Oleh H.M. Amir Uskara*

OKTOBER dan November 2021, Indonesia lega. Pasalnya, grafik kasus positif infeksi Covid-19 melandai.

Strategi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk membendung penyebaran covid dianggap berhasil. Bahkan dunia internasional mengakui efektivitas strategi PPKM tersebut. Sejumlah negara di dunia berniat meniru strategi PPKM tadi.

Presiden Jokowi mendapat pujian dunia internasional atas keberhasilan mengatasi pandemi. Bahkan Presiden AS, Joe Biden mengucapkan selamat kepada Presiden Jokowi secara khusus karena keberhasilan mengatasi pandemi dan pertumbuhan ekonomi.

Tapi betulkah Indonesia sudah berhasil mengatasi pandemi? Pertanyaan ini penting, untuk mengingatkan kita, bahwa pandemi sebetulnya belum selesai. Ancaman masih menghadang di tengah jalan. Lengah sedikit, grafik landai pandemi tadi bisa naik kembali. Ini artinya jumlah penderita covid kembali meningkat.

Mungkinkah hal itu terjadi? Sangat mungkin. Bukan hanya karena virus covid “pandai” bersembunyi dari deteksi elektronik dan reagen. Tapi juga, “tampak sehatnya” seseorang tidak serta merta ia minus virus.

Saat ini, orang tanpa gejala (OTG) masih banyak yang “lalu lalang” di tengah kita. Padahal lebih dari 50 persen kasus positif di Indonesia akibat tertular kaum OTG. Kondisi ini, masih ditambah lagi dengan banyaknya orang yang belum divaksin. Hingga Selasa (9/11), vaksinasi dosis pertama baru mencapai 60,72 persen. Sedangkan vaksinasi dosis kedua baru 38,45 persen. Masih jauh dari harapan mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Herd community, dicapai ketika tingkat vaksinasi mencapai 70 sampai 80 persen populasi. Itu pun kita tidak boleh lengah, terutama dalam mengikuti protokol kesehatan (Prokes). Negara-negara yang tingkat vaksinasinya telah mencapai lebih dari 70 persen seperti Singapura, Amerika Serikat, Inggris dan Jerman kini dilanda gelombang covid lagi (yang luar biasa) karena rakyatnya mengabaikan Prokes.

Jerman, misalnya, yang sebelum Mei 2021 dianggap berhasil mengatasi penularan covid, kini kewalahan menghadapi cepatnya penyebaran virus. Terutama setelah menyebarnya mutan virus Delta.

Kasus positif di Jerman pekan kedua November 2021, misalnya, mencapai hampir 50.000 setiap hari. Jerman kini memasuki gelombang keempat Covid-19, di mana varian delta menyebar cepat saat cuaca semakin dingin. Hal yang nyaris sama terjadi di Inggris, Rusia, dan Amerika.

Robert Koch Institute, mencatat jumlah total kasus positif di Jerman saat ini telah mencapai 4,89 juta dan jumlah kematian mencapai 97.198. Data tersebut mengkhawatirkan para pejabat dan pakar kesehatan di sana.

Ahli virologi Jerman terkemuka Christian Drosten menyerukan tindakan segera untuk mengatasi gelombang pandemi keempat di negeri panser. Ia memperingatkan, jika Jerman tak segera mengatasi gelombang pandemi keempat secara serius, negeri ini akan menyaksikan 100.000 kasus kematian akibat virus Delta dalam waktu dekat.

WHO (Badan Kesehatan PBB) memperingatkan negara-negara di dunia agar mewaspadai munculnya gelombang baru infeksi Covid-19 di Eropa. Sebab sejumlah negara di “benua biru” sedang mengalami lonjakan infeksi di musim dingin.

Saat ini, jumlah kasus positif melonjak, terutama di Eropa timur. Virus menyebar lebih cepat di bulan-bulan musim dingin saat banyak orang berkumpul di dalam ruangan untuk merayakan Natal. Kepala regional WHO Eropa, Hans Kluge memperingatkan, kemungkinan akan ada 500 ribu kematian di benua biru pada Februari 2022 mendatang.

Semua itu harus kita perhatikan mengingat betapa mudahnya virus covid ‘terbang’ dari satu tempat ke tempat lainnya. Apalagi bagi kita di Indonesia — kondisi lingkungan terdekat sedang zona merah.

Ya, kini dua negara terdekat Indonesia — Singapura dan Malaysia — tengah menghadapi ledakan infeksi covid. Ini di luar prediksi para ahli kesehatan di Asia Tenggara.

Mei 2021 misalnya — saat mana Indonesia tengah berjuang keras mengatasi kecepatan pandemi — Singapura justru sukses menyetop penyebaran covid. Di Mei 2021, kasus positif di Singapura nyaris nol.

Tapi kini? Kasus harian Covid-19 Singapura menembus rekor baru. Rabu (27/10/2021), negeri itu mencatat 5.000 kasus tambahan untuk pertama kalinya. Mengutip Kementerian Kesehatan (MOH), pada hari itu ada 5.324 kasus baru dengan tambahan 10 kematian. Ini merupakan rekor sejak gelombang baru Covid-19 menyerang negeri itu akhir Agustus 2021.

Angka infeksi ini luar biasa tinggi untuk negeri sekecil Singapura yang berpenduduk hanya 5,6 juta itu. MOH melihat lonjakan infeksi covid yang ‘tak biasa’ ini dalam waktu singkat. Singapura mulai kekurangan kamar rawat di rumah-rumah sakitnya akibat lonjakan kasus positif. Tingkat pemakaian kamar saat ini sudah mencapai 80 persen. Ini artinya, lonjakan kasus positif di Negeri Singa luar biasa. Hal yang nyaris sama terjadi di Malaysia – dua negeri terdekat dengan Indonesia.

Melihat lonjakan kasus positif di Singapura dan Malaysia – Indonesia harus waspada. Pakar epidemiologi UGM Dr. Riris Andono mengatakan bahwa gelombang ketiga Covid-19 merupakan sesuatu yang pasti terjadi. Namun kapan waktu terjadinya dan seberapa tinggi kasus yang akan terjadi, sangat tergantung pada situasi di masyarakat.

Melihat laporan perkembangan jumlah kasus Covid-19 sepekan ke belakang, jumlah pasien baru di Indonesia masih di bawah 1.000 kasus per hari. Pada 1 November 2021, pemerintah melaporkan terdapat 403 orang yang terinfeksi, 784 orang sembuh dan 18 meninggal. Kasus itu meningkat pada 2 November 2021, menjadi 612 kasus dan pasien sembuh sebanyak 868, sementara 34 orang meninggal.

Kasus kembali meningkat pada 3 November 2021 dengan 801 orang terinfeksi, sementara 814 orang sembuh dan 24 meninggal. Pada hari berikutnya, jumlah kasus menurun menjadi 628 orang terinfeksi, dan 837 sembuh sementara 19 orang meninggal. Kasus kembali menurun pada 5 November 2021 dengan 518 kasus baru, 648 sembuh dan 19 meninggal.

Betul kondisinya masih turun naik. Tapi, jika kita lalai menerapkan Prokes standar (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan), bukan tidak mungkin gelombang ketiga akan segera datang. Apalagi dalam waktu dekat akan datang perayaan Hari Natal dan tahun baru 2022.

Kita ingat, pemerintah gagal mengantisipasi gelombang mudik Idul Fitri Mei 2021 lalu. Dampaknya bulan Juli 2021 kasus positif melonjak luar biasa sampai mencapai angka harian 50.000 lebih dengan jumlah kematian menyentuh angka 1200 perhari.

Cukup “kengerian” pandemi itu terjadi di bulan Juli 2021 lalu saja. Jangan sampai terulang. Pemerintah harus mampu mengantisipasi gelombang mudik Natal dan tahun baru 2022, dengan cara apa pun. Supaya gelombang ketiga pandemi dapat diredam.

*anggota DPR RI/Ketua Fraksi PPP DPR RI

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini