BERMULA dari keinginan ibu mertuaku, kami memanggilnya Emak, untuk pergi haji. Beliau menanam pohon karet untuk dijual. Kebunnya di OKI Sumatera Selatan, kampung istri. Uang penjualan akan digunakan untuk mendaftar haji. Waktu pohon umur 2 tahun mulai ditawar-tawarkan kepada siapa saja. Terlintas dalam pikiranku, kenapa gak kubeli saja. Setelah rundingan dengan istri, akhirnya sepakat kebun itu kami beli. Bertahap, sesuai tahapan pembayaran biaya haji. Kakak ipar mendaftar lewat biro bimbingan haji Daarul Fataa di Tebet Jakarta Selatan. Milik KH Sholeh Romli.

Lalu muncul ide, kenapa gak ayah sekalian didaftarkan. Maksudnya ayah mertua. Kusuruh istri untuk telepon ayah. Mau saja katanya.

Ternyata emak marah. Dia gak mau pergi haji dengan ayah. Keberatan emak karena sudah puluhan tahun ayah “meninggalkan” emak. Lebih banyak di istri muda. Jadi emak merasa tidak punya suami. Sudah dianggap talak. Ipar – ipar ku juga gak setuju. Ngapain nyuruh ayah pergi haji, sholat saja tidak. Kujawab dengan enteng, nanti pulang haji jadi rajin sholat. Semua terdiam. Lanjut. Ayah akan kudaftarkan haji.

Emak protes lagi. Memaksa istriku utk ikut haji. Dia gak mau berdua dengan ayah. Karena merasa sudah puluhan tahun tidak dinafkahi, jadi merasa bukan suami istri. Ini aneh. Kok istriku yang dipaksa nemani. Kenapa bukan kakak kakak ipar. Ada 3 kakak perempuan. Dan kami bukan yang paling mampu. Tapi ya sudah, daftar saja. Ngawur. Gak pakai kalkulator.

Suatu sore, sepulang dari kantor aku ke Daarul Fataa Tebet mengantar istri untuk mendaftar haji. Kami ditemui KH Sholeh Romli. Terjadi dialog,
KH Sholeh Romli: “Mas, kenapa gak mendaftar sekalian?”.
Saya: “belum siap ustadz”
KH Sholeh Romli: “belum siap apanya. Toh berangkat nya masih lama”.
Saya: “anak – anak masih kecil”.
KH Sholeh Romli: “justru masih kecil ditinggal gak papa”.
Saya : “ini daftar 3 saja gak tahu nanti bayarnya bagaimana. Apalagi 4. Berat”.
KH Sholeh Romli: “Mas, rejeki dari Allah, apa tahu besok punya uang berapa. Dapat rejeki berapa. Semua dari Allah. Allah yang ngatur.”.
Mulai judeg cari alasan.
Saya :”saya mau ganti mobil dulu ustadz”.
KH Sholeh Romli : “besok ke sini mobilnya sudah baru”.
Judeg full. Kehabisan kata – kata. Gak ada alasan lagi. Akhirnya tanda tangan form mendaftar haji. Waktu pulang di tol sambil nyetir saya terbahak-bahak. Kok bisa ndaftar haji tanpa rencana.

Berikutnya kami sering manasik. Terutama emak yang semangat dan punya inisiatif pergi haji. Emak mondar-mandir Palembang – Jakarta. Ayah tidak pernah ikut manasik.

Dua tahun kemudian datang pemberitahuan untuk segera berangkat. Masyaallah. Bingung. Istri sampai menangis. Bagaimana cara membayarnya. Biaya haji 4 orang bukan sedikit. Aku hanya karyawan biasa.

Hari – hari berlalu seperti biasa. Kerja. Gajian. Diusahakan nabung maksimal. Alhamdulillah ipar – ipar bergotong-royong sehingga terkumpul biaya untuk melunasi. Tibalah waktunya pelunasan. Saya dengan istri ke Daarul Fataa. Begitu saya masuk, ustadz langsung nunjuk mobilku “apa kata saya, besok ke sini mobilnya baru”. Cuma bisa bengong. Ustadz cerdas, masih ingat kata-kata yang diucapkannya dua tahun lalu.

Kami harus suntik maningitis. Itu syarat wajib. Tapi ayah gak mau. Entah kenapa. Percakapan lewat telepon, istriku bilang kalau gak mau suntik, gak bisa masuk ke Arab. Ayah bilang gak papa. Di kemudian hari terbukti, ayah gak bisa berangkat bareng kami.

Seminggu sebelum keberangkatan kami sudah mulai berkemas. Koper, tas ukuran sedang yang masuk kabin, tas pinggang, baju seragam, kain ihram, buku2, paspor, sudah kami terima. Sandal, baju, obat obatan, toiletris sudah masuk tas. Siap angkat. Ayah pun sudah tiba di Jakarta dan sudah suntik manginitis. Tapi…. 4 hari menjelang berangkat ayah kena struk.!!! Dirawat di RS. Agak parah karena cacat permanen. Malam sebelum berangkat kami ke RS untuk pamit. Ayah menangis tersedu sedu. Kata istri, itu pertama kali lihat ayah menangis.

Tiba hari H, berangkatlah kami. Alhamdulillah selalu dekat dengan ustadz KH Sholeh Romli. Jadi serasa VIP. Di pesawat Boeing 747 kami di kabin atas. Kursi-kursinya besar.

Karena kloter awal, ke Madinah dulu. Kami bertiga satu kamar di hotel. Emak, saya & istri. Jarak hotel hampir 2 km. PP 4 km. Saking semangatnya, Emak ingin dapat arba’in. 40 waktu sholat selalu jamaah di masjid Nabawi. Sehari 3 kali ke masjid. Subuh, dhuhur & ashar, setelah Isyak baru pulang ke hotel. Berarti sehari 3 x 4 km 12 km. Hari ke 3 emak tumbang. Kakinya sakit. Lalu saya beli kursi roda di apotek. Hari – hari selanjutnya Emak kudorong di kursi roda.

Subuh di hari ke 3, sebelum adzan sudah di mesjid Nabawi. Sambil menunggu waktu adzan aku dzikir. Posisi di shof agak belakang. Menunduk. Merem. Ada pria berperawakan tinggi sholat di sebelah kanan. Berbaju moderen seperti orang kantoran. Baju hem biru muda & celana biru tua. Mirip seragam kantorku. Bertampang Arab. Ketika tahiyat, pundak kirinya nempel di pundak kananku. Lalu berdiri sambil membetulkan sajadah, digeser sedikit ke kanan. Sholat lagi. Saya masih tetap dzikir sambil merem. Ketika orang itu tahiyat, bahunya sudah nempel di bahuku. Lalu menggeser sajadah ke kanan & sholat lagi. Entah berapa kali seperti itu. Lama -ama ngeh juga. Kok selalu menggeser sajadah ke kanan setelah salam. Kuperhatikan orang itu sholatnya. Ternyata ketika ruku’, sajadah geser sedikit ke kiri. Sujud juga begitu. Setiap dia gerak, sajadah geser sedikit ke kiri. Waduh.!!! Mahluk apa ini. Jangan-jangan bukan manusia. Belum hilang kebingunganku, terdengar qomat. Kubergegas ke shof depan untuk sholat subuh.

Hari berikutnya, setelah sholat magrib saya dzikir sambil nunduk. Merem. Terdengar suara orang banyak ngaji. Baca Qur’an bareng. Kutengok ke kanan hanya ada satu orang baca Qur’an. Suara orang banyak hilang. Hanya ada suara satu orang. Kulanjutkan dzikir, merem, suara orang banyak kembali terdengar. Waduh, mungkin itu jin dan malaikat sedang mengiringi orang itu ngaji.

Hari-hari berikutnya city tour, belanja oleh-oleh, ziarah, sholat jamaah di masjid Nabawi.

Tibalah saatnya kami geser ke Mekah. Dengan bus. Di kota Bir Ali kami miqot. Niat haji dan mengganti pakaian dengan kain ihram.

Sampai di Mekah ibadah umroh. Hari – hari berikutnya ibadah rutin, sholat di Masjidil Haram. Aku dan istri punya sandal yang merek dan jenisnya sama. Hanya beda ukuran. Beli di Jakarta sebelum berangkat. Suatu ketika kami berdua mau sholat di Masjidil Haram. Karena buru – buru sandal kulempar di bawah rak tempat sandal. Istri hati – hati. Sandal ditaruh rak agak tersembunyi. Takut hilang. Selesai sholat kami mau balik ke hotel, sandalku langsung ketemu. Sandal istri hilang. Ketakutan akan kehilangan menjadi kenyataan. Harusnya ikhlas saja.

Selama di Mekah kami umroh 5 kali. Pindah – pindah miqot sambil city tour. Kursi roda selalu siap untuk Emak. Terutama towaf dan sa’i. Juga waktu wukuf di Arafah dan yang seru dorong kursi roda lewat terowongan Mina mau lempar jumroh. Seru karena cukup jauh dan menanjak. Ngos – ngosan juga. Alhamdulillah lancar sampai selesai semua rukun haji.

Tibalah hari menjelang kepulangan. Jumat pagi, dua hari menjelang pulang, aku & istri mau sholat Jumat di Masjidil Haram. Emak di hotel saja. Kami berdua berangkat jam 10 supaya dapat tempat. Ternyata sudah penuh jamaah. Terpaksa di luar. Di bangunan yang belum jadi. 2012 Masjidil Haram sedang direnovasi besar-besaran. Itupun berdesakan. Selesai sholat kami cari makan. Uang tinggal 10 riyal. Hanya cukup untuk makan nasi beriyani dua porsi tanpa lauk. Waktu kami terima dari penjual, orang Bangladesh yang bisa bahasa Indonesia, sudah dicek nasi bungkus tanpa ayam. Lalu kami bawa ke serambi Masjidil Haram. Waktu kubuka untuk dimakan, ternyata ada ayam goreng.!!! Setengah teriak kusuruh istri untuk membuka bungkus ke dua. Ternyata ada ayam juga !!!. Ajaib. Tadi pesan tanpa ayam dan sudah dicek betul tanpa ayam. Ya sudah Alhamdulillah.

Karena hari terakhir, kupuas -puaskan di dekat Ka’bah. Sampai sholat Isyak. Besoknya kami menuju Jeddah dan pulang ke tanah air.

Moral cerita ini yang ingin disampaikan adalah, Emak yang menginspirasi. Walaupun tidak punya ijazah formal, tapi berani punya cita-cita pergi haji dan tahu bagaimana harus mencapainya.

Bantul, 22 Juli 2023

*Purwanto SP Wijoyo, tinggal di Bantul. Hobi ngepit alias gowes. Lulusan Teknik Sipil FT UI. Lama bekerja di PT (Persero) Brantas Abipraya, bertugas di seluruh Indonesia. Kini menjadi developer di Bantul, Yogya.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini