PROSPEK ekonomi biru makin moncer. Betapa tidak! Dalam ASEAN Blue Economy Forum 2023 di Belitung (2-4 Juli) terungkap bahwa samudera dan lautan di Asia Tenggara akan menjadi tumpuan pengembangan ekonomi masa depan.

Blue economy memiliki potensi besar di ASEAN karena lebih dari 66 persen area di wilayah Asia Tenggara adalah samudra dan lautan. Tidak diragukan lagi, blue economy memiliki pitensi untuk menjadi mesin baru bagi pembangunan ASEAN,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Senen (3/7) lalu. Ekonomi biru, lanjut Suharso, sangat potensial menjadi sumber pangan, mata pencaharian, hingga penyedia air bagi ratusan juta masyarakat paling rentan di dunia. Per-tahunnya ekonomi biru mampu menghasilkan 3-6 triliun dolar AS dan membuka lapangan kerja 260 juta orang di dunia.

Terrestrial and Marine Ecosystem

Melihat kebutuhan manusia modern yang sangat tinggi akan sandang, pangan, perumahan, transportasi, energi, farmasi, kosmetik, mineral, logam, dan lain-lain – terrestrial ecosystem (daratan) tak akan mampu lagi memenuhinya di masa datang. Hal ini terjadi akibat tingginya konversi ekosistem hutan dan lahan pertanian menjadi land use lain (kawasan pemukiman, perkotaan, industri, infrastruktur); pencemaran; berkurangnya keanekaragaman jenis (biodiversity loss), kerusakan lingkungan, dan meningkatnya suhu bumi (global warming). Semua ini menjadikan daratan “makin rentan dan lemah.” Maka, mau tidak mampu, untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus memanfaatkan marine ecosystem.

Kita tahu 72 persen permukaan bumi adalah lautan. Dan saat ini, pemanfaatan marine ecosystem jauh lebih rendah dari pemanfaatan terrestrial ecosystem. Berdasarkan riset mutakhir, kekayaan yang tersimpan di laut tidak hanya berbagai macam ikan dan mutiara, tapi juga energi (migas) dan bahan tambang lain. Sebagian besar cadangan migas berada di lautan. Belum lagi bahan tambang lain, di dasar lautan jumlahnya melimpah.

Bagi Indonesia, negeri kepulauan yang 77 persen wilayahnya adalah lautan, potensi ekonomi marine ecosystem-nya jelas sangat besar. Menurut catatan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, Guru Besar Ilmu Kelautan IPB Bogor (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan) wilayah pesisir dan laut Indonesia mengandung potensi ekonomi berupa sumberdaya alam (SDA) terbarukan, SDA tidak terbarukan, dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang luar biasa besar. Potensi ekonominya mencapai 1,4 triliun dolar AS (Rp 1500 triliun) pertahun dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi sedikitnya 45 juta orang (30% total angkatan kerja).

Blue economy yang potensi nilai ekonominya 1,4 triliun dolar AS pertahun itu, lanjut Rokhmin Dahuri, dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sekitar 7 persen pertahun; kemudian banyak menyerap tenaga kerja, mengurangi ketimpangan ekonomi, mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah, dan memperkuat kedaulatan pangan, energi, farmasi, dan mineral.

“Secara geoekonomi dan geopolitik, letak Indonesia sangat strategis, dimana sekitar 45% total barang yang diperdagangkan di dunia dengan nilai ekonomi rata-rata 15 trilyun dolar AS pertahun dikapalkan melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2016),” jelas Rokhmin.

Selat Malaka, sambungnya, sebagai bagian dari ALKI-1 (Alur Laut Kepulauan Indonesia-1) merupakan jalur transportasi laut terpendek yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. Ia menghubungkan raksasa-raksasa ekonomi dunia, termasuk India, Timur -Tengah, Eropa, dan Afrika di belahan Barat dengan China, Korea Selatan, dan Jepang di belahan Timur.

ALKI-1 melayani pengangkutan sekitar 80% total minyak mentah yang memasok Kawasan Asia Timur dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Jumlah kapal yang melintasi ALKI-1 mencapai 100.000 kapal/tahun. Sementara, Terusan Suez dan Terusan Panama masing-masing hanya dilewati oleh 18.800 dan 10.000 kapal per tahun (Calamur, 2017). Pendapatan Otoritas Terusan Suez mencapai rata-rata Rp 220 miliar/hari atau Rp 80,7 triliun/tahun.

“Malangnya, sampai sekarang, Indonesia belum menikmati keuntungan ekonomi secuil pun dari fungsi laut NKRI sebagai jalur transportasi utama global tersebut,” ujar anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Lautan, Universitas Bremen, Jerman itu.

Selain itu, perairan laut Indonesia merupakan habitat ikan tuna terbesar di dunia (the world tuna belt), memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi, dan potensi produksi lestari (MSY = Maximum Sustainable Yield) ikan laut terbesar di dunia, sekitar 12 juta ton/tahun (13,3% total MSY ikan laut dunia) (Dahuri, 2004; KKP, 2021; dan FAO, 2022).

Sebagai bagian utama dari ‘the World Ocean Conveyor Belt’ (Aliran Arus Laut Dunia) dan terletak di Khatulistiwa, Indonesia secara klimatologis merupakan pusat pengatur iklim global, termasuk dinamika El-Nino dan La-Nina (NOAA, 1998).

Kondisi oseanografi, geomorfologi, dan klimatologi NKRI menjadikan Indonesia sebagai pusatnya energi kelautan dunia yang terbarukan (renewable), seperti arus laut, pasang surut, gelombang, dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) yang potensinya mencapai 10.000 megawatts (baca:sampai sekarang baru dimanfaatkan kurang dari 5 persen).

Dari gambaran tersebut, betapa besarnya potensi ekonomi dari marine ecosystem di Indonesia. ASEAN Blue Economy Forum 2023 di Belitung, kembali mengingatkan kita bangsa Indonesia, betapa kayanya ekonomi bahari yang ada di Nusantara. Dengan mengaktualkan potensi ekonomi bahari (marine ecosystem), visi Indonesia Emas 2045, niscaya akan mudah dicapai. Bravo!

*Dr. H.M. Amir Uskara adalah ekonom,  Ketua Fraksi PPP DPR RI

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini