Oleh Yuliana Kusumastuti*

AKU selalu tertarik dengan seni, budaya, dan keberagaman sejak masih kecil. Aku senang bepergian dan menikmati seni rupa, tari, teater, sastra, dan musik. Kuliah jurusan bahasa Perancis, aku mulai menyentuh dunia ‘lain’. Yaitu, belajar bahasa lain dan tentunya termasuk budaya, kemudian menjadi wartawan terutama wartawan seni.

Tanpa disadari, semua yang terjadi di sekeliling menjadikan ku belajar lebih banyak, tentang dunia seni. Di Australia mendapat beasiswa untuk sekolah master dan meneliti karya seni seniman Indonesia dan sekarang aku sekolah di jurusan seni -meneliti karya seni ku sendiri- untuk melawan kerapuhan otak.

Seni membuat jiwaku berada di dunia yang lain, ‘a secret world’. Itu yang aku rasakan ketika aku berada di studio, sambil mendengarkan musik. Tinggal di Australia lebih dari 20 tahun di beberapa tempat membuatku lebih ‘kaya’ pengalaman dan memori. Memori itulah yang membuatku mulai mempertanyakan diriku sendiri, siapa aku, bagaimana aku melihat aku. Sebuah refleksi yang menjadi lebih penting karena adanya pandemi tahun lalu.

Lukisan yang aku pamerkan di Perpustakaan Albany Creek, Brisbane, dibuka tanggal 1 Juni dan berakhir tanggal 30 Juni, bermula dari investigasi perjalanan hidup di masa lockdown sejak tahun lalu dan sampai tahun ini masih saja kita dibelenggu oleh kekawatiran karena covid 19 ini, entah sampai kapan akan hilang virus ini -meskipun sudah ada vaksin- dan berita baik di beberapa tempat sudah tidak lagi harus isolasi diri.

Dampak dari virus ini adalah hubungan dengan orang lain, dengan keluarga dan terutama harus bersepakat dengan diri sendiri dengan keadaan yang ekstrim ini. Projek untuk observasi tentang ini sudah berlangsung sejak tahun lalu dan akan terus berkembang menjadi sebuah proyek tentang pencarian diri -to find a place of belonging-

Proses berkarya di studio berkembang dari melihat di ‘permukaan’ bagaimana kita menghadapi ‘dunia baru’ ini dan lingkungan sekitar, dan mencoba bertahan dengan keadaan yang ada, kemudian berkembang dengan banyak pertanyaan seperti “Apakah kita melihat orang lain secara individu yang unik?”, “Apakah kita diterima sebagai kita apa adanya?”, “Apakah kita masih bergulat dengan berbagai tantangan untuk bisa bertahan hidup?”, “Apakah kita hidup dalam ketakutan?”, dan “Apakah kita hidup dalam masyarakat yang tidak mau peduli satu sama lain?”.

Berbagai pertanyaan terus berkembang, dan aku berharap bisa mengkonfrontasi atau membuat orang lain berpikir dua kali siapa kita dalam masyarakat yang heterogen ini -secara sadar atau tidak sadar- , dan membuka wacana tentang identitas.

Dalam visualisasi, aku mengembangkan ide dengan beberapa seri lukisan yang beberapa lukisan adalah gabungan dari beberapa panel, aku mencoba untuk membuat lukisan yang lebih besar. Beberapa lukisan dengan judul “Memory Lane”, “Our Stories” adalah contoh dari lukisan besar sekitar 200 cm x 100 cm, sedangkan yang individual dengan ukuran 50 cm x 40 cm, aku beri judul “Pink”, “Green” tapi juga ada “Black’. Pilihan warna lukisan adalah kontras, bisa sangat terang tapi juga bisa sangat gelap, yang terjadi karena spontanitas, yang membuatku bebas berekspresi, bermain dengan garis, warna, bentuk yang geometris atau melingkar.

Tahun 2020 dan tahun 2021, termasuk tahun produktif, karena aku berpartisipasi dalam pameran bersama dan pameran tunggal di beberapa tempat termasuk di Inggris. Dua kali sempat menjadi finalis kompetisi lukisan di sebuah galeri di Brisbane. Hidup terus berlangsung, pencarian diri terus berlangsung, berharap bisa memberi kontribusi di masyarakat bahwa kita berbeda, kita unik, tapi kita punya perasaan yang sama kalau dilukai atau bergembira. Berbagi untuk menjadi harmoni.

Brisbane, Juni 2021

*mantan wartawan wartawan harian umum di Yogya, kini tinggal Brisbane.

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini