Oleh Dr. Indra Iskandar*

Rabu dan Kamis pekan lalu (29-30/06/022) Jokowi mengguncang dunia. Betapa tidak — di tengah kecamuk perang Rusia-Ukraina (R-U), Presiden Indonesia berkunjung ke Ukraina dan Rusia.

Semua orang salut. Senayan pun tabik melihat keberanian dan kepedulian Jokowi terhadap konflik R-U tersebut. Kantor berita Reuters yang berbasis di London, Inggris, menulis Presiden Joko Widodo sedang menjalankan misi damai antara Rusia dan Ukraina.

Jelas, ini langkah strategis mengingat Indonesia saat ini adalah “presiden” G-20, yang di dalamnya ada Amerika, Rusia, Cina, Inggris, Jerman, Perancis, dan Uni Eropa — negara-negara penting yang “terlibat” dalam perang tadi.

Untuk melancarkan misinya, Jokowi mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy hadir di acara pertemuan puncak G-20 di Bali, November 2022. Kita berharap KTT G-20 di Bali berhasil. Rusia dan Ukraina kembali bersahabat sebagai bangsa serumpun.

Seperti biasa, di samping banyak tokoh yang memuji langkah Jokowi, banyak pula yang mencercanya. Upaya Jokowi dianggap sia-sia. Tak mungkinlah Presiden Indonesia mendamaikan perang antara Ukraina dan Rusia — yang sesungguhnya merupakan perang proksi antara Barat (AS dan sekutunya) dan Timur ( Rusia-Cina).

Kelompok oposisi yang nyinyir memang kadung benci Jokowi. Mereka tak bisa melihat peluang perdamaian sedikit pun. Padahal dalam misi damai Jokowi, terdapat peluang strategis untuk mewujudkan perdamaian.

What is that? Food for peace. Serendipity dari food for peace, cepat atau lambat akan membuka kunci penting untuk terwujudnya perdamaian itu.

Baiklah, kita lihat problem pangan dulu. Akibat perang R-pU, ketersediaan pangan dunia terguncang. Maklumlah, kedua negeri itu, adalah salah satu lumbung pangan terbesar di dunia.

Akibat perang, di Ukraina ada 22 juta ton gandum teronggok muspro. Tak terjual di pasar dunia. Tak lama lagi, Ukraina akan panen gandum yg jumlahnya 55 juta ton. Ini artinya akan ada 77 juta ton gandum yang sia-sia jika perang terus berkecamuk. Belum lagi gandum hasil panen Rusia yg jumlahnya tak kalah dari Ukraina.

Dari kasus gandum ini saja, niscaya yang namanya manusia niscaya akan trenyuh. Betapa tidak! Jika perang terus berlangsung, akan ada 800 juta lebih manusia kelaparan. Sekjen PBB Antonio Guterres jelas melihat peluang itu. Ia pun berpesan pada Jokowi agar membicarakan pangan dengan Ukraina dan Rusia.

Pangan adalah kebutuhan utama manusia yang hidup di bumi. Tanpa pangan pekerjaan apa pun terbengkalai. Dan itu tampaknya disadari betul oleh Zelenskyy dan Putin. Ketika Jokowi menceritakan soal pangan, baik Zelenskyy maupun Putin, mengalah untuk mengutamakan pangan ketimbang perang. Meski kata perdamaiannya masih tersublim dengan kata “gencatan senjata” — diplomasi pangan Jokowi membuat Zelenskyy dan Putin punya pikiran sama.

Ya. Kedua pimpinan yang sedang konflik itu punya pikiran sama. Mereka prihatin terhadap krisis pangan akibat perang. Maka, dari sanalah akan terbuka dialog.

Dialog adalah kunci dari pintu perdamaian. Mustahil perdamaian akan tercipta tanpa dialog. Dari sisi inilah, membuka dialog, itulah keberhasilan Jokowi dalam mengupayakan perdamaian antara Rusia-Ukraina.

— terbukanya keberuntungan yang terus menerus — niscaya akan mengarah pada tercapainya perdamaian. Amerika dan Sekutunya yang sekarang memblokir aset-aset Rusia di perbankan mereka, niscaya akan sadar jika “pemblokiran” tersebut hanya memperpanjang perang. Memperpanjang perang sama artinya dengan memperpanjang masa kesulitan pangan dunia.

Etika demokrasi yang sering dikumandangkan Amerika, cepat atau lambat, akan menyadarkan Barat untuk membuka isolasinya terhadap Rusia. Bukankah dulu, tanpa Rusia, Perang Dunia Kedua akan lebih lama? Bagaimana pun Rusia — dulu centernya Uni Soviet — punya kontribusi besar dalam mengalahkan tentara Nazi Jerman dan tentara Fasisme Jepang.

Seperti dikatakan Presiden Jokowi dalam dialognya dengan Kompas (1 Juli 2022), diplomasi pangan untuk perdamaian adalah sangat penting. Karena melalui food for peace ini, kata Presiden Jokowi, semua kepentingan terakomodasi. Di sana, ada titik temu. Jika sudah ada titik temu, kata Jokowi, titik- titik temu yang lain akan bermunculan.

Itulah serendipity dari diplomasi food for peace ala Jokowi. Kita optimistis, serendipity tersebut akan berjalan cepat, bahkan lari kencang, untuk menyelesaikan krisis Rusia dan Ukraina. Waktu yang akan membuktikannya. Semoga.

*Sekretaris Jenderal DPR RI

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini