Yogyakarta (eksplore.co.id) – Ada dua gawe yang akan dilaksanakan Induk Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) menjelang Muktamar Muhammadiyah ke – 48 di Solo Jawa Tengah untuk mengkonsolidasikan Gerakan Microfinance Muhammadiyah (GMM).

Kedua kegiatan tersebut adalah  Muhammadiyah Microfinance Summit (MMS) II 2022 dan Rapat Anggota Tahunan Induk BTM. Rencananya, Kedua acara itu akan diadakan pada 23 – 25 Juni 2022 di Batu-Malang, Jawa Timur.  Tema acara itu “Membangun Kemandirian BTM dan Muhammadiyah”.

Acara itu akan diikuti oleh sekitar 300 peserta dari kalangan BTM se-Indonesia. Sejumlah narasumber juga dihadirkan. Di antaranya;  Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan Anwar Abbas, Ketua MEK-PPM Herry Zudianto, Ketua Pusat BTM Jawa Tengah Ahmad Sakhowi, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Lainnya, anggota Komisi VI DPR – RI Abdul Hakim Bafagih, Direktur KNEKS Ahmad Juweni, Deputi Perkoperasian Kemenkop UKM; Ahmad Jabadi, Direktur LKM – OJK Suparlan, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah – Bank Indonesia; Arif Hartawan, para Direktur Lembaga Keuangan Syariah, para pakar ekonomi dan peneliti microfinance Indonesia.

Ketua Induk BTM Achmad Su’ud menjelaskan, Kamis (9/6/2022), acara Muhammadiyah Microfinance Summit merupakan kegiatan rutin Induk BTM setiap tahunnya. Tapi, akibat adanya pandemi covid–19 , tahun 2020 dan 2021 Sama sekali tidak ada kegiatan. Sementara animo jaringan BTM se-Indonesia terkait acara tersebut selalu menunggu dan menantikan forum tersebut sebagai bagian silaturahmi dan konsolidasi antar BTM.

Diselenggarakannya Muhammadiyah Microfinance Summit II 2022 oleh Induk BTM dipandang sangat strategis. Menurut Suud, hal ini tidak lepas dari berbagai isu internal dan nasional dalam pengembangan jaringan BTM di seluruh Tanah Air selama ini. Dari sisi internal, katanya, sosialisasi GMM dalam mendirikan satu Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) satu BTM tak boleh berhenti begitu saja. Sebab, keberadaan BTM sangat vital sebagai pusat keuangan Muhammadiyah di akar rumput.

“Maka dari itu Induk BTM memohon kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan kebijakan yang kongkret dalam membangun sinergi ekonomi; yaitu mendorong AUM menempatkan dananya sebesar 25 persen di seluruh jaringan BTM nasional,” kata Suud lagi.

Untuk menguatkan GMM, Suud berharap kepada Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MEK – PPM) untuk memperjuangkannya dalam sebuah keputusan Muktamar ke-48 di Solo Jawa Tengah. “Perlunya pembangunan ekonomi masyarakat berbasis BTM sebagai gerakan dakwah ekonomi,” kata Su’ud.

Dari sisi nasional di tengah kondisi makro dan mikro ekonomi dan munculnya industri digitalisasi, keberadaan BTM dengan badan usaha koperasi baik berbasis Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) membuat BTM harus berbenah dan mengikuti arus perkembangan jaman. Ditambah dengan adanya regulasi – regulasi pemerintah seperti Undang – Undang Cipta Kerja dan Rancangan Undang – Undang Koperasi membuat BTM bisa mensikapinya dengan bijak dalam rangka membangun ekonomi yang berkemajuan tanpa menanggalkan konstitusi. “Semua itu akan dibahas di Muhammadiyah Microfinance Summit II 2022,”ujar Su’ud.

Sementara itu, Ketua MEK–PPM Herry Zudianto menyambut positif acara di kota Batu Malang tersebut. Dia berharap kesuksesan BTM sebagai pusat dan closed loop economy Muhammadiyah tersebut bisa menjadi role model dan inspirasi bagi PDM–PDM yang selama ini belum memiliki BTM.

“Saya rasa BTM adalah salah satu Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) yang sangat jelas tujuan dan manfaatnya serta hubungannya dengan Muhammadiyah maka perlu base practice-nya yang banyak menuai kesuksesan itu untuk diketahui dan menjadi miniatur closed loop economy Muhammadiyah,” tandas Herry. (bS)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini