Purwanto Wijoyo*

FASTABIQUL khairat artinya berlomba-lomba dalam kebaikan. Prinsip ini yang seharusnya kita pegang di dalam aktivitas sehari-hari. Saya ingin mengambil sampel di salah satu bidang yaitu industri.

Setelah perang kemerdekaan selesai dan kita menang, perang selanjutnya adalah perang ekonomi. Bagaimana produk kita bisa memenangkan persaingan, baik domestik maupun regional dan global. Dengan memenangkan perang ekonomi ini, tentu akan berdampak pada kesejahteraan yang menjadi tujuan bernegara. Ingat, kita merdeka bukan hadiah. Tidak seperti negara-negara tetangga. Kita pemenang.

Ada investor asing bikin pabrik di negeri ini, kita sudah puas. Dengan merek asing. Padahal itu bisa dilihat di satu sisi sebagai kekalahan bersaing. Pertanyaannya, kenapa tidak bisa bikin merek sendiri? Kemudian bersaing dengan merek asing. Saya membedakan made in Indonesia dengan create by Indonesian. Banyak benefit yang kita dapat dengan merek sendiri. Yang jelas devisa. Tidak perlu setor ke luar negeri, kecuali profit sharing. Kita bukan dikenal sebagai negara produsen, tetapi konsumen. Terlalu banyak barang impor, atau kalaupun produksi dalam negeri tetapi create by foreign.

Sebuah produk, bisa eksis artinya sudah memenangkan persaingan, itu karena ada tim hebat yg mendukungnya. Ibaratnya sudah dapat piala atau medali. Tentu ada proses panjang sebelum itu. Mulai dari riset, survei pasar, penelitian di laboratorium, bikin mock up, prototip dan seterusnya. Harus melewati banyak kegagalan.

Contohnya produk mobil. Bukan hanya karya insinyur. Ada banyak peneliti, desainer atau artis, budayawan, ahli keuangan, ahli marketing, sejarawan, sosiolog, psikolog, legal dan lain-lain di dalam tim. Itu karya tim. Ada hak paten juga yang harus dibeli. Ini wewenang bagian legal. Ibarat sepakbola, di dalam tim yang hebat ya ada striker yang tajam, gelandang yang cerdas, back yang tangguh, dan kiper yang handal. Jangan lupa peran manajer, sangat sentral dalam mengatur strategi, memaksimalkan potensi yang ada. Tidak heran bila di negara-negara industri, prestasi olahraganya juga bagus. Sebut saja Amerika Serikat, Jerman, Jepang, China. Mereka sudah berbudaya unggul.

Suatu produk bisa saja mewakili karakter bangsanya. Karena customer utamanya domestik. Contoh, Hummer mewakili Amerika yang kuat, gagah, kaku, dan boros. Tata Nano mewakili India yang sederhana, teknologinya ketinggalan dan yang penting murah. VW Golf mewakili bangsa Eropa yang stylish, kompak, aman dengan hasil test crash bagus dan nyaman. Toyota Corolla mewakili Jepang yang inovatif, simple sehingga tidak rewel dan modis. Sebentar sebentar keluar model baru. Kayak baju saja. Korea juga produsen otomotif yang berkembang. Tampaknya berkiblat ke Eropa. Sehingga produknya European style. China? Penjiplak ulung. Tapi jangan salah, mereka juga berinovasi. Produknya lumayan kompetitif. Indonesia? Anda sudah tahu produk apa yg paling laku. Sayang, bukan merek Indonesia.

Tetapi saat ini sedang terjadi revolusi industri. Produk-produk tersebut sudah kalah bersaing dengan pendatang baru Tesla. Penguasa Electric Car. Jangan lupa peran budayawan dalam suatu produk, utamanya otomotif.

Poin penting yang ingin saya sampaikan adalah mari kita tumbuhkan budaya unggul. Budaya fastabiqul khairat, berlomba dalam kebaikan. Bila budaya itu sudah berlangsung, Indonesia menjadi juara Piala Dunia bukan hal mustahil. Atau menjadi negara industri yang maju dan makmur. Saatnya para pakar bersinergi di berbagai bidang ilmu, untuk bisa bersaing dengan negara negara maju dalam menyajikan produk bermutu tinggi. Bukan hanya otomotif, tetapi juga produk produk lain. Dengan semangat fastabiqul khairat.

Bantul 14 Juni 2021

*penulis adalah pengusaha, Direktur PT Insan Barokah Ridho Illahi, tinggal di Bantul, Yogyakarta.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini