oleh Prof. Dr. Musa Asy’arie*

BEBERAPA waktu lalu, polisi di Jakarta pernah merazia pengemis yang di kantongnya menyimpan uang puluhan juta rupiah. Sementara itu, ada sebuah desa di Jawa terkenal sebagai kampung pengemis. Di desa tersebut banyak rumah “mewah” milik para pengemis.

Dari fenomena tersebut, rupanya, mengemis telah menjadi profesi. Mereka lebih suka menjadi pengemis ketimbang bekerja di pabrik atau berdagang. Karena penghasilan mengemis lebih besar dari bekerja di pabrik.

Mengemis, secara etis bermasalah. Karena mengemis bukan pekerjaan dan merendahkan derajat pelakunya. Karena itu, banyak orang — meski miskin dan sengsara hidupnya — pantang mengemis demi tegaknya harga diri. Namun tidak bisa dipungkiri, tak sedikit orang yang tidak pantas mengemis, kenyataannya mengemis. Tanpa malu. Ia menjatuhkan harga dirinya demi uang semata.

Lalu, bagaimana kondisi seseorang yang tidak pantas mengemis? Rasulullah menyatakan, bila seseorang masih mempunyai makanan untuk pagi dan sore di hari itu, ia terlarang mengemis (riwayat Abu Dawud).

Dari gambaran tersebut, umat Islam dan masyarakat pada umumnya harus bekerja. Terlarang meminta-minta. Karena orang yang meminta-minta atau mengemis, kehormatannya turun. Martabatnya rendah.

Secara etis, manusia yang sehat dan mampu harus bekerja agar mandiri. Tidak boleh menggantungkan diri kepada belas kasihan orang lain. Dengan demikian, bekerja adalah bentuk tanggung-jawab etis manusia dalam rangka mendeklarasikan kemandirian dan kemerdekaannya.

Pekerjaan adalah suatu kemuliaan, kehormatan dan harga diri. Seorang yang mempunyai pekerjaan adalah bermartabat, berguna dan dimuliakan, dihormati dan mempunyai harga diri. Nabi Muhammad lebih menyukai orang yang telapak tangannya kasar karena bekerja keras dari pada orang yang hanya duduk berdoa saja.

Melihat kondisi saat ini, di mana kemiskinan menyeruak di mana-mana, maka amalan terbaik adalah memberi pekerjaan. Jangan berpikir memberi pekerjaan kepada orang miskin adalah memberi sesuatu dengan modal besar.

Banyak pekerjaan sederhana yang bisa ditangani orang miskin dengan modal kecil. Seperti pedagang kaki lima, angkringan, petani sayur-sayuran (timun, kangkung, tomat, buncis, selada, oyong, dan pare). Menanam sayur-sayuran semacam itu sudah bisa panen dalam 30 atau 45 hari saja. Dan keuntungannya cukup besar. Begitu pula dengan ternak unggas dan ikan lele. Modalnya kecil dan cepat panen.

Dari perspektif etika keagamaan, memberi pekerjaan sebagai sedekah adalah kemuliaan. Memberi sedekah pekerjaan lebih baik daripada memberi sedekah uang.

Bahkan memberi sedekah dalam bentuk merintis usaha baru atau bisnis kecil, bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya tidak akan habis selama wong cilik tersebut survive dan terlepas dari kemiskinannya. Dengan demikian, membangun bisnis kecil untuk wong cilik yang sengsara akan berdampak sangat besar dalam mengurangi kemiskinan.

Dari wacana inilah, kita perlu memupuk semangat dalam membuka usaha atau bisnis baru untuk mentransformasi sedekah. Berapa pun usia seseorang, sepanjang masih diberi kekuatan untuk tetap produktif, bantulah dengan memberi pekerjaan atau mendirikan usaha baru. Ini karena, membuka usaha baru adalah membuka peluang pekerjaan.

Itulah sebabnya negara, organisasi sosial dan agama (di Indonesia khususnya dan dunia umumnya), perlu mengampanyekan sekaligus menerapkan konsep sedekah pekerjaan atau usaha baru ketimbang sedekah uang.

Sedekah pekerjaan akan membuat penerima sedekah menjadi orang mandiri dan punya harga diri. Dia punya peran untuk membangun dunia dan menyejahterakan manusia, sekecil apa pun.

*Prof. Dr. Musa Asy’arie,
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogya (2010-2014)/Guru Besar Emeritus Universitas Muhammadiyah Surakarta

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini