SETIAP awal Oktober, saya selalu teringat peristiwa penculikan Kolonel Katamso di Yogyakarta. Saya adalah saksi hidup peristiwa tersebut.

Saat itu, awal Oktober 1965, Yogya mencekam. Dua petinggi militer di Korem 72 Pamungkas — Kol. Katamso dan Letkol. Sugiyono hilang. Bayangkan kedua orang ini, adalah dua perwira tertinggi di Korem 72 Pamungkas yang wilayah kekuasaannya meliputu eks. Karesidenan Yogyakarta dan eks. Karesidensn Kedu. Tak ada orang yang tahu ke mana kedua pucuk pimpinan militer tertinggi di Yogya itu pergi.

Saya (mahasiswa IAIN Yogya) yang saat itu, 1 Oktober 1965, berada di depan rumah dinas Kol. Katamso (Jl. Jenderal Sudirman No. 48 Yogya) melihat Komandan Korem 072 itu “dibawa paksa” oleh sejumlah tentara dari rumahnya.

Kol. Katamso diculik anggota PKI, pikir saya ketika mengetahui Komandan Korem itu tak bisa berbuat apa-apa. Danrem dipaksa naik mobil jip Gaz dengan dikelilingi beberapa tentara yang bermuka sangar dan kasar.

Saya dari IAIN dan Ahmad Dahani dari UGM datang ke rumah dinas Kol. Katamso Darmokusumo karena diutus HMI Cabang Yogya untuk menemui Komandan Korem 072 Pamungkas tersebut. Saya dan Ahmad Dahani oleh HMI diminta untuk menanyakan situasi keamanan Yogyakarta akibat peristiwa pemberontakan 30 September 1965 yang didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Beberapa catatan pertanyaan sudah kami siapkan. Kami akan bertanya kepada Kol. Katamso, kenapa tentara tidak membekuk PKI yang jelas-jelas anti Pancasila dan anti Tuhan? Kenapa PKI membunuh kyai dan tokoh-tokoh agama di wilayah yang partai komunisnya kuat seperti Madiun, Kartosuro, dan Boyolali?

Sore hari menjelang pukul lima 1 Oktober 1965, saya dan Ahmad Dahani sudah berada di depan Bank BTN, seberang kediaman Kol. Katamso. Sampai di depan rumah Pak Katamso, kami dicegat tentara.

“Saudara mau ke mana?” Tanya tentara yg kemungkinan ajudan Kol. Katamso.
“Saya mau bertemu Kol. Katamso. Beliau sudah janji menerima kami berdua di rumah,” jawab saya.

“Bapak tidak terima tamu. Saudara tentu tahu situasi ini,” kata tentara tesebut.

Mendapat penjelasan ajudan itu, saya dan Ahmad Dahani mundur, kembali ke seberang jalan. Saya mengamati ada apa di rumah Kol. Katamso.

Tiba-tiba beberapa menit kemudian, masuk sebuah mobil jip Gaz warna hijau tentara ke halaman rumah komandan Korem. Saya melihat dari balik pagar, Pak Katamso keluar rumah dan langsung duduk di samping sopir mobil Gaz buatan Rusia itu. Jip Gaz langsung meluncur membawa Kol. Katamso entah ke mana, dikawal enam tentara bersenjata lengkap di bagian belakang mobil. Mereka duduk berhadap-hadapan di belakang Pak Katamso yang waktu itu memakai baju hem putih dan celana hijau tentara. Melihat peristiwa itu, kami tertegun. Ada apa ini? Pasti akan ada peristiwa besar di Yogya, batin saya.

Dengan pikiran berkecamuk, kami langsung pulang ke kantor cabang HMI, yang saat itu berada di rumah Sugiat, mahasiswa kedokteran UGM. Sugiat (kelak jadi pimpinan RS Islam Cempaka Putih) kaget luar biasa.

“Ini pasti masalah besar. Tidak mungkin seorang kolonel, apalagi Danrem 072 yang menguasai teritori DIY dan Kedu pergi dengan pakaian sipil sendirian tanpa ajudan. Untuk apa pula enam tentara bersenjata lengkap berada di belakang sopir jip Gaz yang membawa Kol. Katamso?” Ujar Sugiat. Benar firasat kami. Ternyata Kol. Katamso diculik, lalu dibunuh.

Latar belakang tindak kekerasan yang terjadi di Yogyakarta, pada 1 Oktober 1965 adalah sama dengan yang terjadi di Jakarta, yakni bagian dari upaya pengambilalihan kekuasaan oleh PKI yang didahului dengan penculikan dan pembunuhan.

Kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 di Yogyakarta menimpa Kolonel Katamso dan Letkol Soegiyono, masing-masing sebagai Danrem dan Kasrem 72. Para penculik adalah kalangan AD sendiri, dipimpin Mayor Mulyono, Kasi Korem 72. Setelah melakukan penculikan terhadap kedua atasannya itu, Mulyono mengumumkan dukungannya terhadap “G 30 S/PKI” dan mengambilalih pimpinan Korem 72 Yogyakarta.

Dua eksekutor, Peltu Sumardi dan Serma Kandar membawa Kol. Katamso ke suatu tempat yang tersembunyi, yang belakangan diketahui sebagai Mako Yon L di Kentungan Sleman. Menurut saksi mata dari AD, yakni Serka Suwarno dan Kopda Sugiyono di Pengadilan Militer, mereka mendengar suara pukulan keras sebanyak empat kali. Setelah pukulan pertama terdengar suara rintihan kesakitan. Suara ini kemudian lenyap setelah dilanjutkan pukulan tiga kali berturut-turut. Dilihatnya, tempat pemukulan berada di lingkungan Markas Yon L. Di dekat tempat itu ada 6 orang sedang berdiri dan dua orang sedang duduk di dekat pohon pisang.

Di tempat gundukan tanah yang ditanam pohon pisang tersebut, setelah digali, kemudian ditemukan dua jenazah. Setelah diidentifikasi, diketahui, dua mayat itu adalah jasad Kol. Katamso dan Letkol. Sugiyono yang diculik sebelumnya. Tetesan darah dan sobekan baju putih ditemukan di tembok dekat suara pemukulan. Temuan ini mengindikasikan telah terjadi penganiayaan berat terhadap Kol. Katamso dan Letkol Sugiono sebelum dibunuh.

Jenazah kedua perwira menengah AD itu dalam keadaan ditanam di bawah pohon pisang. Apakah ditanam hidup-hidup ataukah dibunuh dulu baru ditanam, tidak ada saksi yang memperkuat dugaan tersebut. Namun dugaan terjadinya penganiayaan berat sebelum dilakukan pembunuhan sudah hampir pasti.

Penggalian jenazahnya sendiri baru dilaksanakan tanggal 20 Oktober 1965. Lama kedua petinggi militer ini dinyatakan hilang. Baru tiga pekan kemudian, lokasi mayatnya ditemukan. Di bawah tanaman pohon pisang yang layu.

*Dr. KH Amidhan Shaberah, ulama, mantan
Komisioner Komnas HAM (2002-2007)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini