*Syaefudin Simon

AHAD SIANG sekitar pukul 11.00 tetiba KH Zamroni merasa lelah usai mengajar. Tak lama kemudian, ia tutup usia. Begitu cepat. Begitu mendadak. Aku baru buka hape jam 17.00. Aku kaget bukan main. Tapi aku tak bisa mengiringi kepergiannya ke rumah abadi sang kyai.

Zamroni Irfan, adalah generasi santri modern Tegalgubug. Ia bisa diajak ngobrol apa saja. Termasuk pikiran liberal tentang Islam. Itulah sebabnya Zamroni dekat denganku. Tiap aku pulang kampung, aku mampir ke rumahnya. Atau ke rumah orang tuanya, Wa Idah. Wa Idah dan Haji Irfan, orang tua KH Zamroni, tahun 1970-an rumahnya bersebelahan dengan rumah orang tuaku di Tegalgubug Kidul.

Zamroni alumnus Ponpes Tanggir, Bojonegoro. Bukan Lirboyo Kediri, seperti sebagian besar orang Tegalgubug. Ia aktif di NU Cirebon. Ia sering ceramah dan khotbah Jumat di berbagai kampung di Cirebon. Di laman FB-ny, KH Zamroni sering terlihat sedang mengisi pengajian atau ceramah.

Bagiku, Zamroni termasuk kyai muda yang terbuka pikirannya. Ia mengagumi Gus Dur dan Kyai Syakur Yasin. Juga menghargai pendapat orang sepertiku yang Islamnya — oleh orang Tegalgubug — dianggap nyleneh. Seperti pendapat bahwa anjing tidak najis, gak perlu ikut mazhab Syafi’i, dan pondok pesantren harus memasukkan pelajaran fisika dan matematik agar logikanya terasah. Aku juga bercerita bahwa KH AR Fachrudin, mantan pimpinan pusat Muhammadiyah adalah waliyullah seperti halnya Gus Dur. KH Zamroni setuju.

Aku sering menyatakan padanya, sampeyan persis seperti ayahnya, KH Irfan. Wawasannya luas dan kreatif. Zamroni sangat antusias ketika aku menceritakan ayahnya. Maklum ketika ayahnya wafat, Zamroni masih kecil, atau mungkin belum lahir.

Foto di bawah: KH Mukti Ali Qusyairi dan KH Zamroni Irfan (kanan), dua santri modern dan liberal Tegalgubug

Zamroni adalah sedikit dari santri Tegalgubug yang menerima pikiran liberal. Satunya lagi santri Tegalgubug yg liberal adalah KH Mukti Ali Qusyairi (Ketua Bahtsul Masaail PWNU Jakarta) alumnus Ponpes Lirboyo Kediri dan Al Azhar Kairo. Mukti sepengetahuanku lebih liberal dari Buya Syakur Yasin yang kini dilaporkan Egi Sujana karena dianggap menghina Islam.

Zamroni, tak kalah liberal. Ia bisa menerima pikiran-pikiranku tentang agama masa depan. Tentang agama sebagai warisan kultural, tentang keabadian manusia di era berkembangnya teknologi ruh sehingga hidup dan mati adalah pilihan manusia, bukan takdir; tentang kiamat akibat global warming, dan tentang sorga dan neraka yang ada di dunia ini juga.

Kini teman dekatku, santri liberal itu telah tiada. Zamroni, kalau sampeyan bisa masuk dalam mimpiku, nanti ceritakan tentang alam barzah dan pertemuan sampeyan dengan malaikat. Aku kepo banget tentang cerita-cerita tersebut. Benarkah adanya? Atau cuma imajinasi orang-orang yang berlatar budaya Semit?

Selamat jalan, Kang Zamroni. Semoga bahagia di alam sana.

*Syaefudin Simon, wartawan, juga penulis

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini