ANOMALI iklim makin mencemaskan. Bayangkan, bila Indonesia hari-hari ini, Oktober 2022, sedang dilanda banjir dahsyat (yang biasanya musim hujan lebat terjadi pada Desember hingga Februari); di Swiss – sorganya olahraga ski di hamparan salju Pegunungan Alpen – kini sepi. Padahal Oktober biasanya sport tourism ini mulai ramai. Hal itu terjadi karena hamparan salju di sepanjang bukit Alpen tidak muncul seperti biasanya. Tak ada salju, artinya ada anomali iklim yang parah.

Fenomena anomali iklim tersebut, tidak hanya terjadi di Indonesia dan Swiss – tapi hampir merata di suluruh dunia. Wilayah kering dan banjir ekstrim disertai badai besar yang menghantam apa pun yang ada di sekitarnya, kini makin luas. Tak hanya di Asia. Tapi juga Eropa, Amerika, dan Ausralia. Bahkan di Antartkika dan Puncak Himalaya, jutaan meter kubik salju mencair.

Fenomena itulah yang kini tengah melanda dunia. Kita tahu, semua itu terjadi karena makin besarnya emisi karbon dioksida (CO2) yang terkurung dalam atmosfir bumi. Dampaknya, global warming atau peningkatan suhu bumi makin besar.

Dalam kondisi seperti itulah dunia masa depan bergerak. Jika umat manusia tidak segera mengatasi global warming dengan jalan pengurangan emisi karbon, maka kiamat yang digambarkan dalam film “The Day After Tomorrow” benar-benar terjadi. Mengerikan sekali.

Lalu, apa hubungannya dengan Indonesia? Kita tahu, Indonesia adalah negeri dengan hutan tropis basah terluas di dunia setelah Brazil. Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar di dunia. Dan ini yang harus dicatat: Indonesia adalah negeri yang punya potensi terbesar untuk “menyelamatkan bumi” karena kekayaan energi baru dan terbarukan (EBT)-nya. Pemakaian EBT di Indonesia akan berdampak besar pada pengurangan emisi karbon di atmosfir. Kita tahu, EBT Indonesia tersimpan dalam bentuk energi “panas bumi, air (PLTA), organik (minyak sawit), angina (tanaga bayu), dan gelombang laut.”

Itulah sebabnya, dalam kondisi dunia yang cemas menghadapi global warming, kini “the world eye” tertuju kepada Indonesia. Pada sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-144 di Bali, Maret 2022 lalu, misalnya, terasa sekali harapan parlemen dunia terhadap Indonesia untuk menjadi “garda depan” dalam mengatasi global warming.

Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat untuk Urusan Iklim atau Global Warming, John Kerry, misalnya, dalam Tri Hita Karana Forum Climate Road to G20 Dialogue yang berlangsung secara daring, 1 September 2022, menyatakan harapan besarnya kepada Indonesia. Indonesia punya potensi besar – kata John Kerry – untuk mengurangi emisi karbon dunia. Lebih jauh Kerry menjelaskan, pengurangan emisi karbon ini punya potensi besar untuk bisnis masa depan. Perubahan iklim dan dampaknya terhadap masa depan dunia, menurut Kerry, bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Tapi harus menjadi motivasi untuk mendorong transformasi bisnis yang mengarah ke pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Kerry mengungkapkan, beberapa bisnis EBT yang kini tumbuh pesat di AS, adalah kendaraan listrik, pompa kalori (heat pump) untuk pemanas air, dan tenaga fusi.

“Ini adalah peluang ekonomi yang tak tertandingi,” ujar Kerry. Ia menambahkan, dorongan untuk mewujudkan ekonomi rendah karbon sangat penting untuk digaungkan guna menghindari konsekuensi terburuk dari krisis iklim.
“Semakin cepat kita melakukannya, semakin cepat kita membuat transisi yang kita butuhkan, dan semakin sedikit kerusakan terhadap planet ini. Satu-satunya hal besar yang bisa dilakukan Indonesia adalah dengan memperluas sebaran energi terbarukan,” tutur Kerry.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta dukungan para pemimpin global agar Indonesia bisa memimpin transisi menuju energi terbarukan.
“Agar bisa mencapai hal itu, dibutuhkan dukungan dari para pemimpin global untuk membuka modal, teknologi dan kapasitas SDM. Saat ini adalah dekade untuk bertindak, saya berharap kepemimpinan Indonesia di G20 dapat mewujudkan ini baik untuk Indonesia maupun dunia,” ujar Luhut.

Kita tahu Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan puncak G20, 15-16 November 2022. Konferensi tingkat tinggi (KTT) G-20 di Bali tersebut, mengusung tagline yang jitu: “recover together, recover stronger“. Pada KTT tersebut, keberlanjutan ekonomi hijau yang ramah lingkungan akan menjadi fokus utama

Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris di New York pada 22 April 2016. Dengan perjanjian itu, Indonesia berkomitmen untuk melakukan upaya menurunkan emisi gas rumah kaca dan bergerak aktif mencegah terjadinya perubahan iklim. Melalui Nationally Determined Contribution (NDC), Indonesia berkomitmen untuk memitigasi perubahan iklim dengan rencana penurunan emisi karbon hingga 29 persen pada tahun 2030 (bila bekerja sendiri). Tapi bila mendapat bantuan internasional, emisi karbon yang diturunkan bisa mencapai 41 persen.

Luhut mengatakan pemerintah Indonesia akan menentukan percepatan transisi energi yang bisa ikut mendukung penciptaan tenaga kerja, serta mendukung udara yang lebih bersih dan sehat. Ia mengemukakan sejumlah langkah yang dilakukan Indonesia untuk mendorong percepatan transisi energi, mulai dari pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik, hingga B40 (Minyak Sawit 40% dan BBM 60%).

Akhirnya, melihat anomali iklim yang parah akibat global warming, alih fungsi energi fosil ke EBT, sudah niscaya. Tidak bisa ditunda lagi. Saat ini, semua mata tertuju kepada Indonesia. Jika Indonesia mampu memenuhi komitmennya seperti disebutkan di atas, dunia akan tabik kepada kita. Jika tidak – harga diri bangsa terdegradasi.

Pada kondisi inilah DPR perlu menyiapkan perangkat hukum yang compatible terhadap komitmen Indonesia dalam menyelamatkan bumi dari terjangan global warming. Dunia internasional sedang berpacu untuk mengatasi problem gas rumah kaca yang menaikkan suhu bumi ini. Kini saatnya, Indonesia menjadi “pemimpin dunia” dalam upaya menyelamatkan bumi tersebut.

*Indra Iskandar adalah Sekretaris Jenderal DPR RI.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini