh besar Islam, Buya amat dihormati berbagai kalangan agamawan yang ada di nusantara — Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, dan agama-agama lain. Kepribadiannya yang santun, sederhana, dermawan, toleran, berwawasan luas, dan nasionalis membuat publik menyebutnya sebagai “Guru Bangsa”. Harian Kompas menyebut: Kesahajaan hidup Buya dan ketekunan dalam menjaga keberagaman adalah teladan abadi bagi rakyat Indonesia.

Bagi BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), kepergian Buya (yang terlibat aktif di dalamnya), sangat memilukan. Betapa tidak! Buya bersama Ibu Megawati Soekarnoputri – adalah bagian yang tak terpisahkan dalam “menaungi dan membimbing” perjalanan BPIP.

Menurut Kepala BPIP, Prof. Dr. Yudian Wahyudi, berpulangnya Buya Syafii merupakan kehilangan besar bagi Bangsa Indonesia. Tulisan dan gagasan beliau yang mengedepankan hati nurani di atas kepentingan politik sesaat selalu menjadi oase bagi publik. Melalui BPIP, Buya menyumbangkan pemikiran-pemikirannya baik melalui tulisan maupun diskusi bersama dengan para Dewan Pengarah BPIP lainnya.

Kenapa Buya di sepanjang usia tuanya (1935-2022) begitu menghargai Pancasila dan menjadikan Pancasila sebagai panduan hidupnya? Bukankah Buya seorang muslim dan salah seorang tokoh puncak organisasi besar Muhammadiyah?

Pertanyaan ini, jawabannya cukup panjang. Karena Buya dalam perjalanan hidupnya, tidak serta merta menjadi Pancasilais sejati.

Seperti ditulis Hamid Basyaib di Sosmed – kolumnis yang akrab dengan Buya secara pribadi dan pemikirannya – Buya di masa mudanya, pernah berharap Indonesia menjadi negara Islam. Negara Islam dalam pengertian, baik dalam simbol, sistem pemerintahan, maupun hukum yang diterapkannya (syariah).

Tapi seiring perjalanan waktu – setelah Buya studi di Amerika dan rajin berdiskusi dengan Prof. Dr. Fazlur Rahman, Guru Besar Studi Islam di Chicago Uniiversity AS – pandangan Buya terhadap “Islam bendera” berubah menjadi “Islam makna”.

Bagi Buya, Islam yang harus dikedepankan adalah nilai-nilai inklusivitasnya – bukan nilai-nilai eksklusivitasnya. Sebab, Islam secara maknawi adalah agama universal. Ini sesuai pernyataan Alqur’an: Islam yang dibawa Muhammad adalah agama yg rahmatan lil’alamin (Al-Anbiya 107).

Berpijak dari ayat inilah, umat Islam seharusnya bersikap inklusif dan membuka wawasannya. Sejauh manakah Islam telah menjadi agama rahmat untuk seluruh alam?

Muhammad Abduh (1849-1905), tokoh Islam modernis dari Mesir yang pernah tinggal di Perancis menyampaikan “opini” yang mengegerkan umat Islam dunia. Abduh berkata: “Dzahabtu ilaa bilaad al-ghorbi, roaitu al-Islam wa lam aro al-muslimiin. Wa dzahabtu ilaa bilaad al-‘arobi, roaitu al-muslimiin, wa lam aro al-Islam”. Artinya, “Aku pergi ke negara Barat, aku melihat Islam namun tidak melihat orang muslim. Dan aku pergi ke negara Arab, aku melihat orang muslim namun tidak melihat Islam.”

Apa yang dikatakan Muhamad Abduh, dua abad kemudian, di era digital yang mendisrupsi hampir semua aspek kehidupan, ternyata benar. Bahkan sampai zaman now. Kondisi umat Islam hampir-hampir tak berubah. Masih seperti zaman Abduh hidup.

Buya Syafii menyebutnya, di tengah kemajuan iptek modern, secara kultural umat Islam masih berada di “buritan” kapal peradaban. Sebuah tamsil dari Buya yang halus tapi menohok dalam mengritik umat Islam yang mayoritas masih tertutup.

Umat Islam masih menafsirkan Qur’an dan hadis dalam kerangka pikir abad ketujuh, saat Islam baru lahir. Betul, Islam pernah memiliki pakar-pakar sains seperti Ibnu Sina (Kedokteran), Al-Jabr (matematika), Ibn Haitam (astronomi), dan lain-lain. Tapi sayang, peradaban Islam yang pernah maju tersebut, sejak abad ke-16 dan seterusnya terpuruk kembali. Alih-alih sains dan teknologi yang dikembangkan, yang terjadi kemudian umat Islam tenggelam dalam dunia mistisisme yang – menurut Buya – absurd dan mundur.

Belakangan, umat Islam justru tergoda untuk kembali ke masa lalu, dengan menafsirkan ayat-ayat Quran secara tekstual dengan basis kultural Arabiyah.

Bagi Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, Pancasila adalah bagian yang tak terpisahkan dengan nilai-nilai universal Islam yang rahmatan lilalamin di atas. Itulah sebabnya ulama-ulama yang duduk di lembaga konstituante atau parlemen yang mengawal kelahiran negara Indonesia menyetuji Pancasila sebagai dasar negara. Seluruh komponen bangsa Indonesia yang berbeda agama dan budaya pun, menyetujuinya. Ini karena Pancasila memuat seluruh nilai-nilai universal kemanusiaan yang rahmatan lil’alamin.

Pancasila adalah “rumah bersama” bangsa Indonesia yang mempercayai sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk hidup dalam rumah bersama itu, semua komponen bangsa harus mengembangkan sikap toleransi dan merawat keberagaman. Keberagaman dan toleransi itu harus hidup dalam basis kemanusiaan yang adil dan beradab. Tujuannya, untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konteks itulah, keteladan Buya Syafii – yang hidup toleran, menjaga keberagaman dengan basis nasionalisme Indonesia yang kuat – perlu kita rawat. Untuk Indonesia ke depan – kata Buya – tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan.

Jika hal-hal tersebut merasuk ke dalam hati dan menjadi perilaku keseharian bangsa Indonesia, terutama umat Islam, niscaya nilai-nilai indah Pancasila benar-benar nyata. Bukan fatamorgana.

*dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini