SAYA mengartikan hunian sebagai rumah beserta lingkungan sekitarnya. Bukan sekadar fisik bangunan rumah. Penataan hunian harus terintegrasi dengan rumah rumah di sebelahnya dan  segala fasilitas pendukungnya. Seperti saluran drainase, saluran limbah, pembuangan sampah, jalan lingkungan dan pengaturan lalu lintasnya. Rumah yang bagus, mewah, tetapi lingkungannya kumuh tentu tidak nyaman. Gotnya mampet, banjir, tidak ada pohon atau tanaman, pembuangan sampah tidak dikelola dengan baik, misalnya, tentu tidak nyaman.

Budaya

Hunian, di mana di dalamnya terdapat rumah, adalah produk dari kebudayaan. Terutama rumah adat, dibangun menyesuaikan budaya setempat, kondisi lingkungan dan ketersediaan material. Semua rumah adat berukuran besar. Cocok dengan budaya orang Indonesia yang senang berkumpul. Di Indonesia hampir semua rumah adat berbahan kayu. Baik dinding, lantai bila rumah panggung, maupun tiang penyangganya.

Saat itu ketersediaan kayu melimpah. Bagi yang tidak mampu, bisa membangun rumah dengan bahan bambu, berdindingkan anyaman bambu yang disebut gedek. Untuk atap, jaman dulu ada beberapa jenis. Yang paling mahal sirap. Yaitu kayu berkualitas baik yang dipotong tipis – tipis. Contoh bangunan beratap sirap adalah keraton. Bahan atap dengan kelas di bawahnya adalah genteng dari tanah liat. Atap dengan bahan daun rumbia, ilalang atau daun tebu tidak ada lagi yang menggunakan. Mudah rusak, kira – kira hanya bertahan 5 tahun. Juga mudah terbakar. Tahun 1970an masih banyak dijumpai rumah beratap daun tebu di pedesaan Bantul. Orang menyebutnya rapak.

Hunian sebagai produk budaya Indonesia saat ini sudah pudar. Artinya, budayanya sudah menyatu, tidak lagi ada unsur etnis. Sudah berubah menjadi budaya modern. Hal ini karena perubahan selera.masyarakat. Ke depan, tantangan bagi para praktisi, khususnya arsitek, untuk mendesain rumah yang berkarakter kuat, sebagai produk budaya Indonesia.

Arsitektur

Setiap daerah punya rumah adat dengan arsitektur lokal. Ini dapat menjadi ciri khas daerah tersebut. Sayangnya, arsitektur lokal semakin ditinggalkan. Orang cenderung membangun rumah dengan arsitektur modern, arsitektur global. Memang lebih praktis & hemat. Karena rumah tradisional biasanya besar sehingga membutuhkan material yang banyak. Perawatannya pun lebih susah karena ukurannya yang besar. Di sisi lain, harga lahan makin mahal. Menjadi tantangan bagi arsitek untuk mendesain rumah tradisional modern yang simpel dan murah, namun mencukupi kebutuhan. Higienis dan menyehatkan.

Rumah

Konstruksi rumah harus memenuhi kebutuhan minimal. Baik luasan, maupun ketersediaan ruangan. Yaitu cukup nyaman untuk tidur dan aktivitas lain di rumah tersebut. Ada kamar pribadi, kamar mandi, ruang keluarga dan dapur. Idealnya, besarnya rumah menyesuaikan jumlah penghuninya. Terpenuhi juga kecukupan pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik. Secara struktural tahan gempa. Indonesia adalah pusatnya gempa. Jadi, rumah harus didesain & dikerjakan sesuai kaidah kaidah teknis rumah aman gempa. Pemerintah sudah membuat zonasi gempa. Beda daerah akan beda skala risiko kegempaannya. Jadi rumah aman gempa di Jakarta akan berbeda dengan di Yogyakarta, karena beda zona.

Bahan Bangunan

Salah satu bagian utama dari rumah adalah dinding. Bata merah saat ini masih banyak digunakan untuk dinding. Teknologi yang mandeg, karena sudah diganakan sejak 4000 tahun, sejak Firaun. Ada keengganan dari masyarakat untuk berubah, resistance of change. Padahal sudah banyak material lain yang lebih ramah lingkungan dan lebih tahan terhadap gempa. Salah satunya bata ringan. Diciptakan kira-kira 100 tahun lalu, tetapi baru akhir-akhir ini banyak digunakan. Pilihan lainnya adalah batako atau bata kosong, tengahnya bolong. Fungsi rongga  dalam batako adalah mengurangi jumlah material, sehingga lebih murah sekitar 30%. Fungsi lainnya adalah meredam panas dan mengurangi berat. Material yang lebih ringan akan menambah kekuatan terhadap gempa.

Material lain seperti Glass Reinforced Concrete (GRC), Cross Laminating Timber (CLT), galvalume, Sandwich panel, Hollow Core Concrete (HCC) belum banyak digunakan. Ke depan material – material ini akan lebih banyak digunakan. Pemilihan material bukan semata – mata pertimbangan teknis, tapi lebih dominan kebiasaan. Jadi harus dibiasakan.

Di negara-negara maju penggunaan CLT sudah berkembang. Kita menyebutnya kayu lapis. Bahkan sudah digunakan untuk struktur gedung tinggi, lebih dari 10 lantai. Kolom, balok, sloof dan dinding menggunakan CLT. Indonesia berpeluang menjadi produsen besar mengingat availability kayu cukup melimpah, di bebrapa propinsi. Banyak perkebunan sawit dan karet tua. Selama ini batang pohon tua hanya dibuang bila replanting atau peremajaan. Tentu harus diolah secara modern. Diawetkan.

Atap, saat ini ada banyak pilihan. Diantaranya genteng tanah liat, genteng beton, asbes, fiber cement (orang menyebutnya asbes), seng, galvalum. Ke depan, saya memprediksi akan makin banyak rumah menggunakan atap panel surya. Seiring digalakkan nya pemakaian energi terbarukan. Dengan pemakaian yang makin massal, harga panel surya akan semakin murah.

Menjadi tantangan bagi para peneliti dan akademisi untuk menciptakan material yang kuat, murah, ramah lingkungan. Tentu harus melibatkan praktisi di lapangan agar produk tersebut bisa digunakan massal.

Penggunaan material lebih cocok bila sesuai dengan sumberdaya setempat. Untuk daerah banyak batu kapur, bisa dipotong seperti bata. Rumah tradisional timor menggunakan pelepah lontar untuk dinding. Material ini masih dapat dipertahankan. Untuk memberi kesan modern dan nilai estetikanya naik, bisa dilapisi PVC atau GRC. Murah juga bisa indah.

Saat ini seolah-olah ada penyeragaman pola pikir, rumah harus tembok bata dengan struktur beton bertulang. Padahal rumah tradisional selalu kayu. Pandangan sebagian orang saat ini, rumah kayu cepat rusak, tidak layak huni, mahal. Tentu pandangan ini salah.

Teknis Hunian Sehat

Secara teknis hunian sebaiknya didesain terintegrasi dengan lingkungan sekitar. Pengaturan tata letak rumah, penyediaan air bersih, pengelolaan air kotor, pembuangan air hujan, jalan lingkungan tertata dengan baik. Aspek lingkungan harus dipertimbangkan dengan baik. Hal yang paling sering terabaikan adalah bagaimana hunian tidak menyumbang banjir di hilir. Idealnya, air hujan diresapkan ke dalam tanah. Bukan langsung dibuang di got yang berpotensi menyebabkan banjir di hilir.

Demografi

Jumlah penduduk yang terus tumbuh berakibat kebutuhan rumah yang juga tumbuh seiring. Ada sekitar 1,7 juta keluarga baru di Indonesia setiap tahunnya. Sebagian besar belum memiliki rumah. Jumlah itu meningkat tiap tahun. Akumulasi keluarga yang belum memiliki rumah jumlahnya menjadi 13 juta (Kompas.com 15 Agustus 2022). Ini disebut backlog. Sudah berkeluarga tetapi belum memiliki rumah berarti dia kos, kontrak atau masih tinggal dengan orangtua. Tentu ini bukan kondisi ideal. Satu rumah dihuni beberapa keluarga akan menjadi rawan konflik. Lebih jauh dapat menyebabkan gangguan psikologis.

Kenaikan backlog dari tahun ke tahun adalah akibat dari supply yang lebih kecil dibanding demand. Backlog didominasi MBR atau masyarakat berpenghasilan rendah. Jumlahnya 84% dari backlog (Wartaekonomi.com, 18 Agustus 2022). Harga rumah tidak terjangkau bagi mereka. Pemerintah punya program rumah subsidi. Subsidinya berupa keringan pajak, keringan bunga bank dan bantuan uang muka. Saat ini harga rumah subsidi ditetapkan Rp 162 juta. Program ini sulit dilaksanakan. Angka pencapaian selalu di bawah target. Kendalanya adalah harga tanah yang makin mahal. Untuk membangun rumah subsidi developer harus mendapatkan tanah di bawah Rp 200 ribu per meter persegi. Tentu makin sulit mencarinya. Kalaupun ada lokasinya di pelosok, sehingga kurang menarik. Kendala lainnya adalah birokrasi yang rumit, mahal dan lama. Ini menjadi tantangan pemerintah, bagaimana supaya lebih sederhana dengan tujuan backlog teratasi. Rumah sebagai kebutuhan pokok tercukupi, disamping pangan dan sandang.

Hunian Vertikal

Hunian vertikal cocok dibangun di perkotaan yang harga lahan sudah mahal sekali. Saat ini makin banyak hunian vertikal dibangun di kota-kota besar. Tinggal di hunian vertikal mengubah perilaku penghuninya. Rumah di hunian relatif sempit, tidak memungkinkan kumpul – kumpul atau memiliki banyak barang. Atau bisa jadi hunian tersebut hanya sekadar untuk transit, yang bersangkutan punya landed house di lokasi lain yang agak ndeso.

 Prefab

Prefab house atau rumah pra fabrikasi akan menjadi tren di masa datang. Rumah dibuat di pabrik, di lokasi tinggal instal. Dengan produksi massal akan menekan biaya dan waktu pengerjaan sangat cepat dibanding konvensional. Bentuknya typical, seragam, sama satu dengan lainnya. Bila dirasa terlalu monoton, bisa divariasi dengan warna cat yang berbeda – beda. Seperti mobil. Di negara maju sudah banyak digunakan. Di Indonesia belum banyak, karena harus mengubah mindset dan kebiasaan konsumen. Jadi tantangan bagi produsen adalah mengedukasi. Bila rumah konvensional membutuhkan waktu tiga bulan, rumah prefab diharapkan selesai dalam satu minggu. Suatu saat nanti, pesan rumah bisa lewat handphone, lewat aplikasi, seperti pesan makanan online.

Smart Home

Rumah pintar atau smart home akan menjadi tren di perkotaan. Rumah berbasis android. Rumah yang dapat dikendalikan dari handphone. Untuk melihat CCTV, mematikan lampu dan AC, atau mengunci pintu. Vendor untuk itu sudah ada. Tinggal mengaplikasikan saja.

Bantul, 6 Desember 2023

 

*Purwanto SP Wijoyo. seorang pengembang perumahan, tinggal di Bantul, Yogyakarta

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini