DON’T CRY Indonesia. Jangan menangis terus menyesali sesuatu yang sudah berlalu. Yaitu kegagalan menjadi tempat World Cup U-20. Keputusan FIFA membatalkan venue internasional World Cup U-20 di Indonesia tak bisa diganggu gugat. Usaha sekeras apa pun, lobi sebaik apa pun, tak mungkin mengembalikan World Cup U-20 ke Indonesia lagi.

Kita mengerti kesedihan dan kekecewaan ratusan juta fans sepakbola nasional atas pembatalan World Cup U-20 tersebut.

Keuntungan ekonomi pengusaha UMKM dan pariwisata yang sudah di tangan, akibat pembatalan tadi, langsung ambyar. Yang tampak hanyalah kerugian. Secara ekonomi pengusaha rugi trilyunan rupiah akibat keputusan FIFA yang membatalkan venue internasional U-20 di atas.

Kekecewaan ratusan juta fans sepakbola Indonesia, tak mungkin terobati dengan apa pun, kecuali dengan menonton final kompetisi dunia U-20 di tanah air. Di sosial media berbagai isu dan kabar hoax bermunculan, konon, FIFA memaafkan Indonesia. Dan World Cup U-20 tetap diselenggarakan di Negeri +62 karena penggantinya — Chili, Argentina, atau Brasil — tidak siap. Lucunya, kabar hoax tersebut, banyak yang mengamini. Padahal, jelas-jelas Indonesia sudah dicoret FIFA, 29/03/023 lalu, untuk tempat venue World Cup U-20. So, what next? Kita Harus bagaimana?

Yang bisa kita lakukan adalah, bagaimana melupakan kasus World Cup U-20, lalu bekerja keras kembali untuk mencapai prestasi terbaik di bidang-bidang kehidupan lain. Masih banyak potensi dari bangsa Indonesia yang perlu kita kembangkan, agar Negeri +62 dapat meraih prestasi terbaik di kancah internasional.

Kita perlu segera menyadari hukum alam bahwa segala sesuatu — baik materi maupun peristiwa — selalu “berpasangan”. Pinjam kata-kata puitis WS Rendra: kegagalan dan kesuksesan hakikatnya sama saja. Dalam kalimat lain, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dengan demikian, kerugian yang tampak di depan mata akibat pembatalan World Cup U-20, bisa menjadi keuntungan di kemudian hari.

Dalam setiap kasus, pasti ada hikmah di baliknya. Itulah yang harus kita sadari. Sebab, apa pun yang terjadi pada kita — termasuk gagalnya Word Cup U-20 — bagi orang beriman adalah hal terbaik di mata Tuhan. Kadang kita tak mengerti, kenapa takdir menghendaki demikian. Bagi orang beriman, yang perlu kita cari adalah hikmah di balik itu semua.

Setelah peristiwa batalnya World Cup U-20, misalnya, semua pihak yang terkait dengan olahraga sepakbola di Indonesia baik negara, PSSI, kepala daerah, pemain bola, maupun suporter — perlu bertanya pada diri sendiri, mengapa kasus tersebut terjadi pada Indonesia. Kita yakin keputusan FIFA tadi bukan karena “kesalahan tunggal” seperti penolakan terhadap kehadiran timnas Israel. Niscaya ada faktor lain.

Majalah Tempo edisi pekan pertama April 2023, menulis — keputusan pembatalan venue championship U-20 di Indonesia bukan semata karena penolakan kehadiran timnas Israel oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan PDIP — tapi karena faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan FIFA. Seperti kurang siapnya infrastruktur tempat pertandingan, keamanan, dan kesiapan penonton. Tragedi di stadion Kanjuruhan Malang di pertandingan Liga Satu antara Arema FC dan Persebaya, 1 Oktober 2022, misalnya, yang menewaskan 132 orang, 96 luka berat, dan 484 orang cedera, niscaya menjadi pertimbangan FIFA.

Catat, tragedi Kanjuruhan hanya berselang 6 bulan dari World Cup U-20. Sampai hari ini solusi menyeluruh atas tragedi Kanjuruhan di mata FIFA masih kurang meyakinkan! Itulah yang membuat FIFA membatalkan World Cup U-20 di Indonesia. Tulis Tempo! Apa daya, masalah Kanjuruhan memang kompleks. Terlalu sulit untuk dicari solusinya yang memuaskan semua pihak. Jadi wajar saja, ungkap Tempo, FIFA pun meragukan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah World Cup usia muda itu.

Akhirnya kita menyadari, dinamika kehidupan manusia silih berganti. Ada kalanya anak manusia gagal mencapai suatu prestasi yang diinginkan. Tapi di sisi lain, ia sukses di suatu bidang yang sebelumnya tidak diinginkannya. Di sanalah, kita yakin bahwa di balik kegagalan, ada kesuksesan. Entah kesuksesan bidang lain, atau kesuksesan yang tertunda pada bidang yang sama. Apa pun yang terjadi, bagi orang yang beragama, itulah ketentuan terbaik dari Allah.

Kini, menghadapi tahun politik — Pemilu dan Pilpres 14 Februari 2024 — yang sudah di depan mata, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun psikis. Baik secara infrastruktur maupun kultur. Kita tak berharap, kasus kegagalan World Cup U-20, menjadi jualan politik pihak tertentu untuk memojokkan pihak lain. Perbedaan identitas, sara, dan agama juga jangan dieksploitasi secara politik hingga menjadi pemicu kerusuhan nasional.

Bangsa Indonesia yang penduduknya multietnis dan mutiagama ini, mudah tercerai berai, jika diadu domba. Cukup sudah bangsa Indonesia menderita selama 3,5 abad dijajah Belanda yang mengeksploitasi politik divide et impera. Hal itu jangan terulang lagi di antara kita sesama anak bangsa dalam menghadapi tahun politik yang mulai hangat ini.

Akhirnya, mari kita lupakan kasus pembatalan World Cup U-20. Ingat kita bangsa besar. Kita masih punya banyak pekerjaan besar yang lebih penting dari sekadar mencari kambing hitam kegagalan terselenggaranya kompetisi dunia U-20. Persiapan Pemilu dan Pilpres 2024 agar pesta demokrasi itu sukses — baik secara politik, psikologik, maupun kesadaran publik — sangat penting untuk masa depan bangsa dan negara.

Amit-amit, jangan sampai pesta demokrasi 2024 nanti berlangsung rusuh seperti peristiwa Kanjuruhan. Kelangsungan perjalanan Indonesia ke depan tergantung dari kesuksesan penyelenggaraan Pemilu dan Pilpres 2024. Hanya tinggal 10 bulan lagi.

*Dr. H.M. Amir Uskara
anggota DPR RI/ekonom/penggemar sepakbola

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini