Buya Edi dan Islam Indonesia

APA sumbangan dari pemikiran tokoh intelektual muslim Prof. Dr. Azyumardi Azra yang wafat 16 September 2022 lalu?

Jawabnya: Islam Indonesia. Ya. Bung Edi — panggilan akrab Azyumardi Azra — dalam berbagai ceramah dan tulisannya baik di Indonesia maupun mancanegara sering mengupas tentang wacana baru Islam Indonesia tadi.

Islam Indonesia, tentu saja tidak sama dengan Islam Nusantara, meski dalam beberapa hal, keduanya berimpitan pemahamannya. Pinjam istilah matematika, Islam Indonesia pada hal-hal tertentu memang “beririsan” dengan Islam Nusantara.

Jika Islam Indonesia sangat dinamis karena Indonesia sebagai “cultural entity” sangat terbuka — maka Islam Nusantara bersifat unik karena nusantara sebagai entitas kultural mempunyai “kelembaman” dalam menerima perubahan dunia modern. Karena itu — kata almarhum KH Hasyim Muzadi, mantan ketua PBNU — butuh energi ekstra untuk momodernisir Islam Nusantara tersebut.

Kelembaman tersebut terjadi karena Islam Nusantara sangat variatif, fragmented, dan kadang eksklusif. Yang terakhir ini, eksklusivitasnya sering kurang kontekstual dengan pemikiran Islam modern. Seperti ritual-ritual tertentu di daerah-daerah enclave muslim yang jauh dari pengaruh kehidupan modern.

Ini berbeda dengan Islam Indonesia. Islam Indonesia bersifat inklusif dan modern. Dinamis dan terbuka terhadap pengaruh dari “luar”. Karena sifatnya yang inklusif dan terbuka, maka Islam Indonesia akan terus berubah, kompatibel dengan zamannya.

Dalam konteks inilah, Dubes Inggris untuk Indonesia Martin Hartfull yang menyerahkan gelar penghargaan Commander of The Order of British Empire (CBE) kepada Azyumardi Azra pada 28 September 2010, menyatakan — bahwa “Buya Edi’ berhasil membuka mata dunia tentang Islam alternatif yang mencerahkan.

Kata Hartfull, Buya Edi telah berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa “rujukan Islam itu tidak hanya ada di Timur Tengah dan Asia Selatan” — tapi juga di Indonesia. Indonesia sebagai negeri dengan populasi Islam terbesar di dunia, ternyata memiliki kekhasan Islam yang patut mendapat perhatian dunia.

Kenapa? Sejarah mencatat, Islam “mendarat” di bumi Indonesia ketika penduduknya sudah turun-temurun beragama Hindu, Budha, dan beberapa agama lokal.

Uniknya, penduduk Indonesia dapat “memblending” ajaran Hindu dan Budha dengan baik nyaris tanpa friksi. Di Bali dan Jawa, misalnya, ajaran agama Hindu dan Budha bisa saling mengisi dan mempengaruhi — bahkan berintegrasi secara positif.

Orang Hindu Bali misalnya, sama sekali tidak rikuh menempatkan patung Sidharta Gautama dengan Dewa Syiwa dalam satu altar pemujaan. Kedua umat beragama yang berbeda itu pun, hidup damai, rukun, dan saling menghormati keyakinannya.

Setelah Islam masuk ke bumi Indonesia, kondisi seperti itu tetap berjalan. Dalam pengertian, Islam yang “mendarat” di bumi Hindhu dan Budha tersebut bisa berinteraksi dengan budaya setempat. Di Pati dan Kudus Jawa Tengah sebagai contoh, dalam Idul Adha penduduk lokal tidak memotong sapi sebagai hewan kurban. Melainkan memotong kerbau.

Ini karena sapi adalah hewan yang dihormati, bahkan disucikan dalam agama Hindhu. Sejarah mencatat Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Jawa memakai pendekatan atau mengadopsi budaya Hindu dan Budha tadi. Artinya legenda yang bersifat Hinduism dan Budhisme tetap terpelihara, tapi sudah “berjiwa Islam”.

Pinjam analisis MC Ricklefs, sejarawan dari Monash University Australia, nyawa Islam dalam legenda Hinduism dan Budhisme itu tumbuh secara perlahan selama ratusan tahun sejak agama yang dibawa Nabi Muhammad itu masuk ke Indonesia.

Kedatangan Islam, misalnya, mandapat “sambutan positif” di Jawa tanpa mengurangi kemelekatan dengan adat istiadat setempat yang berbau Hinduism. Namun seiring dengan perjalanan dunia modern yang terus berubah — populasi Islam makin bertambah di Indonesia — jauh melampaui populasi umat Hindu dan Budha.

Kenapa terjadi? Jawabnya, Islam yang cepat bersentuhan — bahkan menjadi pengerek kemajuan sains dan teknologi di Eropa — mudah menarik generasi muda untuk “bergabung” dengan agama baru ini.

Akibatnya populasi Islam terus bertambah seiring perjalanan hidup bangsa Indonesia. Menariknya, tak hanya Islam sebagai agama yang berkembang — tapi Islam sebagai budaya dan derivasinya ikut berkembang dengan baik, kompatibel dengan dunia modern. Kondisi ini membuat almarhum Dr. Kuntowijoyo, sejarawan dan sastrawan UGM, sangat yakin bahwa abad baru Islam yang modern dan inklusif akan lahir dari Indonesia.

Dari perspektif inilah kita merasakan peran besar Azyumardi Azra. Buya Edi dan Mas Kunto — keduanya sejarawan lulusan universitas Columbia, Amerika Serikat — yakin pusat peradaban Islam akan lahir dari Ibu Pertiwi yang kita cintai ini.

Dari paparan di atas, kita mengetahui, Buya Edi adalah salah seorang yang berjasa besar dalam membidani kelahiran peradaban baru Islam. Yaitu peradaban baru Islam Indonesia yang terbuka, inklusif, dan dinamis — yang berbeda dengan peradaban Islam Timur Tengah (negara-negara Arab) dan Asia Selatan (Pakistan, India, Banglades).

Selamat jalan Buya Edi. Bangsa Indonesia berterima kasih atas sumbangsih pemikiran Islam dari Buya Edi yang luar biasa tersebut. God Bless You.

*KH Dr. Amidhan Shaberah, Ketua MUI (1995-2015)/Komnas HAM (2002-2007)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini