oleh DR. HM Amir Uskara*

PRESIDEN Joko Widodo tersenyum lebar. Indonesia mendapat pujian International Monitary Fund (IMF) – lembaga keuangan dunia yang pernah “menekuk” Presiden Soeharto tahun 1998.

Apa pujian itu? Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan: Indonesia adalah titik terang di tengah kesuraman ekonomi dunia. Luar biasa!

Jokowi pun merespon pujian itu. Kata Presiden, perekonomian Indonesia masih tumbuh 5,44 persen di kwartal kedua tahun 2022. Ini sesuatu yang luar biasa, sehingga Indonesia terlepas dari kemuraman ekonomi dunia. Bahkan, negeri +62 ini diyakini akan lepas dari resesi global yang dipercaya muncul tahun depan.

“Saya masih meyakini di kuartal III tahun 2022 ini, kita masih tumbuh di atas 5 persen, atau di atas 5,4 persen,” kata Presiden Jokowi di Jakarta. Hal ini terjadi karena angka-angka di neraca perdagangan surplus 5,7 persen; kredit tumbuh 10,7 persen, dan indeks kepercayaan konsumen berada di angka 124,70,” ungkap Presiden.

Performance tersebut cukup meyakinkan, Indonesia tidak berada di barisan negara-negara yang sakit. Kondisi ini sangat bagus, tambah Jokowi saat membuka Trade Expo Indonesia, Rabu (19/10) di Jakarta — karena kepercayaan global kepada Indonesia makin baik. Artinya, investasi pun akan makin deras masuk ke Indonesia. Dampaknya, perekonomian tumbuh dan pengangguran berkurang. Penurunan ekonomi dampak krisis pandemi Covid-19, akan sirna.

Dalam perbincangan telepon dengan Direktur Pelaksana IMF tersebut, Jokowi mendapatkan informasi bahwa saat ini ada 16 negara yang sudah menjadi pasien IMF. Sementara 28 negara lainnya sedang antri di depan pintu IMF untuk mendapat “perawatan”.

Meskipun semua indikator berada pada kondisi yang baik, Jokowi mengingatkan semua pihak untuk terus bekerja keras karena hal tersebut merupakan kunci utama dalam menghadapi kondisi sulit seperti sekarang. Untuk itu, Jokowi mendorong semua pihak untuk bekerja tidak hanya makro dan mikro saja, tetapi juga detail. Detail dalam arti memanfaatkan semua pelung yang ada untuk mengerek perekonomian, dari yang tingkat gajah sampai semut, seperti menanam cabai dan bayam di depan rumah.

“Kerja sekarang memang harus lebih detail, dilihat satu per satu, dan dikejar, diselesaikan. Itulah kerja yang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Enggak bisa lagi kita hanya kerja makro saja, bisa luput, bisa meleset,” ucapnya.

Pasalnya, kerja detail itu juga diperlukan dalam mengatasi inflasi. Jika di negara lain inflasi hanya menjadi urusan bank sentralnya saja, maka di Indonesia inflasi harus diselesaikan dengan kolaborasi banyak pihak baik otoritas moneter, otoritas fiskal, hingga pemerintah daerah. Termasuk bagaimana mengembang ekonomi supermikro seperti pedagang kaki lima dan petani kecil.

Betul, apa yang dikatakan Presiden. Indonesia harus bekerja keras untuk mengatasi resesi global nanti. Salah satunya – ini yang sangat penting – bagaimana mengaktualkan semua potensi ekonomi dalam negeri.

Salah satu hal yang sering mengerek inflasi misalnya, adalah pangan. Sabagai contoh, Indonesia saat ini masih mengimpor gandum dengan jumlah sangat besar. Ini terjadi karena makanan berbasis gandum seperti mie dan roti sudah menjadi bahan makanan pokok kedua setelah beras. Padahal, gandum tersebut hampir 100 persen impor. Jika masalah pangan ini, terutama gandum, bisa diatasi, niscaya dampaknya terhadap inflasi cukup siginifikan. Kita harus berpikir simple. Makan adalah asupan karbohidrat dalam tubuh untuk membentuk energi.

Di Indonesia ada 70 jenis bahan pangan dengan karbohidrat setara beras dan gandum. Jika kita serius ingin mandiri pangan, tanpa impor, bahan pangan lokal tersebut bisa diberdayakan. Teknologi mampu membuat roti dan mie dari tepung jagung dan singkong. Tingal bagaimana mensosialisasikannya kepada masyarakat. Begitu pula bahan panganlain yang berasal dari tumbuhan local. Seperti ganyong, uwi, garut, sagu, dan gembili.

Hal yang sama juga teradi pada dunia obat-obatan atau farmasi. Hampir semua bahan baku obat-obatan di Indonesia masih impor. Padahal, bahan-bahan baku obat-obatan tersebut – kalau mau dan kreatif – bisa diproduksi di Indonesia.

Krisis ekonomi global saat ini harusnya jadi momentum Indonesia untuk mandiri – melepaskan ketergantung pada barang impor. Imbauan Presiden Jokowi agar belanja pemerintah, baik pusat maupun daerah, lebih banyak ditujukan untuk membeli produk dalam negeri perlu mendapat perhatian. Karena hal tersebut, bisa meredam inflasi dan tentu saja menghemat devisa. Dampaknya, ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif di saat ekonomi dunia negatif.

Di pihak lain, untuk mengatasi muramnya ekonomi global, otoritas keuangan seperti Bank Indonesia (BI) – harus melakukan langkah-langkah strategis. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, setidaknya ada lima tantangan yang akan dihadapi ekonomi global tahun 2023.

Pertama, perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhannya hanya 2,6% pada 2023, melambat dari perkiraan semula sebesar 3%. Bahkan pertumbuhan ekonomi global pada 2023, bisa lebih rendah dari 2,6%. Perlamabatan ekonomi global yang berdampak pada bertambahnya penggguran ini, sudah terlihat di AS.

Ekonomi negeri adidaya ini diprediksi hanya tumbuh 1,2 persen pada 2003. Lebih kecil dari pertumbuhan ekonomi tahun 2002 yang sebesar 1,5 persen. Hal yang sama dihadapi China, Jepang, dan Eropa. Mundurnya PM Liz Truss, karena tak sanggup mengatasi inflasi di Inggris, menandakan ekonomi Eropa sedang menghadapi masalah serius.

Kedua, tingkat inflasi global sangat tinggi. Ini terjadi akibat gangguan rantai pasok perdagangan komoditi global. Perang Rusia-Ukraina dan ketegangan Amerika-Tiongkok di Laut Cina Selatan menjadi salah satu penyebabnya.

Ketiga, kenaikan suku bunga yang agresif di negara maju sebagai respons untuk mengendalikan tingginya inflasi, terutama di AS. BI memperkirakan suku bunga di AS masih berpotensi naik ke 4,5% pada 2022 dan mencapai 4,75% pada 2023.

Keempat, kenaikan suku bunga the Fed (Bank Sentral Amerika) yang agresif telah mendorong penguatan dolar AS. Kenaikan nilai dolar akan menyebabkan banyak negara terpuruk perekonomiannya. Karena mata uang mereka melemah. Lalu inflasi pun membubung.

Kelima adalah risiko dari persepsi investor. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor banyak mundur. Wait and see. Jika investor diam, investasi melemah, pertumbuhan ekonomi akan negatif.
Semua itu tantangan yang dihadapi Indonesia kini dan mendatang.

Tentu saja, Indonesia tidak bisa mengatasi semua tantangan tersebut. Tapi tidak berarti nihil peluang untuk mengatasi krisis ekonomi tadi. Seperti disebutkan Presiden Jokowi di atas, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut.

Pujian IMF jangan membuat kita terlena. Jadikan pujian itu sebagai pelecut agar bangsa Indonesia makin rajin bekerja. Makin kreatif. Dan makin smart. Jika itu yang kita lakukan, niscaya Semesta berpihak pada kita.

Man jadda yajid. Siapa yang berkerja sungguh-sungguh, maka ia yang mendapatkannya. Indonesia – kata Jokowi – harus bekerja keras untuk mengatasi inflasi dan resesi tersebut. Insya Allah, berkat kerja keras dan cerdas itu, semua masalah akan bisa diatasi. Mudah-mudahan!

*penulis adalah ekonom dan juga Ketua Fraksi PPP DPR RI

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini